Belaja dai Kasus Aurelie Moeremans, Kenapa Seseorang Jadi Pelaku Grooming?
- Memoar "Broken Wings" milik aktris dan penyanyi Aurelie Moeremans, menceritakan tentang dirinya yang menjadi korban grooming pada usia 15 tahun.
Pelakunya adalah seorang pria bernama Bobby, bukan nama sebenarnya, yang kala itu berusia 29 tahun. Pertemuan di lokasi syuting iklan menjadi awal dari proses grooming.
Aurelie menceritakan bagaimana Bobby mulai mengiriminya pesan-pesan lucu, menunggu Aurelie selesai syuting sampai esok pagi, bahkan mengantar Aurelie sekeluarga pulang, demi mendapatkan kepercayaan Aurelie dan keluarganya.
Menilik kasus yang dialami oleh Aurelie, mengapa seseorang menjadi pelaku grooming?
Alasan seseorang menjadi pelaku grooming
Sebagai informasi, grooming, juga disebut child grooming, adalah proses manipulasi, yang mana seseorang membangun hubungan, rasa precaya, dan koneksi dengan seorang anak.
Farraas Afiefah Muhdiar, M.Sc., M.Psi., Psikolog, mengungkapkan bahwa tujuan child grooming adalah untuk memanipulasi, mengeksploitasi, atau melakukan kekerasan terhadap anak.
"Intinya sih ada intensi buruk tadi, intensi untuk memanipulasi atau untuk melakukan kekerasan seksual, juga eksploitasi terhadap anak," jelas dia, dikutip dari Kompas.com, Minggu (11/1/2026).
Istilah child grooming sering berkaitan dengan tindakan pedofilia, yaitu ketertarikan seksual terhadap anak-anak di bawah umur.
1. Preferensi seksual menyimpan
Hal pertama yang bisa menyebabkan seseorang menjadi pelaku grooming adalah karena memiliki preferensi seksual yang menyimpang, yaitu lebih tertarik pada anak di bawah umur alias pedofilia.
2. Rasa percaya diri yang rendah
Pelaku juga memiliki rasa percaya diri yang rendah. Ia sering merasa tidak mampu menjalin hubungan dengan pasangan seusianya.
"Anak-anak jadinya buat mereka lebih gampang, lebih bisa dimanipulasi, dan lebih nurut," jelas Farraas, dikutip dari Kompas.com.
Ini membuat pelaku merasa "lebih dihargai", yang mana perasaan itu tidak ia temukan dalam hubungan dewasa.
3. Enggan berkomitmen
Sering kali, hubungan dengan pasangan dewasa melibatkan banyak hal, seperi komitmen, tanggung jawab, dan diskusi serius seperti pernikahan atau stabilitas finansial.
Sementara itu, hubungan dengan anak-anak tidak banyak tuntutan. Hubungan dianggap lebih sederhana dan menyenangkan.
"Kalau jauh lebih muda kan lebih fun gitu relationship-nya, lebih ketawa-ketawa aja. Mungkin cuma kayak gemes-gemesan doang, tanpa bagian-bagian komitmennya," terang Farraas.
4. Kebutuhan untuk mendominasi
Anak-anak lebih mudah dikendalikan dari sisi emosional dan psikologis. Pelaku grooming sering memanfaatkan power gap ini untuk merasa superior, dan mendominasi hubungan.
"Enggak seimbang kekuasaannya, sehingga yang satu mungkin jauh lebih berkuasa jadi lebih bisa melakukan manipulasi atau kekerasan," ucap Farraas.
Aurelie juga mengalami hal serupa saat menjadi korban grooming Bobby. Ini ia ceritakan di halaman 169, tentang bagaimana Bobby menginjak wajahnya dan memukul kepalanya dengan Alkitab.
5. Trauma masa lalu
Ada orang-orang yang memiliki trauma masa kecil seperti kehilangan figur orantua, perceraian, atau pengalaman kekerasan emosional.
Namun, pada beberapa orang, trauma yang membuat mereka rendah diri, atau memengaruhi cara mereka memandang hubungan interpersonal ini, malah membuat mereka menjadi pelaku grooming.
Berdasarkan trauma itu, pelaku enggan berkomitmen dan mencari hubungan yang lebih mudah dijangkau, seperti dengan anak-anak.
6. Kurang hormat terhadap aturan dan norma sosial
Farraas melanjutkan, pelaku sering kali memiliki pola pikir yang tidak menghargai aturan hukum dan norma sosial.
"Enggak terlalu mementingkan soal aturan, jadi orang-orang yang kalau udah punya prinsip sendiri beranggapan 'ya udah sih emang apa salahnya'," tutur dia.
Pelaku melihat hubungan dengan anak-anak sebagai sesuatu yang tidak salah, sehingga cenderung mengabaikan dampak negatif pada korban.
Tidak disarankan berpacaran dengan anak di bawah umur
Meskipun tidak ada intensi untuk melakukan child grooming, berpacaran dengan anak di bawah umur sebaiknya tidak dilakukan.
Pasalnya, mereka dianggap masih belum mampu mengambil keputusan sendiri dan belum bisa memberikan persetujuan sendiri.
Tidak hanya itu, anak di bawah umur juga masih belum matang dalam mengambil keputusan. Berpacaran dengan orang dewasa bisa menimbulkan risiko power gap.
Tag: #belaja #kasus #aurelie #moeremans #kenapa #seseorang #jadi #pelaku #grooming