Bukan Sekadar Materi, Inilah 6 Bentuk ''Nafkah Batin'' yang Menjaga Keharmonisan Pernikahan
Peran suami sering kali identik dengan tanggung jawab sebagai provider atau penyedia nafkah finansial.
Namun, banyak pasangan mulai menyadari bahwa kecukupan materi saja tidak menjamin kebahagiaan jangka panjang.
Ada kebutuhan lain yang jauh lebih mendalam, yaitu nafkah rohani atau batin.
Psikolog keluarga dan pernikahan Nadya Pramesrani, M.Psi., menjelaskan bahwa dalam psikologi, pemenuhan kebutuhan batin ini berkaitan erat dengan konstruk keintiman (intimacy).
"Menafkahi kan konteksnya jasmani dan rohani/batin ya. Secara jasmani paling mudah memang dilihat secara finansial. Tapi secara rohani/batin, dalam konteks psikologi kita kenal dengan konstruk intimacy atau keintiman," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Senin (12/1/2026).
Hal itu merujuk pada pemikiran Mark Schaefer dan David Olson, terdapat enam aspek keintiman yang perlu dirawat agar pernikahan tetap kokoh.
1. Keintiman emosional
Ini adalah fondasi utama. Keintiman emosional tercipta ketika Anda dan pasangan merasa aman untuk saling terbuka tanpa takut dihakimi.
Ada rasa nyaman saat berbagi kerentanan, ketakutan, hingga mimpi-mimpi terdalam.
2. Keintiman intelektual
Pernahkah Anda merasa sangat "nyambung" saat mengobrolkan visi masa depan atau isu-isu penting? Itulah keintiman intelektual.
Pasangan yang memiliki aspek ini mampu berdiskusi secara sehat dan saling menghargai pola pikir satu sama lain.
"Saling memahami isu-isu penting dalam hubungan dan merencanakan tujuan masa depan bersama, atau singkatnya ngobrol tuh nyambung," jelas Nadya.
3. Keintiman rekreasional
Nafkah batin juga hadir dalam bentuk tawa dan waktu luang.
Menikmati hobi bersama atau sekadar jalan-jalan santai di akhir pekan membantu melepaskan penat dari rutinitas domestik dan memperkuat ikatan sebagai sahabat.
4. Keintiman keuangan
Tak sedikit konflik yang bermula dari ketidakterbukaan soal uang.
Keintiman keuangan bukan soal siapa yang paling banyak menghasilkan, melainkan sejauh mana pasangan merasa nyaman dan transparan dalam mendiskusikan pengelolaan anggaran serta tujuan finansial bersama.
5. Keintiman seksual
Hubungan fisik yang memuaskan kedua belah pihak merupakan bagian penting dari keintiman pernikahan.
Ini bukan hanya soal aktivitas biologis, tapi tentang komunikasi kasih sayang dan penerimaan tubuh pasangan.
6. Keintiman spiritual
Aspek ini menyentuh sisi nilai-nilai kehidupan dan keyakinan.
Berbagi makna tentang tujuan hidup, menjalankan ibadah bersama, atau mendiskusikan prinsip moral dapat memberikan ketenangan batin yang luar biasa dalam keluarga.
Ilustrasi pasangan
Menyeimbangkan harapan dan ekspektasi
Lebih lanjut, Nadya menjelaskan kunci utama dari keharmonisan rumah tangga bukanlah seberapa ideal peran yang dijalankan, melainkan adanya kesepakatan bersama.
Setiap pasangan memiliki latar belakang keluarga yang berbeda, yang secara tidak sadar membentuk standar subjektif tentang apa yang dianggap "wajar" dalam pernikahan.
Tanpa diskusi terbuka, perbedaan asumsi inilah yang sering kali menjadi pemicu konflik.
Oleh karena itu, sangat penting bagi pasangan untuk duduk bersama dan membicarakan ekspektasi peran serta tanggung jawab masing-masing sejak awal.
Apakah Anda memilih pembagian peran konvensional (suami bekerja dan istri mengelola domestik) atau model setara (companionate) di mana keduanya saling bertukar peran, keduanya adalah pilihan yang sah selama disetujui kedua pihak.
Perlu diingat bahwa kesepakatan ini tidak bersifat kaku.
Diskusi ini sebaiknya dilakukan secara berkala, terutama saat memasuki fase hidup baru atau ketika muncul kebutuhan yang sebelumnya tidak terduga.
Pada akhirnya, kebahagiaan keluarga ditentukan oleh versi yang Anda dan pasangan bangun sendiri, bukan oleh standar orang lain.
Tag: #bukan #sekadar #materi #inilah #bentuk #nafkah #batin #yang #menjaga #keharmonisan #pernikahan