Mengapa Harga Diri Pria Begitu Terikat pada Nafkah? Psikolog Ungkap Alasannya
Persoalan finansial sering kali menjadi pemicu konflik sensitif dalam rumah tangga.
Bagi banyak pria, ketidakmampuan menafkahi bukan sekadar masalah berkurangnya daya beli, melainkan berkaitan erat dengan harga diri dan identitas mereka sebagai kepala keluarga.
Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga, Roslina Verauli, M.Psi., Psi., menjelaskan bahwa fenomena ini memiliki akar sejarah dan budaya yang kuat.
Sejak dini, laki-laki umumnya dibentuk oleh nilai sosial bahwa kualitas diri mereka diukur dari seberapa besar kontribusi yang diberikan kepada keluarga.
Mengapa aspek finansial begitu erat kaitannya dengan harga diri seorang pria?
"Lelaki umumnya dibesarkan dengan pesan: 'Nilai dirimu ditentukan oleh seberapa besar kemampuanmu dalam berkontribusi.' Dalam konteks ini, kontribusi yang paling nyata dan terukur adalah nafkah," ujar Verauli saat dihubungi Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Ketika kemampuan menafkahi ini terganggu, misalnya karena kehilangan pekerjaan atau penghasilan yang menurun, yang terpukul bukan sekadar kondisi dompetnya, melainkan identitas maskulin dan harga diri (pride) mereka sebagai pelindung keluarga.
Ilustrasi pasangan
Isu Emosional di Balik Angka
Karena keterikatan yang kuat antara "dompet" dan "harga diri" ini, Verauli mencatat bahwa isu nafkah dalam pernikahan sering kali berubah menjadi isu emosional yang kompleks, bukan sekadar hitung-hitungan ekonomi.
Hal ini menjelaskan mengapa sebagian pria menunjukkan reaksi yang tidak terduga saat merasa gagal secara finansial.
Reaksi tersebut bisa beragam, mulai dari menjadi lebih defensif, menarik diri dari pergaulan, hingga berubah menjadi agresif.
"Kondisi ini menjelaskan mengapa isu nafkah sering kali menjadi isu emosional. Ada rasa malu dan rasa tidak berdaya yang sulit diungkapkan secara verbal oleh pria," tambahnya.
Fenomena "Avoidant Coping"
Menariknya, Verauli juga menyoroti perilaku suami yang terkadang justru terlihat "santai" atau tidak peduli saat belum mampu memenuhi kebutuhan istri.
Menurut kacamata psikologi, sikap tersebut tidak selalu berarti suami tidak peduli.
Bisa jadi, itu adalah perwujudan dari perasaan tidak mampu yang sangat dalam.
"Ini berkaitan dengan avoidant coping, yaitu upaya seseorang untuk menghindari perasaan gagal. Alih-alih menghadapi kenyataan yang menyakitkan, mereka memilih untuk terlihat abai," jelas Verauli.
Namun, ia memberi catatan penting: jika sikap santai ini disertai dengan minimnya empati dan pengabaian tanggung jawab secara terus-menerus, hal tersebut bisa mengarah pada relasi yang tidak sehat atau emotional neglect (pengabaian emosional).
Pesan untuk Pasangan Muda
Agar pernikahan tetap sehat di tengah tantangan ekonomi, Verauli menyarankan pasangan muda untuk mulai mendefinisikan ulang makna kontribusi.
Di era modern, harga diri pria seharusnya tidak lagi dipatok secara kaku pada angka finansial semata.
Ketahanan sebuah pernikahan justru lahir dari kemampuan pasangan untuk saling menghargai kontribusi lain yang bersifat non-materi, seperti kehadiran emosional, keterlibatan dalam pengasuhan, dan dukungan psikologis satu sama lain.
Tag: #mengapa #harga #diri #pria #begitu #terikat #pada #nafkah #psikolog #ungkap #alasannya