Beri Efek Jera ke AS, Teheran Pakai Taktik Ulur Waktu
- Iran dinilai siap mengulur waktu dalam perangnya melawan Amerika Serikat (AS) yang saat ini masih berkecamuk.
Hal tersebut dilakukan Teheran demi memastikan kelangsungan hidup negara dan membangun kembali kekuatan efek jera yang baru.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Ross Harrison, seorang senior fellow sekaligus editor seri buku di Middle East Institute, menanggapi situasi terkini di kawasan tersebut.
Baca juga: Bukan Tarif Tol, Iran Sebut Pungutan di Selat Hormuz untuk Biaya Keamanan
Pernyataan Harrison ini mencuat untuk merespons komentar terbaru dari Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei.
Baghaei sebelumnya menyatakan bahwa kedua negara telah mencapai sebuah kerangka kerja, namun dia menegaskan bahwa kesepakatan belum akan terjadi dalam waktu dekat.
Menurut Harrison, langkah Iran yang tidak terburu-buru ini merupakan bagian dari strategi besar untuk bertahan hidup dan memulihkan posisi tawarnya.
"Bagi warga Iran, ini bukan hanya soal waktu, tetapi juga tentang bertahan hidup," kata Harrison kepada Al Jazeera.
"Dan ini adalah tentang kemampuan untuk keluar dari konflik ini, dengan membangkitkan kembali beberapa bentuk efek jera," sambungnya, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Senin (25/5/2026).
Baca juga: AS dan Iran Capai Kesepakatan Awal soal Selat Hormuz, Pasar Energi Belum Tenang
Harrison menambahkan, bentuk pertahanan yang diupayakan Iran saat ini sangat berbeda dengan pola yang mereka gunakan sebelum perang pecah.
"Kali ini, ini adalah jenis efek jera yang berbeda dari apa yang ada sebelum perang ini, yang lebih merupakan efek jera tidak langsung melalui proksi Iran," papar Harrison.
Lebih lanjut, Harrison melihat ada determinasi kuat dari Teheran untuk terus bertahan hingga konflik selesai, selama mereka meyakini adanya jaminan masa depan bagi perekonomian mereka.
Pihak Iran juga disebut memanfaatkan situasi waktu yang kian menyudutkan posisi AS.
"Iran bersedia mengulur waktu, dan mereka mengandalkan fakta bahwa waktu berjalan lebih cepat bagi AS," pungkas Harrison.
Baca juga: AS-Iran Bersiap Sepakati Gencatan Senjata 60 Hari, Kompak Buka Blokade Selat Hormuz
Kemungkinan perang berakhir
Diberitakan sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pada Senin bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran bisa saja terwujud hari ini.
Meski demikian, dia menekankan bahwa situasi masih belum pasti dan negosiasi terus berjalan di belakang layar.
Pernyataan itu disampaikan Rubio saat kunjungan resminya ke India, sebagaimana dilansir AFP.
"Kami pikir mungkin ada kabar tadi malam, mungkin hari ini, saya tidak akan terlalu membacanya secara berlebihan," ujar Rubio, merujuk pada potensi kesepakatan yang sedang dibahas.
Dia juga menyebut terdapat proposal yang dinilainya cukup kuat, terutama terkait pembukaan Selat Hormuz.
Baca juga: Iran Klaim Tetap Kuasai Selat Hormuz meski Sepakat Damai dengan AS
Menurut Rubio, rencana tersebut mendapat dukungan luas dari negara-negara Teluk.
Ia juga menyampaikan keyakinan bahwa Iran akan memasuki proses negosiasi yang serius terkait isu nuklir.
Pernyataan Rubio juga muncul setelah Presiden AS Donald Trump meredam ekspektasi publik soal kesepakatan cepat.
Trump mengatakan pada Minggu (24/5/2026) bahwa dia telah meminta para negosiatornya untuk tidak tergesa-gesa.
"Dia tidak sedang terburu-buru, dia tidak akan membuat kesepakatan yang buruk, dan presiden tidak akan membuat perjanjian yang buruk," kata Rubio.
Baca juga: AS dan Sekutu Siapkan Rencana B jika Iran Tolak Buka Selat Hormuz