Trump-Netanyahu Ribut, Iran Ambil Kesempatan Kuasai Meja Perundingan
Tentara Iran berdiri di depan potret Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei dalam kampanye untuk menggalang solidaritas dan dukungan untuknya, di Teheran pada 29 April 2026.(AFP)
09:54
3 Juni 2026

Trump-Netanyahu Ribut, Iran Ambil Kesempatan Kuasai Meja Perundingan

- Di tengah perselisihan Amerika Serikat (AS) dan Israel mengenai akhir perang, Iran tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. 

Perpecahan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu soal cara mengakhiri perang tidak luput dari pengamatan Teheran.

Tiga bulan setelah Trump dan Netanyahu melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, hubungan keduanya kini retak. 

Baca juga: AS Berupaya Damai dengan Iran, Netanyahu Masih Ingin Lenyapkan Rezim Teheran

Trump menginginkan kesepakatan diplomatik yang cepat. Netanyahu justru mendorong eskalasi.

Iran tampaknya memanfaatkannya sebagai senjata di meja perundingan, sebagaimana dilansir Wall Street Journal.

Langkah Iran terlihat ketika pada Senin (1/6/2026), melalui media pemerintahnya, Teheran mengancam akan meninggalkan meja perundingan dengan Washington jika Israel memperluas serangan ke kantong-kantong Hizbullah di kawasan selatan Beirut.

Iran menjadikan penghentian pertempuran antara Israel dan Hizbullah sebagai syarat untuk memulai pembicaraan lebih luas dengan Washington.

Semakin Israel memukul Hizbullah, semakin Iran punya alasan untuk mempersulit atau bahkan membatalkan perundingan nuklir dengan AS.

Baca juga: Israel Sebut UEA Sahabat Sejati, Hubungan Makin Erat Saat Perang Iran

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui manuver ini di hadapan kongres pada Selasa (2/6/2026).

"Yang Iran inginkan adalah mencampurkan semuanya," ujar Rubio.

Dia juga menyebut Iran berusaha menggagalkan segala upaya kerja sama Israel dan Lebanon.

"Memperpanjang konflik agar jika suatu saat kesepakatan tercapai, mereka bisa mengklaim bahwa merekalah yang memaksanya terwujud," papar Rubio.

Baca juga: Kerusakan AS di Perang Iran Ternyata Lebih Luas, 20 Fasilitas Militer Rusak

Telepon yang memanas

Perselisihan Trump dan Netanyahu bermula pada Jumat (29/5/2026) ketika Trump mengumpulkan para tangan kanannya di Ruang Situasi Gedung Putih. 

Mereka membahas proposal perdamaian yang lebih kuat dari Iran, termasuk jaminan bahwa Teheran tidak akan pernah berupaya memiliki senjata nuklir dan kejelasan soal pembuangan uranium yang telah diperkayanya. 

Permintaan itu mendesak, mengingat Trump baru saja secara terbuka menyatakan bahwa kesepakatan sudah semakin dekat.

Namun masalah baru pun muncul. Netanyahu tengah melancarkan operasi besar-besaran di Lebanon untuk melawan Hizbullah menyusul serangkaian serangan drone mematikan dari kelompok militan itu. 

Baca juga: Skenario Politik dan Diplomasi Iran jika Masoud Pezeshkian Mundur

Para pejabat AS kemudian melaporkan kepada Trump bahwa eskalasi tersebut berpotensi menggagalkan pembicaraan damai dengan Iran.

Pada Senin (1/6/2026), Trump menggelar dua panggilan telepon tegang dengan Netanyahu membahas operasi yang akan dilancarkan itu. 

Dalam kedua percakapan tersebut, Trump menuntut Israel menghentikan serangan ke Beirut. Diskusi pun berlangsung panas.

Panggilan kedua bahkan semakin memanas. 

Baca juga: Drone Canggih AS Ditembak Iran, Washington Balas Hancurkan Radar

Netanyahu bersikeras ingin menyerang Hizbullah. Trump, dengan suara yang meninggi karena marah, menegaskan bahwa Netanyahu harus menurut.

Hal itu karena tanpa dukungan Gedung Putih, Netanyahu akan berada di balik jeruji besi. 

Netanyahu sendiri tengah menjalani persidangan korupsi di Israel, dan Trump berulang kali menyerukan agar Netanyahu diampuni.

Bukan kali pertama

Serangkaian percakapan yang menegang itu bukan kali pertama. 

Sebulan lalu, keduanya juga terlibat dalam diskusi yang tidak menyenangkan. 

Baca juga: Trump Murka Oman Terlalu Dekat dengan Iran, UEA dan Saudi Ikut Kesal

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu sepakat meningkatkan tekanan terhadap Iran, salah satunya dengan membatasi ekspor minyak Iran ke China. Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu sepakat meningkatkan tekanan terhadap Iran, salah satunya dengan membatasi ekspor minyak Iran ke China.

Trump bahkan dilaporkan pernah menggunakan kata-kata kasar ketika membahas Netanyahu di hadapan para tangan kanannya tahun lalu, menyindir sang PM terkait serangan terhadap Hamas di Gaza yang ditentang AS.

"Saya rasa ada kesenjangan besar," kata Danny Citrinowicz, mantan pejabat intelijen militer Israel dan peneliti senior di Institute for National Security Studies, Tel Aviv. 

"Trump ingin menguras semua upaya dan tidak ingin ada pihak yang merusak proses itu," lanjutnya.

Di satu sisi, kedua pemimpin kini dikejar waktu menjelang pemilu yang akan digelar musim gugur mendatang. Namun tekanan yang mereka hadapi justru berlawanan arah.

Baca juga: Arab Saudi Kecam Serangan Iran ke Kuwait, Sebut Langgar Hukum Internasional

Trump terdesak untuk segera mengakhiri perang yang telah mendorong harga energi naik dan memperlebar retakan di tubuh gerakan MAGA-nya. 

Suara-suara berpengaruh seperti Tucker Carlson mulai mempertanyakan dukungan AS terhadap Israel.

Netanyahu sebaliknya berhadapan dengan para pemilih yang menuntut tindakan lebih keras terhadap Hizbullah.

Serangan drone kelompok itu telah merenggut nyawa tentara Israel dan berkali-kali memaksa warga Israel utara berlindung di bunker.

Baca juga: Iran Setop Sementara Perundingan dengan AS, Salahkan Israel

Tag:  #trump #netanyahu #ribut #iran #ambil #kesempatan #kuasai #meja #perundingan

KOMENTAR