Pentingnya Ajarkan 'Rahasia Baik dan Buruk', Kunci Lindungi Buah Hati dari Modus Grooming
Ilustrasi anak. Child grooming jarang terjadi tiba-tiba. Pelaku membangun kepercayaan anak dan keluarga secara perlahan. Ini penjelasan para ahli.(Freepik)
21:35
16 Januari 2026

Pentingnya Ajarkan 'Rahasia Baik dan Buruk', Kunci Lindungi Buah Hati dari Modus Grooming

Di tengah kemudahan teknologi dan interaksi sosial yang semakin luas, keamanan anak kini menghadapi tantangan yang lebih kompleks.

Salah satu ancaman yang sering kali berjalan halus dan tak kasat mata adalah child grooming.

Ancaman ini tidak datang dengan kekerasan fisik di awal, melainkan melalui jalinan kepercayaan yang dimanipulasi.

Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Gisella Tani Pratiwi, M.Psi., Psikolog, mengingatkan para orang tua bahwa relasi khusus yang dibangun orang yang usianya lebih tua dengan anak perlu diwaspadai karena bisa menjadi celah child grooming.

Memahami Manipulasi di Balik Relasi Kuasa

Banyak orang tua sering kali merasa terbantu atau senang ketika ada orang dewasa lain yang memberikan perhatian lebih kepada anak mereka. Namun, Gisella menjelaskan bahwa ada batasan yang harus diperhatikan.

Child grooming itu proses yang mana pelaku membangun relasi khusus dengan anak dan kadang dengan keluarga besarnya, untuk mendapatkan kepercayaan dan membentuk relasi kuasa atau otoritas atas anak, dalam persiapan melakukan tindakan kekerasan (abusive),” kata Gisella dikutip dari ANTARA, Jumat (16/1/2026).

Proses ini biasanya diawali dengan upaya menjalin hubungan khusus, seperti memberi hadiah, menggunakan identitas palsu, hingga perhatian di luar proporsi wajar.

Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku mulai mengisolasi korban dari lingkungan sosialnya untuk mempermudah tindakan eksploitasi atau penganiayaan yang telah direncanakan.

Tanda-Tanda yang Sering Terabaikan

Mengenali tanda grooming tidaklah mudah karena sifatnya yang manipulatif.

Namun, beberapa indikator perilaku bisa menjadi sinyal bagi orang tua, seperti anak yang tiba-tiba menerima hadiah atau uang dengan sumber yang tidak jelas.

“Menunjukkan perilaku atau menggunakan kalimat yang bernuansa seksual di luar kebiasaan atau pengetahuan umum yang orangtua ketahui, memiliki rahasia yang dijaga ketat misalnya kegiatan yang dilakukan sesudah sekolah atau kegiatan online,” jelas psikolog lulusan Universitas Indonesia tersebut.

Perubahan suasana hati yang drastis, penurunan prestasi, hingga anak yang mulai menarik diri dari pertemanan juga patut menjadi catatan serius bagi lingkungan sekitar.

Membangun Benteng Lewat Komunikasi Empatik

Langkah pencegahan terbaik dimulai dari dalam rumah. Gisella menekankan pentingnya orang tua untuk menjadi "tempat pulang" yang aman bagi anak.

Jika melihat tanda-tanda mencurigakan, dekati anak dengan empati tanpa sikap menyalahkan agar mereka merasa nyaman untuk terbuka.

Selain itu, orang tua perlu memberikan edukasi yang konkret mengenai batasan sosial.

“Contohkan dan ajari anak mengenai relasi yang sehat, yaitu relasi yang tulus menerima apa adanya, timbal-balik, komunikatif dan hangat, mendiskusikan kepada anak perilaku yang manipulative dan membedakan mengenai rahasia baik dan rahasia buruk,” tuturnya.

Pengawasan di Dunia Digital

Di era digital, ruang gerak pelaku grooming semakin luas. Gisella menyarankan agar orang tua memahami kegiatan online anak, mulai dari durasi penggunaan gawai hingga materi yang dikonsumsi.

“Ajak anak memahami perilaku-perilaku online yang beragam termasuk yang manipulative dan tidak pantas untuk usia nya dan dorong untuk menginfomasikan kepada orang tua jika menerima materi yang tidak pantas,” tutupnya.

Dengan membangun kelekatan emosional yang hangat dan tanpa syarat, orang tua tidak hanya sekadar mengawasi, tetapi juga memberikan "perlindungan internal" yang membuat anak mampu mengenali mana kasih sayang yang tulus dan mana manipulasi yang berbahaya.

Tag:  #pentingnya #ajarkan #rahasia #baik #buruk #kunci #lindungi #buah #hati #dari #modus #grooming

KOMENTAR