Perang Iran Makin Tak Terkendali, Sesumbar Trump Tak Terbukti?
- Dua bulan setelah perang di Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai menghadapi kenyataan pahit.
Konflik yang awalnya diprediksi akan berlangsung singkat kini berubah menjadi konfrontasi mahal yang tidak populer, tanpa tujuan akhir jelas, serta mengguncang pasar energi global.
Pentagon baru-baru ini merilis perkiraan publik pertama mengenai biaya operasi militer tersebut yang telah menyentuh angka 25 miliar dollar AS (sekitar Rp 400 triliun).
Baca juga: Iran Ajukan Rencana Damai ke AS, Akhiri Perang dalam Waktu 30 Hari
Di tengah tekanan ekonomi dan kecaman sekutu internasional, Trump tetap bersikeras bahwa keputusannya sudah tepat.
“Saya melakukan sesuatu yang, entah, bodoh, berani, tetapi itu cerdas. Saya akan melakukannya lagi,” ujar Trump di hadapan pendukungnya di The Villages, Florida, Jumat (1/5/2026), dikutip dari New York Times.
Namun, optimisme Trump mulai berbenturan dengan realitas di Capitol Hill, di mana rekan-rekan partainya di Republik mulai menunjukkan tanda-tanda tidak sabar.
Baca juga: Misi Kemanusiaan, AS Bakal Kawal Kapal untuk Lewati Selat Hormuz
Kebuntuan strategis
Meski militer AS dan Israel berhasil menghancurkan target-target strategis serta membunuh pemimpin senior Teheran, struktur pemerintahan Iran terbukti masih utuh dan mampu memberikan perlawanan yang merugikan.
Trump mencoba memenangkan opini publik dan membandingkan durasi konflik ini dengan Perang Vietnam atau Irak, menyebut keterlibatan di Iran sama sekali tidak lama.
Namun, janji-janji mengenai terobosan diplomatik yang diisyaratkan tiga minggu lalu kini menguap.
Baca juga: Peringatan Iran, Campur Tangan AS di Selat Hormuz Akan Melanggar Gencatan Senjata
Harapan bahwa Iran akan segera menyerahkan uranium yang diperkaya dan harga bensin akan turun belum menjadi kenyataan.
Trump bahkan menunjukkan pesan yang kontradiktif mengenai masa depan negosiasi. Ia sempat mengejek kepemimpinan Teheran yang dianggapnya tidak terkoordinasi hingga sulit menentukan siapa lawan bicara yang sah.
Pada Sabtu, Trump mempertegas pendiriannya terhadap proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
“Terus terang, mungkin lebih baik kita tidak membuat kesepakatan sama sekali. Apakah Anda ingin tahu yang sebenarnya? Karena kita tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut,” ujarnya.
Baca juga: Blokade AS Paksa Iran Pakai Kapal Tanker Tua untuk Tampung Minyak
Adu ketahanan di Selat Hormuz
Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman
Saat ini, kedua belah pihak terjebak dalam adu kekuatan. AS terus mempertahankan blokade pelayaran, sementara Iran menolak menyerah pada tuntutan denuklirisasi.
Trump bahkan menggambarkan Angkatan Laut AS bertindak seperti “bajak laut” saat merayakan pengambilalihan kapal kargo Iran.
Di sisi lain, pihak militer Iran memperingatkan bahwa konfrontasi fisik baru sangat mungkin terjadi dalam waktu dekat.
Baca juga: Pejabat Iran Ancam Jadikan Selat Hormuz sebagai Kuburan bagi Pasukan AS
Dampak dari penutupan Selat Hormuz juga mulai memicu krisis diplomatik dengan China.
Presiden Xi Jinping menuntut pembukaan kembali jalur air tersebut karena China mengimpor sepertiga kebutuhan energi mereka dari sana.
Ketegangan ini turut merembet ke Eropa. Trump mengecam Kanselir Jerman Friedrich Merz dan akan menarik ribuan pasukan dari Jerman, Italia, serta Spanyol karena dianggap tidak mendukung upaya perang.
Baca juga: Iran Ajukan Respons 14 Poin ke AS, Apa Saja Isinya untuk Akhiri Perang?
Dampak politik menjelang pemilu paruh waktu
Di dalam negeri, Trump berada dalam posisi sulit menjelang pemilihan paruh waktu.
Selain biaya perang yang setara dengan subsidi kesehatan Obamacare, harga bensin yang melambung tinggi menjadi beban bagi pemilih.
Meski Trump menegaskan bahwa harga bensin yang mahal adalah pengorbanan yang sepadan demi menghentikan nuklir Iran, jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga AS tidak menyukai perang ini.
Baca juga: Setelah Senat AS Mengalah, Iran di Persimpangan Eskalasi atau Diplomasi
Masalah hukum juga membayangi Gedung Putih. Trump menolak meminta izin resmi kepada Kongres meskipun batas waktu 60 hari menurut undang-undang telah terlewati.
Pemerintah berdalih, gencatan senjata yang terjadi telah menghentikan hitungan mundur hukum tersebut.
Kritik tajam datang dari pakar strategi Republik, Matthew Bartlett, yang menyebut pesan-pesan Gedung Putih sangat kacau.
“Aspek politik, ekonomi, dan bahkan diplomatik terus memburuk. Trennya menurun di semua bidang dan itu bukanlah hal yang baik saat kita memasuki bulan perang berikutnya,” tutur Bartlett.
Tag: #perang #iran #makin #terkendali #sesumbar #trump #terbukti