Pengusaha: Indonesia Tak Akan Resesi, Investasi Mengalir Meski Rupiah-IHSG Tertekan
- Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah ke Rp 18.188 per dollar AS dan koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum menjadi indikasi Indonesia akan masuk ke jurang resesi. Menurut HKI, aktivitas investasi, produksi, dan ekspansi industri masih terus berjalan sehingga fondasi ekonomi nasional tetap terjaga.
Untuk diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam saat penutupan perdagangan Selasa (8/6/2026). Indeks melemah 252,628 poin atau 4,52 persen ke level 5.342,137.
Sementara itu, nilai tukar rupiah di pasar spot juga ditutup melemah pada perdagangan Senin. Kurs rupiah terdepresiasi 0,84 persen ke level Rp 18.188 per dollar Amerika Serikat (AS). Kurang dari dua jam sebelum penutupan, mata uang Garuda sempat terkontraksi 165 poin atau 0,91 persen ke area Rp 18.201 per dollar AS.
Baca juga: OECD Pangkas Proyeksi Ekonomi Dunia, Ancaman Resesi Global Kembali Mengintai
Ketua Umum HKI, Akhmad Ma’ruf Maulana, menilai tekanan terhadap rupiah dan pasar modal yang terjadi bagian dari siklus ekonomi global yang juga dialami banyak negara berkembang. Ketegangan geopolitik, tingginya suku bunga global, volatilitas harga energi, hingga perpindahan modal internasional menjadi faktor yang mempengaruhi sentimen pasar secara luas.
"Indonesia telah berkali-kali menghadapi berbagai tantangan ekonomi global, mulai dari krisis keuangan Asia, krisis global 2008, pandemi Covid-19, hingga berbagai gejolak geopolitik dunia,” ujar Ma’ruf lewat keterangan pers, Senin malam (8/6/2026).
“Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa daya tahan ekonomi nasional tidak boleh diukur hanya dari pergerakan harian kurs atau indeks saham, melainkan dari kemampuan menjaga aktivitas ekonomi riil, investasi, produksi, dan penciptaan lapangan kerja," paparnya.
HKI: fundamental ekonomi RI kuat
HKI menilai fundamental Indonesia sebagai tujuan investasi masih kuat. Indonesia memiliki pasar domestik yang besar, bonus demografi, kekayaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah, program hilirisasi yang terus berkembang, serta jaringan kawasan industri yang semakin matang sebagai pusat manufaktur dan logistik nasional.
Faktor-faktor tersebut tetap menjadi daya tarik utama bagi investor jangka panjang yang memandang Indonesia sebagai basis produksi sekaligus pasar strategis di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).
Situasi saat ini justru harus dimanfaatkan untuk mempercepat reformasi struktural yang telah berjalan selama beberapa tahun terakhir. Fokus utama bukan pada kepanikan akibat gejolak pasar keuangan, melainkan memastikan investasi dapat masuk dan diterealisasikan lebih cepat.
Baca juga: Polemik Resesi Ekonomi RI, Pemerintah dan Ekonom Berbeda Pandangan
Ia menilai penyederhanaan regulasi, percepatan perizinan, sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, kepastian tata ruang, percepatan penyediaan energi, serta peningkatan kualitas infrastruktur merupakan faktor yang jauh lebih menentukan keputusan investor dibandingkan fluktuasi jangka pendek di pasar keuangan.
"Investor pada dasarnya mencari tiga hal kepastian, kecepatan, dan kemudahan. Ketika ketiga hal tersebut dapat diberikan secara konsisten, maka Indonesia akan tetap kompetitif meskipun dunia sedang menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik," pungkas dia.
Lebih jauh, ia mengapresiasi langkah koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan otoritas keuangan yang berupaya menjaga stabilitas sistem keuangan nasional, serta meningkatkan daya tarik aset domestik untuk mempertahankan kepercayaan pasar.
Langkah itu menjadi sinyal penting bahwa pemerintah hadir dan responsif dalam menjaga stabilitas ekonomi. Ma’ruf meyakini perlambatan ekonomi global justru dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing.
Baca juga: Ekonom: Fundamental RI Kuat, tapi Belum Mampu Tenangkan Pasar
Indonesia masih berpeluang besar dilirik investor asing?
Saat ini banyak perusahaan multinasional sedang meninjau ulang rantai pasok global mereka dan mencari lokasi investasi yang lebih efisien, stabil, serta memiliki pasar yang besar.
Dalam kondisi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menangkap arus relokasi industri global apabila reformasi regulasi dan percepatan investasi terus dijalankan secara konsisten.
“Sejarah menunjukkan bahwa negara yang mampu bergerak cepat di tengah ketidakpastian justru menjadi pemenang ketika ekonomi global kembali pulih. Karena itu, saat ini bukan waktunya pesimis. Ini adalah saat yang tepat untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, kawasan industri, dan investor guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Ma’ruf.
HKI menegaskan komitmennya untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mempercepat investasi, memperkuat ekosistem industri nasional, serta memastikan kawasan industri tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing Indonesia di tingkat global.
Selama investasi masih terus bergerak dan aktivitas ekonomi riil tetap berlangsung, optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia masih memiliki landasan yang kuat meski pasar keuangan sedang menghadapi tekanan jangka pendek.
“Sejarah menunjukkan bahwa negara yang mampu bergerak cepat di tengah ketidakpastian justru menjadi pemenang ketika ekonomi global kembali pulih. Karena itu, saat ini bukan waktunya pesimis. Ini adalah saat yang tepat untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, kawasan industri, dan investor guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.
Purbaya: Pelemahan Rupiah Tak Sejalan dengan Fundamental Ekonomi
Di tengah tekanan terhadap rupiah, pemerintah menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dan belum menunjukkan adanya gangguan yang dapat memicu pelemahan mata uang secara signifikan.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pelemahan rupiah saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional. Menurut dia, secara teori nilai tukar biasanya melemah ketika terjadi gangguan pada fundamental ekonomi suatu negara.
"Sebenarnya tidak masuk akal, biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental ekonomi," kata Purbaya di kawasan Masjid Salahuddin, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Rabu (27/5/2026).
Meski demikian, Purbaya memastikan pelemahan rupiah tidak mengganggu perhitungan APBN karena asumsi nilai tukar tersebut telah diperhitungkan dalam berbagai skenario, termasuk simulasi harga minyak dunia sebesar 100 dollar AS per barrel.
Ia juga mengungkapkan bahwa pasar obligasi domestik masih relatif terjaga. Menurutnya, penurunan imbal hasil surat utang didukung langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar, sehingga minat investor, baik asing maupun domestik, terhadap obligasi Indonesia tetap terpelihara.
Purbaya menambahkan, pemerintah masih akan menyiapkan langkah lanjutan untuk memperkuat nilai tukar rupiah. "Ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu menaikkan nilai tukar rupiah dengan signifikan," ujarnya.
Tag: #pengusaha #indonesia #akan #resesi #investasi #mengalir #meski #rupiah #ihsg #tertekan