Lama Tak Muncul, Kondisi Terkini Mojtaba Khamenei Dibongkar Menlu AS
Perempuan Iran membawa potret Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei dalam kampanye mendukung dirinya di Enghelab Square, Teheran, 9 Maret 2026.(AFP/ATTA KENARE)
11:12
3 Juni 2026

Lama Tak Muncul, Kondisi Terkini Mojtaba Khamenei Dibongkar Menlu AS

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengungkap kondisi terbaru Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei yang sudah lama tidak terlihat di depan publik setelah mengalami cedera pada awal perang.

Dilansir Anadolu, pernyataan Rubio disampaikan dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS pada Selasa (2/6/2026).

Ia mengatakan, Washington melihat adanya tanda-tanda bahwa Mojtaba Khamenei semakin aktif dalam beberapa tingkatan.

Baca juga: Mojtaba Khamenei Mau Negara Muslim Bersatu, Saingi Trump Perluas Abraham Accords?

Mojtaba Khamenei disebut mulai aktif di balik layar

Dalam keterangannya kepada para anggota parlemen, Rubio mengatakan, Mojtaba masih hidup dan mulai kembali terlibat dalam pengambilan keputusan, meski komunikasinya masih dilakukan melalui perantara.

“Kami belum melihatnya tampil di depan publik, dan saya membayangkan, mengingat apa yang telah terjadi pada beberapa pemimpin dalam sistem tersebut, tampil di depan umum mungkin bukan sesuatu yang direkomendasikan bagi mereka secara internal," kata Rubio.

"Namun demikian, saya pikir ada indikasi bahwa dia semakin terlibat pada tingkat tertentu, meskipun semua komunikasinya dilakukan secara tertulis dan melalui perantara,” kata Rubio.

Rubio menjelaskan bahwa proses pengambilan keputusan di Iran tampak sangat terpusat.

Menurutnya, pesan dari para negosiator biasanya harus dibawa kembali ke sebuah dewan pemerintahan untuk mendapat persetujuan sebelum respons diberikan.

Keputusan Iran disebut bergantung pada dewan

Rubio mengatakan, para perunding Iran harus kembali membawa hasil pembicaraan kepada dewan tersebut sebelum mengambil keputusan.

“Menurut pandangan kami terhadap sistem tersebut sebagaimana yang kami pahami, dan sebagaimana yang telah disampaikan kepada kami baik oleh para perantara maupun langsung oleh Iran, apa yang dibawa atau diambil oleh (Abbas) Araghchi dan (Mohammad Bagher) Ghalibaf dari kami, mereka kemudian harus kembali ke dewan ini dan pada akhirnya mendapatkan arahan dari mereka, dan proses itu sering kali membutuhkan waktu tiga hingga lima hari untuk mendapatkan respons,” ujar Rubio.

Baca juga: Trump Desak Iran Akur dengan Israel, Mojtaba Khamenei Balas Ancaman Keras

Negosiasi nuklir Iran-AS masih berjalan

Gambar dari citra satelit Maxar memperlihatkan kondisi situs nuklir Iran di Natanz pada 15 Juni 2025, sebelum diserang bom Amerika Serikat pada 22 Juni 2025.MAXAR TECHNOLOGIES via AFP Gambar dari citra satelit Maxar memperlihatkan kondisi situs nuklir Iran di Natanz pada 15 Juni 2025, sebelum diserang bom Amerika Serikat pada 22 Juni 2025.

Rubio dan Presiden AS Donald Trump menyatakan, pembicaraan dengan Iran masih berlangsung.

Namun, media Iran melaporkan pada Selasa bahwa pertukaran pesan antara kedua negara telah terhenti setidaknya selama beberapa hari.

Rubio mengatakan, setiap pembahasan terkait keringanan sanksi terhadap Iran bersifat bersyarat dan berkaitan dengan program nuklir Teheran.

“Saat ini, semua yang telah dibahas dengan mereka (Iran) adalah bahwa setiap keringanan sanksi bersifat berdasarkan kondisi, yang berarti harus sebagai imbalan atas alasan mengapa sanksi itu diberlakukan sejak awal, yaitu program nuklir mereka,” kata Rubio.

“Iran dikenai sanksi karena mereka telah memperkaya uranium dalam kadar tinggi. Iran dikenai sanksi karena aktivitas nuklir mereka. Jika mereka setuju untuk menyerahkan hal-hal tersebut, akan ada keringanan sanksi yang terkait dengan komitmen dan kepatuhan mereka terhadap kesepakatan tersebut,” lanjutnya.

AS sebut kekuatan konvensional Iran melemah

Rubio juga mengatakan, Iran sebelumnya berusaha membangun kemampuan senjata konvensional sebagai “perisai” untuk melindungi program nuklirnya.

“Apa yang mereka coba lakukan adalah membangun perisai konvensional dan bersembunyi di balik perisai konvensional tersebut,” kata Rubio.

Ia menilai hal itu menjadi alasan Presiden Trump menganggap tindakan militer terhadap Iran diperlukan.

Sementara itu, konflik antara AS-Israel dan Iran disebut bermula pada 28 Februari setelah serangan AS-Israel terhadap Iran. Otoritas Iran menyatakan lebih dari 3.000 orang tewas sejak awal perang, sementara sedikitnya 13 personel militer AS tewas dalam serangan balasan Iran.

Gencatan senjata kemudian berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, tetapi pembicaraan lanjutan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan permanen. 

Baca juga: Mojtaba Khamenei Sebut Israel Sedang Mendekati Hari-hari Terakhirnya

Tag:  #lama #muncul #kondisi #terkini #mojtaba #khamenei #dibongkar #menlu

KOMENTAR