Dikira Sengsara akibat Sanksi, Ekonomi Korea Utara Malah Meroket
- Ekonomi Korea Utara (Korut) dilaporkan mengalami lonjakan tak terduga dengan mencatat pertumbuhan sebesar 3,7 persen pada 2024.
Pertumbuhan tersebut membuat Korea Utara mengalami laju ekonomi tercepat dalam delapan tahun terakhir, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Senin (8/6/2026).
Hal tersebut menempatkan posisi ekonomi Korut di titik terkuat dalam 15 tahun masa pemerintahan Kim Jong Un.
Baca juga: Korea Utara Ungkap Pabrik Baru Uranium untuk Senjata Nuklir
Lonjakan tersebut tak lepas dari pasokan senjata ke Rusia, pemulihan perdagangan dengan China, serta modernisasi domestik.
Kebangkitan tersebut dikonfirmasi langsung oleh Kim Jong Un dalam kongres Partai Pekerja.
"Segalanya telah berubah secara mendasar," tegas Kim, merujuk pada keberhasilan pembangunan di tengah sanksi internasional yang dipimpin Amerika Serikat (AS).
Stephan Haggard, peneliti ekonomi Korut dari University of California, San Diego, menilai capaian ini luar biasa bagi negara semiskin Korut.
Baca juga: Gara-Gara Ucapan Jenderal AS, Korea Utara Marah Besar
Faktor pendorong utama lonjakan ini adalah kedekatan geopolitik dengan Moskow dan Beijing.
Berdasarkan data Institute for National Security Strategy (INSS) di Seoul, Korut meraup lebih dari 10 miliar dollar AS dari penjualan amunisi ke Rusia serta setengah miliar dollar AS dari pengiriman 15.000 tentara.
Di saat yang sama, perdagangan bulanan dengan China menyentuh level tertinggi dalam delapan tahun, disusul pendapatan miliaran dollar AS dari aksi peretasan kripto oleh pasukan siber Korut.
Mantan pejabat AS, Jung H Pak, menyatakan, rezim ini jauh lebih kaya dari sebelumnya.
Baca juga: Tanpa China, Bisakah Ekonomi Korea Utara Bertahan?
Aliran dana tersebut mengubah wajah ibu kota Pyongyang menjadi pusat aktivitas digital dan gaya hidup modern.
Warga elite kini terbiasa menggunakan aplikasi taksi online "Samhung" serta sistem pembayaran QR code lewat ponsel pintar yang produksinya kini mencapai 500.000 unit per tahun.
"Ini benar-benar baru, saya sangat terkejut," ujar Rowan Beard, operator tur asal Australia.
Selain itu, jalanan Pyongyang mulai dipadati mobil listrik asal China, toko hewan peliharaan, hingga restoran mewah berlantai kaca.
Baca juga: Korea Utara Uji Peluncur Rudal Multiguna Baru, Kim Jong Un Awasi Langsung
Kim Jong Un juga memicu booming konstruksi nasional.
Tahun lalu, Korut membangun 10.000 rumah baru di Pyongyang, mengalahkan volume pembangunan di Los Angeles dan Chicago.
Pembangunan fasilitas publik seperti rumah sakit terbesar dan kompleks rumah kaca raksasa juga berhasil dirampungkan.
Menurut peneliti DailyNK, Lee Sang-yong, sebagian dana siber dan senjata ini mulai mengalir ke masyarakat melalui lapangan kerja baru resmi di daerah pedesaan.
Baca juga: Xi Jinping Akan Berkunjung ke Korea Utara, Bahas Masalah Donald Trump
"Beberapa dana yang diperoleh rezim Kim melalui penjualan senjata dan peretasan mengalir ke masyarakat," kata Lee.
Meskipun kemakmuran terlihat di Pyongyang, laporan PBB mengingatkan kesenjangan masif masih terjadi, di mana hampir setengah dari 26 juta penduduk Korut di luar ibu kota tetap mengalami kekurangan gizi.
Kendati demikian, penguatan ekonomi yang masif ini dinilai meredupkan harapan AS untuk melakukan negosiasi denuklirisasi.
Pasalnya, Pyongyang kini tidak lagi memedulikan iming-iming pelonggaran sanksi ekonomi dari Washington.
Baca juga: Korea Utara Akan Luncurkan Senjata Nuklir jika Kim Jong Un Terbunuh
Tag: #dikira #sengsara #akibat #sanksi #ekonomi #korea #utara #malah #meroket