Bos Pupuk Peringatkan Dampak Krisis Hormuz Bisa Sampai ke Piring Kita
- Terganggunya pasokan pupuk dan bahan baku utamanya akibat perang di Iran dilaporkan mengancam ketahanan pangan global.
Hal tersebut disampaikan Chief Executive Yara Svein Tore Holsether, salah satu produsen pupuk terbesar di dunia, sebagaimana dilansir BBC, Jumat (1/5/2026).
Holsether memperingatkan bahwa situasi ini dapat menyebabkan hilangnya hingga 10 miliar porsi makanan setiap minggu di seluruh dunia.
Baca juga: Penutupan Selat Hormuz Ubah Jalur Perdagangan, Pengiriman Dialihkan Lewat Darat, Ini Rutenya
Menurut Holsether, konflik di Teluk Persia yang membuat Selat Hormuz terblokade kini membahayakan jalur distribusi pupuk.
Akibatnya, suplai pupuk bagi pertanian menjadi tersendat sehingga mengganggu ketahanan pangan global.
Penurunan hasil panen akibat berkurangnya penggunaan pupuk diprediksi akan memicu kerawanan pangan yang berdampak paling berat bagi negara-negara termiskin.
"Saat ini, sekitar setengah juta ton pupuk nitrogen tidak dapat diproduksi di dunia akibat situasi yang kita hadapi," ujar Holsether kepada BBC.
"Apa artinya bagi produksi pangan? Saya memperkirakan hingga 10 miliar porsi makanan tidak akan terproduksi setiap minggu sebagai akibat dari kurangnya pupuk," tambahnya.
Dia juga menjelaskan, ketiadaan pupuk nitrogen dapat memangkas hasil panen untuk beberapa jenis tanaman hingga sebesar 50 persen pada musim pertama.
Baca juga: Mojtaba Khamenei Usir” AS dari Teluk, Klaim Kelola Selat Hormuz demi Kebaikan Kawasan
Beban berat petani
Di samping itu, kondisi ini diperparah oleh tekanan ekonomi yang dihadapi para petani.
Harga jual hasil pangan saat ini dinilai belum cukup untuk menutupi kenaikan biaya operasional yang harus ditanggung petani.
"Mereka dihadapkan pada biaya energi yang lebih tinggi, harga solar untuk traktor meningkat, input lain bagi petani meningkat, biaya pupuk meningkat, namun harga tanaman belum meningkat pada tingkat yang sama," jelas Holsether.
Tercatat, harga pupuk telah melonjak hingga 80 persen sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari.
Jika konflik terus berlanjut, Holsether mengkhawatirkan terjadinya perebutan pasokan pangan antara negara kaya dan miskin.
Baca juga: AS Minta Bantuan Internasional untuk Buka Selat Hormuz, Bentuk Aliansi Khusus
"Jika terjadi perang penawaran pangan dan Eropa cukup kuat untuk menghadapinya, yang perlu kita ingat adalah: dalam situasi itu, dari siapa kita membeli makanan tersebut?" papar bos Yara tersebut.
"Itu adalah situasi di mana orang-orang yang paling rentan di negara berkembang membayar harga tertinggi karena mereka tidak mampu bersaing," lanjut.
Di tingkat global, Program Pangan Dunia (WFP) memperkirakan dampak gabungan dari konflik di Timur Tengah dapat mendorong tambahan 45 juta orang ke dalam kelaparan akut pada tahun 2026.
Kawasan Asia dan Pasifik diprediksi menjadi wilayah dengan kenaikan ketidakamanan pangan relatif terbesar, yakni mencapai 24 persen.
Baca juga: Strategi “Mencekik” Iran, Trump Mau Perpanjang Blokade Selat Hormuz Berbulan-bulan
Tag: #pupuk #peringatkan #dampak #krisis #hormuz #bisa #sampai #piring #kita