Kunjungi Korut, Xi Jinping Tegaskan Tak Tinggalkan Kim Jong Un
Presiden China Xi Jinping didampingi oleh Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un memeriksa barisan kehormatan dari tiga angkatan bersenjata Tentara Rakyat Korea di Pyongyang, Korea Utara, Senin (8/6/2026). Kim mengadakan upacara penyambutan besar untuk Xi di Lapangan Kim Il Sung di Pyongyang.(XINHUA/ZHAI JIANLAN)
20:42
8 Juni 2026

Kunjungi Korut, Xi Jinping Tegaskan Tak Tinggalkan Kim Jong Un

- Karpet merah digelar di Pyongyang menyambut kedatangan Presiden China Xi Jinping dalam kunjungan kenegaraan yang langka ke Korea Utara pada Senin (8/6/2026).

Kantor berita Xinhua melaporkan, dentuman meriam sebanyak 21 kali membahana di Lapangan Kim Il Sung.

Seiring dengan itu, ada pelepasan balon udara dan sorak-sorai warga di bawah potret raksasa kedua pemimpin negara tersebut.

Baca juga: Xi Jinping ke Korea Utara, China Khawatir Kim Jong Un Makin Dekat Rusia?

Xi Jinping, didampingi istrinya Peng Liyuan serta sejumlah pejabat tinggi seperti Cai Qi, Menteri Luar Negeri Wang Yi, Menteri Pertahanan Dong Jun, dan Menteri Perdagangan Wang Wentao, disambut langsung oleh Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan istrinya, Ri Sol Ju.

Kunjungan dua hari ini menandai kehadiran pertama Xi di negara tetangganya tersebut dalam tujuh tahun terakhir, sekaligus menjadi perjalanan internasional pertamanya tahun ini.

Dalam pertemuan puncak tersebut, Xi menegaskan bahwa negaranya tidak akan goyah dalam mendukung Kim Jong Un serta menjaga kepentingan bersama. 

Hubungan kedua negara bertetangga ini disebutnya tengah berada di titik awal sejarah baru, sebagaimana dilansir Reuters.

Baca juga: Disambut Meriah Kim Jong Un di Pyongyang, Lawatan Xi Jinping Sinyal Prioritas Beijing

Xi meminta kedua negara memperkuat ikatan strategis demi melindungi kedaulatan, keamanan, dan kepentingan pembangunan mereka. 

Xi juga menegaskan bahwa apa pun perubahan situasi internasional yang terjadi, China akan tetap menjunjung tinggi persahabatan tradisional mereka.

"Dukungan kuat untuk kepemimpinan Kamerad Sekretaris Jenderal Kim Jong Un atas perjuangan sosialis DPRK (Republik Demokratik Rakyat Korea) tidak akan berubah, dan tekad kuat untuk menjaga kepentingan bersama serta lingkungan strategis yang baik tidak akan berubah," tegas Xi.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan media pemerintah Korea Utara, Xi juga menyerukan kerja sama yang lebih erat di bidang diplomasi, penegakan hukum, militer, pertanian, perdagangan, teknologi, hingga konstruksi.

Baca juga: Kunjungan Xi Jinping ke Pyongyang, Ambisi Mengimbagi Pengaruh Putin atas Kim Jong Un

Xi secara terbuka mengajak Kim Jong Un untuk bersama-sama menentang ketidakstabilan kawasan.

"Menentang hegemoni, otoritarianisme, dan semua upaya serta konspirasi untuk menghidupkan kembali militerisme yang membahayakan keamanan dan stabilitas regional," ujar Xi.

Aset strategis

Kunjungan ini dilakukan di tengah menguatnya perekonomian Korea Utara yang disokong oleh hubungan dagang dan militer dengan Rusia. 

Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan rasa percaya diri Kim Jong Un dalam berbagai diplomasi.

Baca juga: Jelang Kunjungan Xi Jinping, Korut Tegaskan Tak Akan Lepas Senjata Nuklir

Craig Singleton, pakar senior urusan China di Foundation for Defense of Democracies, menilai pertemuan ini membawa pesan geopolitik yang kuat bagi blok Barat.

"Pertemuan Xi-Kim adalah pengingat bahwa Beijing masih melihat Pyongyang sebagai aset strategis. Kedua negara tetangga ini, bersama dengan Rusia dan Iran, memiliki kepentingan bersama untuk melemahkan kekuatan AS dan merenggangkan aliansinya," kata Singleton.

Sementara itu, John Delury, peneliti senior dari Asia Society melalui unggahannya di media sosial X, menyoroti konteks perubahan situasi global saat ini.

"Kunjungannya adalah tentang menjaga tradisi tetap hidup dalam kondisi yang sangat berbeda dari perjalanan terakhirnya," tulis Delury.

Baca juga: Bukan Balas Lawatan Trump dan Putin, Xi Jinping Pilih Kunjungi Kim Jong Un

Pemulihan hubungan pascapandemi

Sejak Xi menjamu Kim Jong Un dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam parade militer besar di Beijing tahun lalu, Pyongyang mulai membuka kembali perlintasan perbatasan dengan China yang sempat membeku akibat pandemi Covid-19. 

Maskapai penerbangan Air China bahkan telah mengaktifkan kembali rute antar-ibu kota sejak Maret lalu.

Xi menilai pemulihan ini harus dimanfaatkan secara optimal.

"Sebagai sebuah kesempatan untuk memperluas pertukaran antarmasyarakat," tutur Xi kepada Kim Jong Un.

Mengenai kedekatan hubungan ini, Sydney Seiler dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) Washington menilai hal tersebut akan berdampak langsung pada peta diplomasi regional.

Baca juga: Xi Jinping Mau Dekatkan Trump dan Kim Jong Un, Bakal Sambangi Korut Pekan Depan

Seorang pria menonton layar televisi yang menampilkan siaran berita dengan cuplikan arsip pertemuan tahun 2019 antara Presiden China Xi Jinping dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, di stasiun kereta api di Seoul pada 8 Juni 2026. Xi Jinping memuji persahabatan yang tak tergoyahkan dengan Pyongyang saat tiba di Korea Utara pada 8 Juni, perjalanan luar negeri pertamanya tahun ini setelah menjadi tuan rumah dua pertemuan tingkat tinggi berturut-turut di Beijing.AFP/JUNG YEON-JE Seorang pria menonton layar televisi yang menampilkan siaran berita dengan cuplikan arsip pertemuan tahun 2019 antara Presiden China Xi Jinping dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, di stasiun kereta api di Seoul pada 8 Juni 2026. Xi Jinping memuji persahabatan yang tak tergoyahkan dengan Pyongyang saat tiba di Korea Utara pada 8 Juni, perjalanan luar negeri pertamanya tahun ini setelah menjadi tuan rumah dua pertemuan tingkat tinggi berturut-turut di Beijing.

"Keberlanjutan dari peningkatan hubungan Korea Utara-Rusia dan peningkatan hubungan Korea Utara-China dapat memengaruhi seberapa lama Kim dapat terus mengabaikan Washington dan Seoul," jelas Seiler.

Di sisi lain, tepat pada malam menjelang kedatangan Xi, Pyongyang tampak menunjukkan taji militernya.

Korea Utara mengungkap rencana pembuatan kapal perusak seberat 10.000 ton dan menegaskan kembali statusnya sebagai negara bersenjata nuklir.

Berdasarkan laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) pada Minggu (7/6/2026), Korea Utara diperkirakan telah memiliki sekitar 60 hulu ledak nuklir, meningkat dari 50 hulu ledak pada tahun lalu. 

SIPRI juga mengestimasi bahwa Pyongyang tengah menggenjot produksi uranium ke tingkat yang cukup untuk memproduksi setidaknya 30 hulu ledak tambahan.

Baca juga: Xi Jinping Akan Berkunjung ke Korea Utara, Bahas Masalah Donald Trump

Tag:  #kunjungi #korut #jinping #tegaskan #tinggalkan #jong

KOMENTAR