Psikologi Mengungkap 8 Kalimat yang Tanpa Disadari Menunjukkan Keterampilan Sosial Rendah
lustrasi Kalimat yang Tanpa Disadari Menunjukkan Keterampilan Sosial Rendah (Geediting)
08:40
31 Desember 2025

Psikologi Mengungkap 8 Kalimat yang Tanpa Disadari Menunjukkan Keterampilan Sosial Rendah


Pernahkah Anda merasa menyesal beberapa menit setelah sebuah percakapan berakhir, lalu bertanya-tanya mengapa suasana tiba-tiba terasa canggung? Banyak orang mengalami hal ini tanpa menyadari bahwa penyebabnya bukan niat buruk, melainkan pilihan kata yang keliru.

Kemampuan sosial sejatinya bukan bakat bawaan yang tidak bisa diubah. Berbeda dengan kecerdasan intelektual, keterampilan bersosialisasi dapat terus berkembang seiring kesadaran dan latihan. Dikutip dari laman Geediting, psikologi mengidentifikasi sejumlah frasa yang kerap digunakan tanpa sadar dan justru membuat seseorang tampak memiliki keterampilan sosial di bawah rata-rata.

Berikut delapan kalimat yang sebaiknya mulai dihindari agar komunikasi terasa lebih hangat dan efektif.

1. “Sebenarnya, kamu salah”

Kalimat ini langsung menempatkan lawan bicara dalam posisi defensif. Meski maksudnya meluruskan, awalan seperti ini membuat orang merasa pendapatnya tidak dihargai. Pendekatan yang lebih bijak adalah menyampaikan sudut pandang tanpa membantah secara frontal.

2. “Aku cuma jujur”

Kejujuran sering dijadikan tameng untuk menyampaikan komentar yang terlalu tajam. Padahal, jujur tidak harus menyakiti. Psikologi komunikasi menekankan pentingnya mempertimbangkan dampak kata-kata, bukan hanya niat di baliknya.

3. “Itu mengingatkanku pada pengalamanku…”

Mengalihkan cerita orang lain menjadi tentang diri sendiri adalah kebiasaan umum, namun bisa merusak koneksi. Orang ingin didengar, bukan disaingi. Bertanya lebih dalam tentang cerita mereka sering kali jauh lebih bermakna.

4. “Tidak bermaksud menyinggung, tapi…”

Frasa ini justru memberi sinyal bahwa sesuatu yang menyinggung akan segera disampaikan. Alih-alih melunakkan, kalimat ini menciptakan kesan pasif-agresif dan menambah ketegangan dalam percakapan.

5. “Kamu selalu…” atau “Kamu tidak pernah…”

Pernyataan absolut hampir selalu memicu konflik. Kalimat semacam ini mengalihkan fokus dari masalah yang sedang dibahas ke pembelaan diri. Menggunakan contoh spesifik dan perasaan pribadi jauh lebih efektif dalam komunikasi sehat.

6. “Terserah”

Satu kata ini mengandung makna penolakan dan ketidakpedulian. Dalam psikologi hubungan, sikap meremehkan seperti ini termasuk pola komunikasi yang paling merusak karena menutup ruang dialog.

7. “Kan sudah kubilang”

Tidak ada frasa yang lebih cepat merusak empati daripada kalimat ini. Meskipun benar, mengungkitnya hanya memperlebar jarak emosional. Komunikasi yang matang lebih berfokus pada solusi, bukan pembuktian ego.

8. “Cuma bercanda” atau “Kamu terlalu sensitif”

Menyangkal perasaan orang lain menunjukkan ketidakdewasaan emosional. Dampak kata-kata tidak ditentukan oleh niat, melainkan oleh bagaimana penerimanya merasakan. Mengakui kesalahan dan meminta maaf jauh lebih membangun hubungan.

Editor: Novia Tri Astuti

Tag:  #psikologi #mengungkap #kalimat #yang #tanpa #disadari #menunjukkan #keterampilan #sosial #rendah

KOMENTAR