Jangan Gengsi, Pinjam-meminjam Barang Bisa Jadi Solusi di Tengah Biaya Hidup Tinggi
ilustrasi pakaian dilipat dengan rapi(freepik.com/freepik)
22:05
13 Januari 2026

Jangan Gengsi, Pinjam-meminjam Barang Bisa Jadi Solusi di Tengah Biaya Hidup Tinggi

- Di tengah meningkatnya biaya hidup, banyak orang mulai lebih berhati-hati dalam mengelola pengeluaran.

Pada dasarnya, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk berhemat. Salah satunya meminjam barang atau pakaian dari teman, saudara, atau anggota keluarga lainnya.

Namun, banyak orang merasa sungkan ketika harus meminjam dari orang lain. Rasa malu, takut merepotkan, sampai khawatir dicap tidak mampu, kerap membuat seseorang memilih membeli barang baru.

“Memang ide pinjam-meminjam dilihat sebagai sesuatu yang misalnya memalukan atau merepotkan, saya percaya itu adalah satu wacana yang memang disuburkan di media sosial, atau di era kapitalisme.”

Hal tersebut dituturkan oleh pemilik SARE Studio dan kreator konten conscious fashion, Cempaka Asriani, saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Anggapan yang tidak muncul secara alami

Dalam konsep mindful consumption, meminjam adalah salah satu pilihan yang masuk akal selama dilakukan dengan etika dan tanggung jawab, di tengah kondisi ekonomi saat ini.

Adapun, mindful consumption adalah ketika seseorang sadar dalam mengonsumsi apapun, baik itu barang, jasa, maupun yang dilihat di berita dan media sosial.

Konsep ini menekankan pentingnya kesadaran dalam setiap keputusan konsumsi. Belanja memang tidak dilarang, tetapi perlu dilakukan berdasarkan alasan yang jelas dan relevan dengan kebutuhan.

Anggapan bahwa meminjam sesuatu merupakan hal memalukan tidak muncul begitu saja. Menurut Cempaka, persepsi ini disuburkan dan terus diperkuat dalam kehidupan modern, agar masyarakat terus membeli barang baru.

“Seakan-akan meminjam itu menjadi sesuatu yang memalukan, karena memang supaya orang itu dipaksa atau dianjurkan untuk membeli saja, bukan meminjam,” ujar dia.

Dalam konteks biaya hidup yang semakin tinggi, pola pikir ini justru bisa menjadi beban. Ketika membeli selalu dijadikan solusi utama, pengeluaran akan sulit dikendalikan. Sementara itu, barang yang dibeli belum tentu digunakan dalam jangka panjang.

“Jadi memang ini sebenarnya sebuah persepsi yang memang disuburkan supaya orang itu memang enggak meminjam, maunya beli saja,” lanjut Cempaka.

Tetap menjaga etika saat meminjam barang

Sebenarnya, pinjam-meminjam adalah hal yang wajar terjadi di antara teman dan anggota keluarga. Bahkan, tidak jarang kakak adik sering saling meminjam barang, terutama kakak adik perempuan dengan baju, aksesori, sepatu, dan riasan wajahnya.

“Kebetulan saya tumbuh di lingkungan yang mana pinjam-meminjam itu menjadi sesuatu yang lumrah. Kami di lingkungan keluarga maupun pertemanan, pinjam-meminjam ini juga beretika,” ujar Cempaka.

Etika menjadi kunci utama dalam praktik pinjam-meminjam. Barang yang dipinjam tidak diperlakukan sembarangan, melainkan dijaga kebersihan dan kualitasnya agar bisa dikembalikan dalam kondisi baik.

“Jelas dipinjamnya untuk apa, berapa lama. Pas pinjam dirawat. Pas sudah selesai, dicuci atau dibersihkan, baru dikembalikan. Jadi memang bukan berarti pinjam itu kayak bisa semaunya, enggak,” tegas Cempaka.

Memberi jeda sebelum membeli

Konsep mindful consumption berkaitan erat dengan “memberi jeda” pada otak. Memberi jeda pada otak dapat dikatakan sebagai “kunci”, agar keputusan yang diambil saat belanja barang atau jasa, benar-benar berdasarkan kebutuhan.

Menurut Cempaka, ketika seseorang langsung membeli tanpa jeda, ia cenderung tidak sepenuhnya sadar atas apa yang dibeli dan mengapa ia membelinya.

Jeda berfungsi sebagai ruang berpikir, agar keputusan bukan hanya dorongan sesaat.

“Ketika kita melihat iklan atau barang, saat barang itu muncul di media sosial dipakai oleh selebgram, atau digunakan oleh teman atau saudara, ada rasa ingin beli dan langsung check out. Itulah yang terjadi ketika enggak ada jeda itu,” jelas Cempaka.

Ada beberapa cara untuk memberi jeda pada otak dalam mindful consumption, salah satunya adalah meminjam barang.

Dengan meminjam, seseorang memiliki kesempatan untuk mencoba terlebih dahulu apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan. Jika ternyata hanya digunakan sekali atau jarang dipakai, keputusan untuk tidak membeli menjadi lebih mudah.

Namun, Cempaka menekankan bahwa meminjam bukanlah kewajiban dalam mindful consumption. Opsi ini bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kenyamanan masing-masing individu.

“Bukan berarti mindful consumption itu harus pinjam. Pinjam itu cuma salah satu opsi,” ujarnya.

Selain meminjam, masih ada pilihan lain seperti memanfaatkan barang yang sudah dimiliki, membeli barang bekas yang masih layak, atau membuat sendiri barang yang dibutuhkan.

Tag:  #jangan #gengsi #pinjam #meminjam #barang #bisa #jadi #solusi #tengah #biaya #hidup #tinggi

KOMENTAR