Mia Khalifa Nangis Lebanon Dibom: AS dan Israel Negara Fasis Teroris
Aktivis dan figur publik, Mia Khalifa, menyebut Amerika Serikat dan Israel sebagai negara teroris fasis karena mengebom tanah kelahirannya, Lebanon. [Suara.com]
10:24
10 April 2026

Mia Khalifa Nangis Lebanon Dibom: AS dan Israel Negara Fasis Teroris

Aktivis dan figur publik, Mia Khalifa, memberikan reaksi yang sangat keras terhadap serangan agresi Israel dan Amerika Serikat terhadap tanah kelahirannya, Lebanon.

Dalam video emosional yang diunggah di platform media sosialnya, Kamis (9/4), perempuan berusia 33 tahun ini secara tegas mengatakan AS serta Israel adalah negara teroris fasis melalui serangan udara besar-besaran yang menyasar infrastruktur sipil Lebanon.

Pernyataan ini muncul menyusul laporan mengenai salah satu serangan udara paling mematikan dalam beberapa waktu terakhir, di mana ratusan rudal menghantam wilayah Lebanon hanya dalam hitungan menit.

Mia Khalifa, yang selama ini vokal menyuarakan isu-isu kemanusiaan di Timur Tengah, mengakui bahwa peristiwa ini adalah salah satu momen paling traumatis yang pernah ia saksikan melalui media sosial.

Melalui unggahan di Instagram pribadinya, Khalifa tidak menahan diri dalam memberikan kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri AS dan tindakan militer Israel.

Ia secara terbuka menyebut kedua negara tersebut sebagai entitas yang melakukan kejahatan perang secara sistematis.

“Ini tak lain adalah terorisme yang dilakukan oleh dua negara, yang kejahatan perangnya sama persis. AS dan ISrael adalah negara teroris dan fasis, yang suatu hari nanti akan diadili di Den Haag," tulis Mia Khalifa dalam keterangan videonya, dikutip hari Jumat (10/4/2026).

Dalam video yang dibagikannya, Khalifa tampak menangis. Ia menyoroti skala kehancuran yang terjadi, terutama karena serangan tersebut dilaporkan mengenai area pemukiman, fasilitas pendidikan, hingga rumah sakit, tepat di tengah kabar adanya kesepakatan gencatan senjata.

“Hari ini adalah salah satu hal tersulit untuk disaksikan dalam waktu yang sangat lama di media sosial. Itu sudah cukup menggambarkan betapa mengerikannya peristiwa in,  karena kita telah menyaksikan genosida terjadi di depan mata kita selama beberapa dekade, terlebih lagi dalam tiga hingga empat tahun terakhir," kata mantan artis film dewasa ini.

Sebagai orang yang kini menjadi warga negara AS, Mia Khalifa merasa kecewa karena uang pajak darinya ikut membiayai pengeboman tanah kelahirannya.

"160 serangan udara dalam 10 menit terhadap bangunan tempat tinggal, sekolah, rumah sakit, infrastruktur sipil, pemakaman dengan prosesi pemakaman, di tengah gencatan senjata. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa menerima uang pajak saya digunakan untuk hal ini di tanah air saya.”

Situasi 'Dystopian' di Tengah Krisis Kemanusiaan

Lebih lanjut, Mia Khalifa mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap paradoks dunia modern.

Ia merasa dunia saat ini berada dalam kondisi dystopian atau distopia, di mana kemajuan teknologi ruang angkasa berjalan beriringan dengan kehancuran kemanusiaan di bumi.

“Aku tidak, seperti, aku merasa sangat penting untuk berada di sini dan untuk berbicara serta mengatakan ini, tetapi aku benar-benar kehilangan kata-kata. Kita mengirim orang untuk mengamati kehidupan di bulan sementara kita saling membom. Ini distopia,” tuturnya.

Israel serang Lebanon (Antara)Israel serang Lebanon (Antara)

Ia juga mempertanyakan kapan kekerasan ini akan berakhir, dan menyatakan solidaritas penuh bagi rakyat Lebanon yang kini berada di bawah bayang-bayang ketakutan.

Menurutnya, serangan yang terjadi saat ini merupakan serangan terang-terangan terhadap kedaulatan sebuah negara.

“Ini gila. Kita menyaksikan ini terjadi di depan mata kita pada suatu bangsa, dan sekarang kita menyaksikan hal itu terjadi di depan mata kita secara terang-terangan dan terbuka pada negara berdaulat lainnya. Kapan ini akan berakhir? Kapan ini akan berhenti? Pikiran saya bersama semua orang di Lebanon saat ini,” tambah Khalifa.

Pada akhir pesannya, ia menutup dengan kalimat emosional, “Hati saya ikut merasakan apa yang terjadi pada kalian. Sungguh, saya tidak ingin menangis di sini, karena saya sangat beruntung. Saya sangat beruntung, tetapi….”

Gagalnya Gencatan Senjata dan Eskalasi Besar

Serangan yang dikomentari oleh Khalifa ini terjadi tak lama setelah pengumuman gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan antara AS dan Iran, Rabu (8/4).

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, sebelumnya telah menyatakan melalui platform X bahwa aliansi tersebut telah menyetujui gencatan senjata segera di seluruh wilayah, termasuk Lebanon.

Namun, perdamaian tersebut hanya bertahan sekejap. Israel segera meluncurkan apa yang mereka sebut sebagai "serangan terkoordinasi terbesar di seluruh Lebanon."

Militer Israel mengklaim telah menghantam lebih dari 100 target dalam waktu hanya 10 menit. Laporan awal menyebutkan bahwa sekitar 250 orang tewas dalam serangan kilat tersebut.

Dampak dari eskalasi ini sangat luas. Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan tersebut.

Sementara di lain sisi, AS menyatakan penghentian operasi militer di Lebanon sebenarnya tidak pernah menjadi bagian dari rincian perjanjian gencatan senjata yang dibicarakan.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga mengisyaratkan meskipun pihaknya mendukung prinsip gencatan senjata, operasi militer di Lebanon akan tetap dilanjutkan demi kepentingan keamanan mereka.

Editor: Bernadette Sariyem

Tag:  #khalifa #nangis #lebanon #dibom #israel #negara #fasis #teroris

KOMENTAR