Mengapa Korban Child Grooming Tetap Bertahan meski Sudah Disakiti?
ilustrasi anak dan orang dewasa. Child grooming kerap bermula dari perhatian yang tampak peduli, tetapi dapat menjadi manipulasi berbahaya yang meninggalkan luka jangka panjang pada anak.(Freepik)
12:10
20 Januari 2026

Mengapa Korban Child Grooming Tetap Bertahan meski Sudah Disakiti?

- Dalam banyak kasus child grooming dan kekerasan, publik kerap bertanya mengapa korban tetap bertahan meski sudah disakiti?

Psikolog klinis dan Co-Founder KALM, Karina Negara menjelaskan, bertahannya korban bukan karena tidak sadar, melainkan karena berada dalam tekanan psikologis yang kuat.

Karina mencontohkan hal tersebut melalui buku Broken Strings karya Aurelie Moremans. Menurutnya, Aurelie tidak bertahan karena cinta, melainkan karena rasa takut.

“Kalau kejadiannya Aurelie menurut aku dia bukan cinta mati. Dia justru stay-nya tuh karena takut,” kata Karina dalam sesi live talkshow Edukasi Child Grooming dan Dukungan Mental, Senin (19/1/2026).

Mendapat ancaman

Ia menjelaskan bahwa pada awalnya ada korban yang bisa saja bertahan karena merasa disayang. Namun, seiring waktu, alasan itu berubah.

“Awalnya stay karena merasa disayang. Tapi lama-lama stay karena takut,” ujarnya.

Dalam kisah Aurelie, rasa takut itu dapat diperkuat oleh ancaman yang diberikan oleh pelaku terhadap korban dan orang di sekitarnya.

“Dia kan diancam nanti orangtuanya dibunuh. Jadi ya dia stay gitu bukan karena cinta. Coba aja baca bukunya, dia takut,” kata Karina.

Karina menilai, dari luar orang sering menganggap keputusan korban sangat mudah. Padahal, bagi korban, ketakutan tersebut sangat nyata.

Pelaku tidak selalu terlihat jahat

Di luar buku Broken Strings, Karina menjelaskan, banyak korban juga sering bertahan karena masih berpegang pada sisi baik pelaku.

“Kan penjahat ini enggak 100 persen jahat, enggak selalu jahat, enggak 24 jam selama tujuh hari dia jahat,” ucapnya.

“Pelakunya kadang dia baik, kadang dia manis, kadang dia minta maaf,” kata Karina.

Karina menuturkan bahwa sikap pelaku child grooming bisa berubah dan memanipulasi korban.

Sikap tersebut membuat korban berharap hubungan bisa kembali seperti awal. Harapan inilah yang membuat korban terus menunda keputusan untuk pergi.

“Biasanya korban berharap itu dia bisa kayak gitu lagi. Kan dia enggak selalu pukul aku. Kadang dia baik kok, dia love me kok,” jelasnya.

Takut tidak dicintai lagi

Selain takut pada pelaku, banyak korban bertahan karena takut tidak ada orang lain yang mau menerima dirinya.

“Dia merasa takut enggak ketemu lagi sama orang yang bisa mencintai dia atau menerima dia,” ujar Karina.

Dalam kondisi ini, kepercayaan diri korban sering kali sudah menurun. Korban dengan harga diri rendah cenderung merasa dirinya tidak layak mendapatkan hubungan yang lebih sehat, sehingga memilih bertahan meski disakiti.

“Ada yang stay karena cinta, ada. Dan itu karena mereka self esteem-nya rendah biasanya,” kata Karina.

Alasan korban kekerasan bisa berbeda

Selain child grooming, Karina juga menegaskan, alasan seseorang bertahan dalam hubungan yang diwarnai kekerasan bisa sangat beragam.

“Setiap korban kekerasan reason to stay-nya bisa beda-beda. Aku enggak bisa bilang cuma ada satu alasan,” ujarnya.

Ada korban yang bertahan karena takut, ada yang karena terikat kondisi hidup, ada pula yang karena faktor ekonomi dan tanggung jawab keluarga.

“Ada yang stay karena dia takut kalau dia pergi financial condition dia enggak akan aman. Jadi dia stay supaya tetap ada uang, supaya bisa besarin anaknya,” kata Karina.

Oleh sebab itu, Karina menekankan, bertahannya korban tidak bisa disamaratakan. Ia berharap masyarakat bisa lebih peka dan tidak menghakimi korban child grooming  dan kekerasan.

Tag:  #mengapa #korban #child #grooming #tetap #bertahan #meski #sudah #disakiti

KOMENTAR