Negara Teluk Mulai Panik karena AS Makin ''Melempem'' Terhadap Iran
Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman (AFP/GIUSEPPE CACACE)
05:30
10 Mei 2026

Negara Teluk Mulai Panik karena AS Makin ''Melempem'' Terhadap Iran

- Upaya Amerika Serikat (AS) untuk mengabaikan insiden saling serang dengan Iran pekan ini memperdalam kekhawatiran di antara negara-negara Teluk.

Mereka beranggapan bahwa kesepakatan apa pun untuk mengakhiri perang membuat negaranya rentan terhadap konflik di masa mendatang dengan Iran.

Sebelumnya, Jenderal Dan Caine, ketua Kepala Staf Gabungan AS, menganggap serangan yang dilancarkan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz pekan ini sebagai “serangan gangguan yang tidak berarti.”

Upaya mengecilkan dampak serangan tersebut dilakukan ketika pemerintahan Trump mencoba melindungi gencatan senjata dan menjaga agar perundingan perdamaian terus berjalan.

Baca juga: Takut Iran, Sekutu Teluk Larang AS Pakai Pangkalan dan Wilayah Udara


Negara-negara Teluk mulai khawatir

Namun bagi negara-negara Teluk, yang menjadi lokasi instalasi militer utama AS di Timur Tengah, serangan Iran merupakan momen memalukan dalam konflik yang juga telah sangat merusak keamanan dan perekonomian mereka.

Dilansir Wall Street Journal, Jumat (8/5/2026), para pejabat senior Teluk mengatakan, mereka kini khawatir kesepakatan untuk mengakhiri konflik hanya akan berfokus pada kekhawatiran utama AS, yakni program nuklir Iran.

Sementara itu, justru membiarkan apa yang dianggap sebagai ancaman utama bagi keamanan mereka: rudal konvensional rezim tersebut dan milisi-milisi sekutunya.

“Adanya Iran yang marah, terluka, dan terpojok merupakan hal yang buruk bagi negara-negara Teluk, karena Iran tidak lagi dapat dikendalikan seperti sebelum perang,” kata Dania Thafer, direktur eksekutif Gulf International Forum, lembaga think tank yang berbasis di Washington.

Baca juga: Ditekan Sekutu Teluk, Trump Hentikan Operasi AS di Selat Hormuz

Keberadaan pangkalan militer AS jadi dilema

Personel Angkatan Laut Amerika Serikat saat berjaga di kapal USS Monterey (CG 61) yang sedang transit di Selat Hormuz pada 3 Juni 2021.US NAVY/CHELSEA PALMER via AFP Personel Angkatan Laut Amerika Serikat saat berjaga di kapal USS Monterey (CG 61) yang sedang transit di Selat Hormuz pada 3 Juni 2021.

Negara-negara Teluk selama bertahun-tahun telah menjadi tuan rumah pangkalan militer AS dengan harapan pangkalan tersebut akan memberi mereka keamanan.

Mereka telah lama mengandalkan hubungan keamanan dengan Amerika sebagai benteng pertahanan terhadap Iran.

Pangkalan-pangkalan tersebut menuai kontroversi di kalangan masyarakat Arab, dan justru menjadi beban ketika serangan balasan Iran menargetkan pangkalan-pangkalan tersebut.

Qatar, khususnya, mulai mempertanyakan kebijakan tersebut. Namun, menghentikan kemitraan militer dengan AS bukanlah hal yang mudah.

Sebab sistem pertahanan negara-negara Teluk sangat bergantung pada peralatan, pemeliharaan, dan pelatihan dari Washington.

Baca juga: Intel AS Sebut Mojtaba Khamenei Ada di Balik Layar Perang Iran, Apa Perannya?

AS tidak mempedulikan negara Teluk saat memulai perang

Negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), selama bertahun-tahun menjaga keamanan dengan mempertahankan jalur komunikasi terbuka dengan Teheran sambil memperdalam hubungan pertahanan dengan AS.

Kini mereka sedang mengevaluasi kembali ketergantungan mereka pada Washington, menyadari bahwa mereka memiliki sedikit pengaruh atas tindakan militer AS.

Ditambah fakta bahwa pangkalan-pangkalan AS di wilayahnya tidak menghalangi Iran untuk menyerang mereka, kata para pejabat senior Teluk.

Baca juga: Pentagon Klaim Iran Rugi Rp 83 T akibat Blokade AS di Teluk

“Ketika AS melancarkan serangan, mereka tidak mempertimbangkan kekhawatiran keamanan negara-negara GCC,” ujar Mohammed Baharoon, direktur jenderal Pusat Penelitian Kebijakan Publik Dubai, lembaga pemikir swasta Emirat.

“Kami tidak dilibatkan dalam penilaian tersebut,” sambungnya

Mungkin untuk meredakan kekhawatiran di antara sekutu-sekutu Teluk, Rubio pekan ini menyetujui penjualan senjata senilai 25,8 miliar dollar AS (Rp 448 triliun) kepada mitra-mitra di Timur Tengah.

Nilai tersebut tiga kali lipat dari jumlah yang sebelumnya diumumkan oleh pemerintahan pekan lalu.

Baca juga: Mojtaba Khamenei Usir” AS dari Teluk, Klaim Kelola Selat Hormuz demi Kebaikan Kawasan

GCC pertimbangkan bentuk aliansi internal

Ilustrasi Selat Hormuz. Jalur Pipa Arab Saudi Hindari Selat Hormuz, Bisakah Menjadi Solusi Perdagangan Minyak Dunia?Google Maps Ilustrasi Selat Hormuz. Jalur Pipa Arab Saudi Hindari Selat Hormuz, Bisakah Menjadi Solusi Perdagangan Minyak Dunia?

Negara-negara GCC kini terpecah secara internal mengenai bagaimana mendekati Iran, serta AS dan Israel, di masa depan.

Mereka berbeda pendapat karena sebagian negara menarasa serangan Iran tidak merugikan mereka secara merata.

Para pengambil keputusan di Teluk juga memperdebatkan apakah akan membangun aliansi militer yang kuat di antara mereka sendiri.

Namun beberapa meragukan bahwa mereka akan mampu membangun industri militer mandiri yang dapat mencegah Iran, kata beberapa pejabat senior Teluk.

Baca juga: UEA Keluar OPEC, Masalah Besar Menanti Teluk

Tidak ada cara mudah bagi negara-negara Teluk untuk mencegah serangan Iran di masa depan, kata Dina Esfandiary, analis Timur Tengah.

“Satu-satunya cara untuk membangun kembali daya pencegahan adalah melalui kombinasi penahanan dan keterlibatan,” jelas dia.

“Dan membangun hubungan dengan Iran agar mereka tidak melakukan serangan udara terhadap wilayah Anda. Tetapi saya rasa negara-negara Teluk Arab tidak semuanya melihatnya seperti itu,” katanya.

Tag:  #negara #teluk #mulai #panik #karena #makin #melempem #terhadap #iran

KOMENTAR