Iran Diduga Salah Tembak Saat Serang 2 Kapal India di Selat Hormuz
Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman (AFP/GIUSEPPE CACACE)
15:54
21 April 2026

Iran Diduga Salah Tembak Saat Serang 2 Kapal India di Selat Hormuz

- Insiden penembakan yang dilakukan militer Iran terhadap dua kapal tanker berbendera India di Selat Hormuz pada Sabtu (18/4/2026) diduga kuat merupakan kasus salah sasaran.

Kedua kapal tanker tersebut masing-masing bernama Jag Arnav dan Sanmar Herald.

Sejumlah analis menilai, insiden tersebut terjadi akibat tekanan militer yang tinggi dan situasi yang membingungkan di Selat Hormuz.

Baca juga: Xi Jinping Mulai Bicara soal Selat Hormuz, Minta Blokade Harus Dibuka

Di samping itu, jalur pelayaran di selat tersebut padat karena sempit, sebagaimana dilansir SCMP, Selasa (21/4/2026). 

Analis menambahkan, insiden tersebut juga bukan merupakan serangan yang disengaja terhadap New Delhi.

Analis menilai, penembakan ini sangat janggal jika direncanakan, mengingat India bukan merupakan lawan Iran

New Delhi bahkan masih mempertahankan hubungan kerja dengan Teheran, termasuk melanjutkan pembelian minyak melalui pengecualian sanksi Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Pejabat Iran Singgung Selat Malaka Bisa Bernasib seperti Selat Hormuz, Apa Katanya?

Priyajit Debsarkar, seorang penulis yang berbasis di London, menyebut insiden di Selat Hormuz ini sebagai dampak dari situasi yang sangat tidak terkendali.

"Selat Hormuz sangat padat dan banyak hal terjadi. Penjaga Iran berada di bawah banyak tekanan, dan mereka bereaksi terhadap kekuatan luar biasa yang digunakan oleh lawan mereka," ujar Debsarkar.

Dia menambahkan, militer Iran kemungkinan besar salah menilai situasi saat memutuskan untuk melepaskan tembakan ke arah kapal-kapal India tersebut.

Baca juga: Dilema Yuridis di Selat Hormuz: Antara UNCLOS dan Hak Bela Diri

Kurangnya koordinasi internal

Dugaan salah tembak ini juga diperkuat oleh adanya ketidaksinkronan informasi di internal Iran. 

Sebelumnya, Duta Besar Iran untuk India Mohammad Fathali telah menjamin bahwa Selat Hormuz akan tetap terbuka bagi kapal-kapal India tanpa biaya.

Yashwant Deshmukh, seorang komentator politik independen, menyoroti adanya masalah koordinasi di lapangan.

"Insiden ini menunjukkan adanya kurangnya koordinasi antara kepemimpinan sipil dan militer Iran, atau kegagalan kendali di lapangan, daripada upaya sengaja untuk meningkatkan ketegangan dengan India," kata Deshmukh.

Baca juga: 2 Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz Imbas Penutupan Kembali oleh Iran

Dia menekankan, meski situasi sedang tegang, India dan Iran sebenarnya terus berupaya menjaga hubungan yang ramah.

Penembakan ini menjadi bukti nyata dari peringatan yang selama ini dikhawatirkan oleh para ahli hubungan internasional. 

Ketika sebuah jalur perairan internasional menjadi medan militer, risiko salah sasaran terhadap kapal sipil menjadi sangat tinggi.

Profesor hubungan internasional dari King's College London, Harsh Pant, menyatakan bahwa insiden ini adalah dampak dari militerisasi kawasan.

"Ini adalah hal yang selama ini diperingatkan oleh India: bahwa saat selat tersebut dimiliterisasi, ada bahaya munculnya berbagai salah kalkulasi," tegas Pant.

Baca juga: Ketika Selat Hormuz Jadi Senjata Baru Iran...

Dampak bagi India dan pasar global

Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Jenderal Dan Caine saat memperlihatkan peta Selat Hormuz dalam konferensi pers di Pentagon, Washington DC, 16 April 2026.AFP/SAUL LOEB Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Jenderal Dan Caine saat memperlihatkan peta Selat Hormuz dalam konferensi pers di Pentagon, Washington DC, 16 April 2026.

Bagi India, insiden "salah tembak" ini tetap memberikan dampak serius karena negara tersebut mengandalkan 85 persen kebutuhan minyaknya dari impor melalui jalur tersebut.

Secara ekonomi, kekacauan di Selat Hormuz telah menyebabkan harga minyak mentah Brent melonjak 5,7 persen pada hari Senin. 

Terhambatnya jalur ini juga membuat jutaan barel minyak dan gas alam cair (LNG) terjebak di dalam Teluk.

Priya Walia, Vice President Commodity Markets-Oil di Rystad Energy, menjelaskan bahwa situasi ini telah mengubah peta logistik energi.

"Pertanyaannya bukan lagi hanya siapa yang memiliki minyak mentah, tetapi barel mana yang masih bisa bergerak, dengan biaya angkut, asuransi, dan premi politik berapa," pungkas Walia.

Baca juga: Mengukur Risiko Ranjau Laut di Selat Hormuz

Tag:  #iran #diduga #salah #tembak #saat #serang #kapal #india #selat #hormuz

KOMENTAR