Ebola Mengganas di Afrika, Menlu AS Kritik WHO Lamban Identifikasi Wabah
Ilustrasi virus ebola. (Freepik/rorozoa)
09:42
20 Mei 2026

Ebola Mengganas di Afrika, Menlu AS Kritik WHO Lamban Identifikasi Wabah

- Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio melontarkan kritik tajam kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Rubio menilai badan kesehatan di bawah naungan PBB tersebut lamban dalam mengidentifikasi wabah virus Ebola yang mematikan baru-baru ini.

Pernyataan tersebut disampaikan Rubio pada Selasa (19/5/2026) saat ditanya oleh awak media mengenai langkah AS dalam merespons penyebaran virus tersebut.

Baca juga: Peringatan WHO, Dunia Makin Berbahaya Usai Wabah Ebola dan Hantavirus

"Garda terdepan (dalam penanganan) ini jelas adalah CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) serta WHO, yang sayangnya agak terlambat dalam mengidentifikasi hal ini," kata Rubio, sebagaimana dilansir AFP.

Rubio menambahkan bahwa upaya penanganan di lapangan menghadapi kendala geografis yang cukup berat. 

Menurutnya, wilayah-wilayah yang terdampak berada di lokasi yang sulit diakses karena situasi keamanan yang tidak stabil.

Baca juga: WHO Deklarasikan Keadaan Darurat Kesehatan Global untuk Varian Ebola Langka

"Berada di tempat yang sulit dijangkau di negara yang dilanda perang, sayangnya," ujar Rubio.

Kritik juga disampaikan oleh seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri AS yang enggan disebutkan namanya. 

Dia membeberkan bahwa WHO membutuhkan waktu hingga 10 hari hanya untuk mengonfirmasi wabah Ebola tersebut, sehingga AS kehilangan waktu krusial untuk penanganan awal.

"Kami sekarang berada di hari keempat dalam merespons. Seharusnya kami bisa berada di hari ke-14," ungkap pejabat tersebut.

Baca juga: Ethiopia Konfirmasi Wabah Virus Marburg yang Mematikan Mirip Ebola

Pejabat itu juga mengungkit rekam jejak WHO yang dianggapnya telah gagal berulang kali, termasuk dalam penanganan pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.

"WHO telah gagal berkali-kali sekarang. Jelas, semua orang sudah sangat mengenal apa yang mereka lakukan, menutupi pandemi Covid-19 demi Partai Komunis China," tudingnya.

Terkait tuduhan tersebut, WHO membantah tudingan AS yang menyebut mereka terlalu lunak atau membantu China menyembunyikan awal mula penyebaran Covid-19. 

WHO menegaskan, sebagai lembaga kesehatan global, mereka dituntut untuk bekerja sama dengan seluruh negara di dunia.

Baca juga: Presiden Uganda Perpanjang Masa Karantina 2 Distrik Episentrum Ebola

AS potong dana

Kritik dari lingkaran pemerintahan AS ini mencuat di tengah kebijakan pemotongan anggaran bantuan luar negeri secara drastis oleh Presiden AS Donald Trump

Trump bahkan telah membubarkan USAID yang sebelumnya merupakan lembaga bantuan pemerintah terbesar di dunia.

Alasannya, AS harus fokus mengejar kepentingannya sendiri secara lebih spesifik.

Saat kembali menjabat tahun lalu, salah satu langkah awal Trump adalah memulai proses penarikan diri AS dari keanggotaan WHO.

Baca juga: Kasus Ebola Sudan di Uganda Menurun 3 Minggu Beruntun

AS bahkan sebelumnya menjadi donor paling loyal dengan kucuran lebih dari 1 miliar dollar AS per tahun di era Presiden Joe Biden.

Keputusan ini berakar dari kekecewaan mendalam Trump atas penanganan Covid-19 oleh WHO.

Secara signifikan memukul jalannya periode pertama pemerintahannya sebelum kalah dari Biden pada Pemilu 2020.

Akibat penghentian dana dari AS, WHO kini terpaksa melakukan efisiensi dan pemotongan anggaran operasional besar-besaran.

Baca juga: Wabah Ebola di Uganda: Kematian Pertama Dilaporkan di Ibu Kota Kampala

Kendati tengah menarik diri dari WHO dan memangkas bantuan luar negeri, pemerintah AS menyatakan tetap berkomitmen menangani krisis Ebola secara bilateral. 

Kementerian Luar Negeri AS mengumumkan akan mengucurkan dana awal sebesar 13 juta dollar AS untuk membiayai hingga 50 pusat pengobatan Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo atau Uganda.

Sebelumnya pada hari yang sama, WHO sempat menyatakan kekhawatiran mendalam atas "skala dan kecepatan" penularan wabah Ebola kali ini. 

Berdasarkan laporan otoritas kesehatan RD Kongo, penyebaran virus mematikan tersebut sejauh ini telah menyebabkan 136 korban jiwa yang berstatus suspek.

Baca juga: Wabah Ebola di Uganda Terus Berkembang, Petugas Kesehatan Mulai Terjangkit dan Tewas

Tag:  #ebola #mengganas #afrika #menlu #kritik #lamban #identifikasi #wabah

KOMENTAR