Berhenti Multitasking Selama Sebulan, Ini Perubahan yang Terjadi di Otak
- Di era digital, multitasking sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Mendengarkan rapat daring sambil membalas pesan atau mengecek email sembari membuka media sosial terasa seperti hal yang wajar.
Sayangnya, kebiasaan ini tidak selalu membuat kita lebih produktif. Justru sebaliknya, multitasking berlebih bisa membuat otak kelelahan dan sulit fokus.
“Multitasking menarik karena memberi ilusi efisiensi dan kontrol di dunia yang serba cepat,” kata Cashuna Huddleston, PhD, psikolog di New Way Psychological Services, dilansir dari Real Simple, Rabu (14/1/2026).
Ia menegaskan, otak sebenarnya tidak melakukan banyak hal sekaligus. Berhenti multitasking dan mulai melakukan single-tasking selama sebulan bisa memberi perubahan signifikan pada cara kerja otak.
“Yang terjadi adalah otak berpindah fokus dengan sangat cepat dari satu tugas ke tugas lain,” tambah dia.
Mulai dari fokus yang meningkat, emosi yang lebih stabil, hingga kualitas kerja yang lebih baik.
Multitasking membebani otak
Menurut Huddleston, multitasking memberi tekanan besar pada prefrontal cortex, bagian otak yang berperan dalam fokus, pengambilan keputusan, dan regulasi emosi.
“Perpindahan tugas yang terus-menerus meningkatkan beban kognitif, memicu hormon stres seperti kortisol, dan membuat otak lebih sulit mempertahankan perhatian,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu kecemasan, mudah marah, kelelahan mental, hingga rasa kewalahan yang terus-menerus.
Multitasking juga membuat seseorang lebih impulsif dan rentan melakukan kesalahan, baik dalam pekerjaan maupun hubungan personal.
Mengapa multitasking bikin sulit berhenti?
Psikolog perilaku dan organisasi, Bob Hutchins, PhD menjelaskan, otak menyukai hal baru.
“Setiap kali kita membuka notifikasi, berpindah tab, atau membalas pesan singkat, otak melepaskan dopamin. Itu seperti hadiah kecil yang kita anggap sebagai pencapaian,” katanya.
Tak hanya itu, budaya sibuk juga memperkuat kebiasaan ini. Mengurus banyak hal sekaligus sering dianggap sebagai tanda produktif dan sukses, padahal belum tentu efektif.
Di minggu awal otak akan memberontak
Saat mulai berhenti multitasking, seseorang biasanya akan mengalami masa adaptasi.
“Jika selama bertahun-tahun perhatian kita terpecah-pecah, otak akan terbiasa dengan gangguan,” kata Hutchins.
Ia menyebut, pada beberapa hari pertama, akan muncul dorongan kuat untuk mengecek ponsel atau berpindah tugas.
Kabar baiknya, otak sangat adaptif. Dengan konsistensi, pola baru akan terbentuk dan rasa gelisah perlahan berkurang.
Rentang perhatian meningkat
Setelah sekitar 30 hari, perubahan pada jalur saraf mulai terasa. Kepadatan perhatian meningkat dan kamu mampu bertahan lebih lama pada satu pikiran hingga benar-benar mengambil tindakan.
Otak menjadi lebih tenang dan tidak dipenuhi kebisingan yang biasanya muncul akibat gangguan.
Menurut Owen Muir, MD, DFAACAP, psikiater dan chief medical officer di Radial, mengibaratkannya seperti melatih otot.
“Sirkuit otak yang sering digunakan bersama akan semakin kuat. Semakin sering kita fokus pada satu hal, semakin kuat kemampuan fokus itu sendiri,” jelasnya.
Produktivitas dan kualitas kerja meningkat
Meski awalnya terasa lebih lambat, single-tasking justru membuat kerja lebih efektif.
“Data menunjukkan multitasking sebenarnya kurang efisien,” kata Muir.
Ia menambahkan, jika ingin meningkatkan kualitas kerja, mengerjakan satu hal dalam satu waktu adalah kunci.
Penelitian tentang switching cost menunjukkan bahwa kita bisa kehilangan hingga 40 persen waktu produktif hanya untuk menyesuaikan diri setelah terganggu.
Dengan single-tasking, waktu yang terbuang itu bisa ditekan, dan hasil kerja menjadi lebih mendalam serta rapi.
“Multitasking membuat kita memulai banyak hal, tapi sedikit yang benar-benar selesai. Single-tasking menciptakan nilai karena kita memberi perhatian penuh pada satu masalah,” kata Hutchins.
Kecemasan menurun dan pikiran lebih tenang
Berhenti multitasking juga berdampak pada kesehatan mental. Single-tasking memberi sinyal aman pada sistem saraf.
“Saat perhatian terpecah, otak menangkap lingkungan sebagai sesuatu yang kacau dan tak terkendali, sehingga sistem alarm terus aktif,” ujar Hutchins.
Kecemasan latar belakang seperti takut lupa sesuatu atau merasa selalu kurang produktif akan berkurang karena kita lebih hadir pada momen sekarang. Otak tidak lagi bekerja dalam mode darurat, melainkan lebih tenang dan terarah.
Dalam sebulan, berhenti multitasking bukan hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi juga cara otak memproses dunia. Fokus meningkat, kecemasan menurun, dan kualitas hidup pun berpeluang membaik.
Tag: #berhenti #multitasking #selama #sebulan #perubahan #yang #terjadi #otak