Kuba Tak Lagi Digdaya, Tapi Rekam Jejak Militernya Pernah Bikin AS Waspada
Kuba disebut tengah menghadapi tekanan berat akibat salah urus ekonomi dan meningkatnya ancaman dari pemerintahan Donald Trump.
Namun di balik kondisinya saat ini, Kuba pernah menjadi salah satu negara kecil dengan pengaruh geopolitik paling besar di era Perang Dingin, mulai dari menghadapi Amerika Serikat hingga mengirim pasukan ke Afrika dan Timur Tengah.
Warisan operasi militer, revolusi, dan jaringan intelijen Kuba selama puluhan tahun bahkan disebut masih membentuk pandangan Washington terhadap Havana hingga sekarang.
Baca juga: AS Cari Orang Dalam untuk Gulingkan Rezim Kuba, Mau Ulangi Kesuksesan di Venezuela
Awal permusuhan dengan AS
Dilansir Wall Street Journal, Minggu (24/5/2026), pada 1961, sekitar 1.400 warga pengasingan Kuba yang dilatih Central Intelligence Agency (CIA) mendarat di Teluk Babi di pantai selatan Kuba untuk menggulingkan pemerintahan Fidel Castro.
Namun, Fidel dan saudaranya, Raul Castro, disebut telah siap menghadapi serangan tersebut. Setelah tiga hari pertempuran, pasukan Kuba berhasil menangkap sebagian besar penyerang yang kehabisan amunisi.
Kurangnya dukungan udara yang dijanjikan Presiden AS saat itu, John F. Kennedy, membuat misi tersebut gagal total. Kemenangan itu sekaligus memperkuat kekuasaan keluarga Castro di Kuba.
Kuba kirim pasukan ke Afrika dan Timur Tengah
Kuba juga pernah mengerahkan puluhan ribu tentaranya ke Afrika pada 1970-an dan 1980-an. Pasukan Kuba membantu pemerintahan Marxis Angola melawan pasukan Afrika Selatan pada era apartheid.
Selain itu, Kuba mendukung kelompok pemberontak di Republik Demokratik Kongo dan membantu Ethiopia menahan invasi Somalia. Ratusan tentara Kuba juga diterjunkan untuk membantu Aljazair dalam konfliknya melawan Maroko.
Lebih dari 400 ribu personel militer dan staf pendukung Kuba pernah bertugas di Afrika, menjadi salah satu pengerahan terbesar yang pernah dilakukan negara berkembang selama Perang Dingin.
Tak hanya di Afrika, Kuba juga mengirim brigade tempur lapis baja lengkap dengan tank Soviet T-62 ke Syria saat Perang Yom Kippur 1973. Tank yang diawaki pasukan Kuba disebut sempat terlibat duel melawan pasukan Israel.
Ekspor revolusi ke Amerika Latin
Havana juga dikenal aktif menyebarkan revolusi ke berbagai negara Amerika Latin. Saat Amerika Serikat mendukung rezim diktator militer di kawasan tersebut, Kuba memberikan pelatihan, dana, dan intelijen kepada kelompok mahasiswa dan gerilyawan dari Amerika Tengah hingga Argentina.
Salah satu keberhasilan terbesar Kuba disebut terjadi di Nicaragua. Havana membantu menggulingkan diktator Anastasio Somoza pada 1979 dengan memberikan pelatihan, bantuan militer, dan intelijen kepada gerilyawan Sandinista.
Namun Kuba juga mengalami kekalahan besar setelah Che Guevara, tokoh revolusioner asal Argentina yang membantu Castro merebut kekuasaan di Kuba, ditangkap dan dieksekusi di Bolivia oleh pasukan Bolivia yang didukung CIA.
Baca juga: Militer Kuba Dulu Kelas 1, Kini Seberapa Kuat Lawan AS?
Bentrok langsung dengan pasukan AS
Pasukan Kuba bahkan pernah bentrok langsung dengan militer Amerika Serikat di Grenada pada 1983.
Saat itu, AS menginvasi Grenada dengan sekitar 8.000 tentara karena khawatir terhadap ekspansi Kuba dan Uni Soviet.
Mereka menghadapi pasukan Grenada dan hampir 800 warga Kuba, sebagian besar pekerja konstruksi bersenjata yang sedang membangun bandara di pulau tersebut.
Amerika Serikat menilai bandara itu bisa menjadi ancaman strategis bila digunakan pesawat Soviet.
Mata-mata Kuba menyusup ke Pemerintah AS
Kuba bahkan disebut pernah merekrut pejabat Amerika Serikat menjadi mata-mata.
Salah satunya adalah Ana Belen Montes, analis Badan Intelijen Pertahanan yang selama 16 tahun bekerja untuk pemerintah AS, termasuk delapan tahun sebagai analis senior Kuba di lembaga tersebut. Karena pengetahuannya soal Kuba, ia dijuluki “Ratu Kuba” oleh rekan-rekannya.
Selain itu ada Manuel Rocha, mantan diplomat AS yang selama dua dekade bekerja di Departemen Luar Negeri AS dan pernah menjabat sebagai duta besar AS untuk Bolivia.
Pengaruh Kuba di Venezuela
Presiden Venezuela Nicolas Maduro saat berpidato di hadapan massa pendukungnya dalam kampanye menjelang pemilihan kepala daerah di Caracas, 22 Mei 2025. Maduro ditangkap AS pada 3 Januari 2026. Profil Nicolas Maduro, Presiden Venezuela yang Ditangkap AS dan Tuduhan yang Menjeratnya
Kuba juga disebut memiliki pengaruh besar terhadap pemerintahan Hugo Chavez dan Nicolas Maduro di Venezuela, khususnya dalam pengembangan aparat keamanan dan intelijen negara tersebut.
Namun pukulan besar bagi Kuba terjadi setelah operasi militer AS pada Januari lalu yang diklaim berhasil menangkap Maduro di Caracas.
Dalam operasi itu, 32 tentara dan petugas intelijen Kuba yang menjadi bagian dari pengamanan Maduro dilaporkan tewas.
Berakhirnya pemerintahan Maduro juga disebut menghentikan pasokan minyak Venezuela yang sangat penting bagi Kuba.
Baca juga: 3 Skenario yang Bisa Terjadi Usai AS Mendakwa Eks Pemimpin Kuba, Raul Castro
Tag: #kuba #lagi #digdaya #tapi #rekam #jejak #militernya #pernah #bikin #waspada