Drama Trump-Netanyahu: Dulu Mesra Serang Iran, Kini Bertengkar Selesaikan Perang
- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertengkar soal bagaimana mengakhiri perang melawan Iran.
Situasi ini berbanding 180 derajat tiga bulan lalu. Kala itu, keduanya tampak mesra dengan bersama-sama melancarkan serangan udara ke Iran dan memicu perang.
Kini mereka justru saling berbenturan dalam menentukan jalan keluar dari konflik tersebut, sebagaimana dilansir Wall Street Journal.
Baca juga: AS Berupaya Damai dengan Iran, Netanyahu Masih Ingin Lenyapkan Rezim Teheran
Trump mendambakan kesepakatan diplomatik yang dapat membuka kembali Selat Hormuz dan mengeliminasi uranium yang telah diperkaya Iran.
Dia juga ingin mengakhiri konflik yang telah mendorong harga energi naik serta memecah belah basis politiknya.
Di sisi lain, Netanyahu menghadapi tekanan domestik yang kuat untuk mengintensifkan operasi militer melawan Hizbullah, proksi terpenting Iran di Lebanon.
Ketegangan antara Trump dan Netanyahu mencuat ke permukaan dalam sepekan terakhir, berawal dari situasi di Lebanon.
Baca juga: Trump: Semua Orang Membencimu Netanyahu, Kamu Benar-benar Gila
Teheran sendiri menjadikan penghentian pertempuran antara Israel dan Hizbullah sebagai syarat untuk memulai pembicaraan lebih luas dengan Washington.
Serangkaian pertemuan intens akhirnya menghasilkan kesepakatan rapuh: Hizbullah bersedia menghentikan serangan terhadap Israel, sementara Israel tidak akan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon.
Meski demikian, pertempuran di wilayah lain dilaporkan masih berlangsung pada Selasa (2/6/2026).
Telepon yang memanas
Perselisihan ini bermula pada Jumat (29/5/2026) ketika Trump mengumpulkan para tangan kanannya di Ruang Situasi Gedung Putih.
Mereka membahas proposal perdamaian yang lebih kuat dari Iran, termasuk jaminan bahwa Teheran tidak akan pernah berupaya memiliki senjata nuklir dan kejelasan soal pembuangan uranium yang telah diperkayanya.
Baca juga: Netanyahu Terus Cari Cara Gagalkan Perdamaian AS-Iran, Diduga Tak Mau Perang Berakhir
Permintaan itu mendesak, mengingat Trump baru saja secara terbuka menyatakan bahwa kesepakatan sudah semakin dekat.
Namun masalah baru pun muncul. Netanyahu tengah melancarkan operasi besar-besaran di Lebanon untuk melawan Hizbullah menyusul serangkaian serangan drone mematikan dari kelompok militan itu.
Para pejabat AS kemudian melaporkan kepada Trump bahwa eskalasi tersebut berpotensi menggagalkan pembicaraan damai dengan Iran.
Pada Senin (1/6/2026), Trump menggelar dua panggilan telepon tegang dengan Netanyahu membahas operasi yang akan dilancarkan itu.
Dalam kedua percakapan tersebut, Trump menuntut Israel menghentikan serangan ke Beirut. Diskusi pun berlangsung panas.
Baca juga: Trump Caci Maki Netanyahu soal Serangan ke Beirut, Hubungan AS-Israel Retak?
Panggilan kedua bahkan semakin memanas.
Netanyahu bersikeras ingin menyerang Hizbullah. Trump, dengan suara yang meninggi karena marah, menegaskan bahwa Netanyahu harus menurut.
Hal itu karena tanpa dukungan Gedung Putih, Netanyahu akan berada di balik jeruji besi.
Netanyahu sendiri tengah menjalani persidangan korupsi di Israel, dan Trump berulang kali menyerukan agar Netanyahu diampuni.
Baca juga: Netanyahu Bangga Israel Sangat Dicintai di India, Klaim Dapat Dukungan Besar-besaran
Bukan kali pertama
Serangkaian percakapan yang menegang itu bukan kali pertama.
Sebulan lalu, keduanya juga terlibat dalam diskusi yang tidak menyenangkan.
Trump bahkan dilaporkan pernah menggunakan kata-kata kasar ketika membahas Netanyahu di hadapan para tangan kanannya tahun lalu, menyindir sang PM terkait serangan terhadap Hamas di Gaza yang ditentang AS.
"Saya rasa ada kesenjangan besar," kata Danny Citrinowicz, mantan pejabat intelijen militer Israel dan peneliti senior di Institute for National Security Studies, Tel Aviv.
"Trump ingin menguras semua upaya dan tidak ingin ada pihak yang merusak proses itu," lanjutnya.
Baca juga: Israel Rebut Kastil Beaufort di Lebanon, Netanyahu Belum Puas
Di satu sisi, kedua pemimpin kini dikejar waktu menjelang pemilu yang akan digelar musim gugur mendatang. Namun tekanan yang mereka hadapi justru berlawanan arah.
Trump terdesak untuk segera mengakhiri perang yang telah mendorong harga energi naik dan memperlebar retakan di tubuh gerakan MAGA-nya.
Suara-suara berpengaruh seperti Tucker Carlson mulai mempertanyakan dukungan AS terhadap Israel.
Netanyahu sebaliknya berhadapan dengan para pemilih yang menuntut tindakan lebih keras terhadap Hizbullah.
Serangan drone kelompok itu telah merenggut nyawa tentara Israel dan berkali-kali memaksa warga Israel utara berlindung di bunker.
Baca juga: Netanyahu Pertimbangkan Rute Energi Lewat Israel untuk Gantikan Selat Hormuz
Gerakan Iran
Warga mengibarkan bendera Iran dalam kampanye mendukung Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei di Teheran, 29 April 2026.
Iran kemudian bergerak cepat memanfaatkan perpecahan ini.
Melalui media pemerintahnya pada Senin, Teheran mengancam akan meninggalkan meja perundingan dengan Washington jika Israel memperluas serangan ke kantong-kantong Hizbullah di kawasan selatan Beirut.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa AS berupaya memisahkan antara pembicaraan soal Lebanon-Israel dengan pembicaraan soal Iran, terlepas dari usaha Teheran untuk mencampurnya.
"Kami berusaha memandang pembicaraan Lebanon-Israel sebagai sesuatu yang terpisah dan berbeda dari Iran. Yang Iran inginkan adalah mencampurkan semuanya," ujar Rubio dalam sidang kongres pada Selasa (2/6/2026).
Baca juga: Ingkari Gencatan Senjata, Netanyahu Perintahkan Militer Israel Kuasai 70 Persen Gaza
Ia menuduh Teheran berusaha menggagalkan segala upaya kerja sama Israel dan Lebanon, memperpanjang konflik agar jika suatu saat kesepakatan tercapai, mereka bisa mengklaim bahwa merekalah yang memaksanya terwujud.
Di pihak lain, sejumlah anggota partai Demokrat mencoba mengaitkan keputusan Trump berperang dengan Iran dengan kedekatannya pada Netanyahu.
"Netanyahu mengatakan ia sudah menunggu 40 tahun untuk ini," kata Senator Chris Van Hollen dari Maryland kepada Rubio dalam sidang tersebut.
"Ternyata dia akhirnya menemukan seorang presiden yang cukup bodoh dan ceroboh untuk bergabung dengannya," lanjutnya.
Baca juga: Kurang Dilibatkan di Negosiasi AS-Iran, Netanyahu Rapat Bersama Menteri Pertahanan
Kesepakatan rapuh di Lebanon
Trump awalnya mengabaikan ancaman Iran untuk menarik diri dari perundingan.
Namun akhirnya, dia meningkatkan tekanan kepada Netanyahu agar menahan diri.
Israel pada akhirnya menyatakan setuju untuk tidak menyerang Beirut, dengan syarat Hizbullah tidak menyerang kota-kota Israel.
Namun pernyataan dari pejabat Israel dan Lebanon sama-sama mengisyaratkan bahwa kesepakatan itu tidak mencakup wilayah Lebanon selatan, di mana pertempuran masih berlanjut pada Selasa.
Perselisihan ini mencerminkan perbedaan pandangan yang lebih dalam soal bagaimana perang harus berakhir.
Baca juga: Rencana Netanyahu Bisa Berantakan jika AS Damai dengan Iran, Ini Sebabnya
Friksi ini terasa ironis mengingat Trump dan Netanyahu memulai perang ini dalam keselarasan yang luar biasa.
Pesawat tanker Amerika membantu mempertahankan operasi Israel, dan pejabat kedua belah pihak bekerja sama erat dalam merencanakan aksi militer.
Keduanya secara terbuka berbagi tujuan: melumpuhkan program nuklir Iran dan melemahkan kemampuan rezim itu mengancam kawasan.
Namun setelah Iran mengganggu lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz dan mendorong harga energi melonjak, prioritas Washington bergeser ke arah penyelesaian diplomatik.
"Ini pertunjukan Trump. Bukan pertunjukan Netanyahu," kata Citrinowicz.
Tag: #drama #trump #netanyahu #dulu #mesra #serang #iran #kini #bertengkar #selesaikan #perang