Terjepit Tekanan AS, Kuba Siap Buka Pintu Negosiasi dengan Washington
- Pemerintah Kuba menyatakan sikap terbuka untuk melakukan perombakan di sektor ekonomi maupun sistem pemerintahannya, sekaligus berambisi melanjutkan kembali meja negosiasi dengan Amerika Serikat (AS).
Kendati demikian, pihak Havana mengaku skeptis dan tidak percaya bahwa Washington bersedia terlibat dalam diskusi tersebut dengan itikad yang baik.
“Kuba bersedia membicarakan segala hal dengan AS. Tidak ada topik tabu dalam percakapan kami, atas dasar timbal balik dan kesetaraan,” tegas Duta Besar Kuba untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ernesto Soberon Guzman, dalam sebuah wawancara, seperti dikutip dari The New York Times, Rabu (20/5/2026).
"Jelas hal itu tidak membantu iklim dialog dan kepercayaan karena setiap hari ada pernyataan seperti, 'Kami siap mengambil alih Kuba,'” sambung Guzman menyindir komentar terbaru dari Presiden AS Donald Trump.
Baca juga: AS Dakwa Eks Presiden Kuba Raul Castro, Sinyal Gulingkan Rezim?
Guzman menilai, retorika politik yang cenderung memicu perang sama sekali tidak akan membantu menyelesaikan akar masalah kedua belah negara.
Sesi wawancara khusus selama satu jam ini menjadi momen langka, mengingat ini adalah kali pertama dalam beberapa tahun terakhir seorang pejabat aktif dari pemerintahan Kuba bersedia memberikan pernyataan resmi kepada media Barat.
Guzman menjelaskan, Havana sengaja membuka pintu komunikasi ini sebagai langkah strategis untuk menyampaikan pesan kepada publik AS bahwa Kuba murni menginginkan perdamaian dan kerja sama.
Baca juga: Trump Ungkit Tragedi Penembakan Pesawat AS 1996, Mau Adili Eks Presiden Kuba
Tekanan AS yang kian agresif
Sikap melunak Kuba ini muncul di tengah tekanan politik yang kian meningkat setelah jaksa penuntut umum AS secara resmi melayangkan dakwaan terhadap mantan presiden Kuba, Raul Castro.
Ia dituding bersalah karena memerintahkan militer menembak jatuh dua pesawat sipil di wilayah udara Kuba pada 1996 silam.
Langkah hukum ini dinilai sebagai salah satu manuver paling agresif dalam kampanye AS selama beberapa bulan terakhir untuk menekan rezim Kuba agar mau menyerahkan kekuasaan.
Di bawah komando Trump, Washington telah menerapkan blokade pasokan minyak yang efektif terhadap Kuba.
Baca juga: Disebut Bersiap Serang AS, Kuba Dilaporkan Borong 300 Drone dari Rusia dan Iran
Kebijakan embargo ketat ini telah memicu krisis domestik parah di pulau tersebut, mulai dari kelangkaan bahan pangan, lumpuhnya layanan kesehatan, lonjakan harga bensin, hingga pemadaman listrik massal yang bisa berlangsung hingga 22 jam sehari.
Merespons krisis tersebut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio merilis sebuah video yang ditujukan langsung kepada masyarakat Kuba pada Rabu.
Rubio berdalih bahwa Washington bukan menjadi dalang di balik penderitaan rakyat Kuba.
“Alasan sebenarnya mengapa Anda tidak memiliki listrik, bahan bakar, atau makanan adalah karena mereka yang mengendalikan negara Anda telah menjarah miliaran dollar AS, tetapi tidak ada yang digunakan untuk membantu rakyat,” tuding Rubio.
“Presiden Trump menawarkan hubungan baru antara AS dan Kuba. Tetapi hubungan itu harus langsung dengan Anda, rakyat Kuba, bukan dengan GAESA (konglomerat bisnis milik militer Kuba),” tambah Rubio lagi.
Baca juga: Kuba Siaga Perang, Warga Bersiap Hadapi Invasi AS Usai Bos CIA Datang
Sebut tudingan AS sebagai penghinaan
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio saat berbicara kepada awak media setelah pertemuan para Menlu G7, sebelum kepulangannya ke AS melalui Bandara Le Bourget, luar Paris, Perancis, 27 Maret 2026
Guzman pun mengecam pernyataan Rubio dan menganggapnya sebagai penghinaan.
"Bagi siapa pun yang memiliki sedikit akal sehat, merupakan penghinaan terhadap kecerdasan manusia," tegas dia.
Menurutnya, AS telah menghentikan aliran minyak Venezuela yang pernah mendukung Kuba. Washington pulalah yang mengancam negara-negara lain untuk menghentikan pengiriman minyak mereka sendiri ke pulau tersebut.
“Jika Anda terus mengambil dan mengambil tanpa memberikan apa pun kembali, Anda akan kehabisan,” katanya.
Pemerintahan Trump telah menawarkan Kuba bantuan makanan dan obat-obatan senilai 100 juta dollar AS untuk meringankan dampak krisis energi, meskipun mereka menetapkan bahwa bantuan tersebut harus disalurkan melalui Gereja Katolik atau kelompok tepercaya lainnya.
Baca juga: Kuba Krisis Energi sampai Minyak Habis Total, Bos CIA Tiba-tiba Datang
Ia menyatakan, Kuba berencana untuk menerima bantuan tersebut, tetapi juga menyebutnya sebagai "penghinaan."
Guzman menyalahkan embargo perdagangan AS dan blokade minyak sebagai penyebab banyak masalah ekonomi di pulau itu, meskipun ekonomi terencana negara juga telah lama berkontribusi pada kemiskinan yang meluas.
Di tengah meningkatnya ketegangan, AS dan Kuba telah terlibat dalam pembicaraan selama berbulan-bulan.
Direktur CIA, John Ratcliffe bahkan melakukan perjalanan ke Havana pekan lalu untuk menuntut agar Kuba melakukan perombakan ekonomi yang signifikan dan memblokir operasi intelijen Rusia dan China.
CIA menyatakan, AS siap untuk terlibat secara serius dalam masalah ekonomi dan keamanan, tetapi hanya jika Kuba melakukan perubahan mendasar.
Tag: #terjepit #tekanan #kuba #siap #buka #pintu #negosiasi #dengan #washington