Bidik Pasar Ekspor, Kadin dan Pemerintah Siapkan Hilirisasi Kemenyan, Nilam, dan Damar
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah mulai menggodok percepatan hilirisasi komoditas hasil hutan bukan kayu (HHBK).
Komoditas yang jadi perhatian adalah kemenyan untuk meningkatkan nilai tambah, memperluas pasar ekspor, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah berbasis sumber daya alam berkelanjutan.
Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Penguatan Ekosistem Agroforestri dan Hilirisasi Hasil Hutan Bukan Kayu sebagai Pilar Peningkatan Nilai Tambah dan Daya Saing Ekspor Humbang Hasundutan yang digelar secara daring, Rabu (3/6/2026). FGD melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, lembaga riset, dan pemangku kepentingan lainnya.
Baca juga: BRIN Olah Parfum Kemenyan dan Kapur Barus, di Luar Negeri Dijual Jutaan Rupiah
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pertanian, Devi Erna Rachmawati, mengatakan tema yang diangkat dalam diskusi tersebut relevan dengan program pembangunan ekonomi nasional yang saat ini berfokus pada transformasi dari ekonomi berbasis komoditas mentah menuju ekonomi berbasis nilai tambah, inovasi, dan keberlanjutan.
Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) yang sangat besar, termasuk berbagai komoditas hasil hutan bukan kayu seperti kemenyan, nilam, dan damar yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan masyarakat di berbagai daerah.
Kemenyan, nilam, dan damar menjadi komoditas bakal dikembangkan pemerintah lantaran punya produk unggulan berorientasi ekspor.
“Kita tahu bahwa kemenyan, nilam, dan damar juga salah satu fokus dari pemerintah Indonesia, bukan hanya komoditas tradisional, tetapi memiliki potensi besar untuk menjadi produk unggulan berorientasi ekspor,” ujar Devi saat membuka FGD.
Menurutnya, penguatan ekosistem agroforestri yang berkelanjutan perlu didukung oleh berbagai aspek mulai dari riset, pengembangan teknologi, akses pembiayaan, sertifikasi produk, hingga perluasan akses pasar global.
Dengan dukungan tersebut, Indonesia tidak hanya dapat meningkatkan daya saing ekspor, tetapi juga memperbaiki kesejahteraan petani dan masyarakat sekitar kawasan hutan tanpa mengabaikan aspek pelestarian lingkungan.
Baca juga: Mengapa Gibran dan Luhut Giat Mendorong Hilirisasi Kemenyan?
Devi menilai keberhasilan hilirisasi HHBK tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, lembaga penelitian, dan masyarakat untuk membangun rantai pasok dan rantai nilai yang kompetitif.
“Dengan penguatan ekosistem, saya yakin agroforestri yang berkelanjutan, didukung dengan riset, teknologi, pembiayaan, serta sertifikasi, akses pasar global kita dapat tingkatkan, dan juga kesejahteraan petani, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan hutan kita,” paparnya.
Oleh karena itu, Kadin Indonesia berharap forum diskusi tersebut dapat menghasilkan berbagai rekomendasi strategis dan langkah konkret untuk mempercepat hilirisasi hasil hutan bukan kayu, khususnya di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara (Sumut), yang memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas kemenyan dan nilam.
“Oleh karena itu, saya berharap forum ini diharapkan dapat menghasilkan gagasan, rekomendasi, dan juga langkah konkret yang dapat mempercepat hilirisasi HHBK, khususnya di Kabupaten Humbang Hasundutan sebagai satu daerah potensial di Indonesia,” tukas dia.
Kadin Indonesia siap berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung percepatan hilirisasi hasil hutan bukan kayu dan pengembangan agroforestri nasional.
Sementara itu, Bupati Humbang Hasundutan Oloan Paniaran Nababan mengatakan komoditas kemenyan memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat setempat karena tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki nilai sosial, budaya, dan historis yang kuat.
Kemenyan telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Batak selama berabad-abad dan menjadi warisan budaya yang terus dijaga hingga saat ini.
“Kemenyan bukan sekedar komoditas perdagangan, tetapi telah menjadi identitas dan warisan budaya masyarakat Batak,” ungkap Oloan.
Karena itu, ia menilai pengelolaan hasil hutan bukan kayu tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan produksi semata, tetapi juga harus memperhatikan aspek keberlanjutan hutan dan pelestarian lingkungan.
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan, luas areal perkebunan kemenyan di wilayah tersebut mencapai 5.547,70 hektare dengan total produksi sekitar 1.173,75 ton per tahun.
Sementara itu, luas areal perkebunan nilam mencapai 122,50 hektare dengan produksi sekitar 109,93 ton per tahun.
Oloan mencatat potensi tersebut menjadikan Humbang Hasundutan sebagai salah satu daerah yang memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pengembangan industri berbasis hasil hutan bukan kayu.
Namun demikian, selama ini sebagian besar hasil produksi masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah yang diperoleh petani dan masyarakat relatif rendah.
“Selama ini banyak produksi hasil hutan bukan kayu dijual dalam bentuk bahan mentah dengan nilai yang masih rendah,” kata dia.
Untuk itu, pemerintah daerah mendorong pembangunan industri pengolahan di daerah, peningkatan kualitas produk, perluasan akses pasar, serta penguatan sertifikasi dan standarisasi agar produk-produk HHBK mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Menurut Oloan, pembangunan ekosistem agroforestri merupakan langkah strategis dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan daerah, mulai dari peningkatan pendapatan masyarakat, pengurangan kemiskinan, pelestarian kawasan hutan, hingga penciptaan lapangan kerja baru berbasis potensi lokal.
Pengembangan hasil hutan bukan kayu tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah daerah, melainkan membutuhkan dukungan dan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan.
Oloan juga menegaskan kualitas kemenyan yang dihasilkan Kabupaten Humbang Hasundutan merupakan yang terbaik di dunia dan memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk hilir bernilai tambah tinggi.
“Kemenyan yang ada di Kabupaten Hutan ini nomor satu kualitas di dunia. Sekali lagi kami sampaikan kemenyan yang ada di Kabupaten Humbang Hasundutan ini kualitas nomor satu di dunia. Oleh karena itu saya berharap hasil diskusi kita nanti bisa berkelanjutan dan bisa ditindaklanjuti dan berkunjung ke Kabupaten Humbang Hasundutan,” lanjutnya.
Tag: #bidik #pasar #ekspor #kadin #pemerintah #siapkan #hilirisasi #kemenyan #nilam #damar