Misteri Pemecatan Kasad AS: 40 Tahun Loyal, Pengalaman di Irak-Afghanistan
- Pemecatan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Amerika Serikat (AS) Jenderal Randy George memicu tanda tanya, mengingat loyalitas tingginya di bidang militer dan pengalaman di medan tempur.
George dipecat bersama dua jenderal top lainnya pada Jumat (3/4/2026), ketika perang Iran masih berkecamuk.
Pemecatan Jenderal Randy George dilakukan langsung oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, menjadikannya bagian dari rangkaian perubahan kepemimpinan militer sejak Trump kembali menjabat sebagai presiden sekitar satu tahun lalu.
Baca juga: Kasad AS Didepak Tiba-tiba, Menhan AS Bersih-bersih Militer saat Perang Iran
Belum ada penjelasan rinci yang disampaikan pemerintah terkait alasan di balik pencopotan George.
Padahal, ia dikenal sebagai jenderal berpengalaman yang memimpin Angkatan Darat dalam periode penting operasi militer terhadap Iran.
AS melakukan pengeboman intensif selama lebih dari satu bulan. Trump pun sempat menyatakan bahwa operasi tersebut masih akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
Juru bicara Pentagon Sean Parnell mengumumkan melalui platform X pada Kamis (2/4/2026) malam, “(George) akan pensiun dari jabatannya... Berlaku segera.”
Sepanjang hampir 40 tahun karier militernya, George tercatat pernah bertugas dalam berbagai misi penting, termasuk penugasan di Irak dan Afghanistan.
Pria berusia 61 tahun itu juga pernah menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, serta asisten militer senior untuk Menteri Pertahanan Lloyd Austin pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden.
Baca juga: Jenderal AS Ketar-ketir Lihat Rencana Trump Serang Iran
Sebagai pengganti sementara, Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Christopher LaNeve ditunjuk untuk mengisi posisi tersebut sebagai Pelaksana Tugas Kepala Staf, menurut laporan CBS.
Hegseth sebelumnya menyebut LaNeve sebagai pemimpin yang berpengalaman dalam pertempuran dengan pengalaman operasional selama puluhan tahun.
Selain George, dua petinggi militer lainnya turut diberhentikan dalam keputusan yang sama.
Jenderal David Hodne, yang memimpin Komando Transformasi dan Pelatihan Angkatan Darat, termasuk di antara pejabat yang dicopot dari jabatannya.
Mayor Jenderal William Green Jr., yang bertanggung jawab atas Korps Kapelan Angkatan Darat, juga diberhentikan bersamaan dengan keputusan tersebut.
Baca juga: Xi Jinping Mempertajam Pedang, Sembilan Jenderal Terjungkal
Perombakan besar militer AS
Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth melambaikan tangannya ke pasukan AS yang merayakan hari jadi ke-250 angkatan bersenjata di Fort Bragg, Negara Bagian North Carolina, 10 Juni 2025.AFP melaporkan, pemecatan ini memperkuat tren perombakan besar di kalangan perwira tinggi militer "Negeri Paman Sam" sejak Trump kembali memimpin Gedung Putih.
Sebelumnya, Trump lebih dulu memecat Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Charles “CQ” Brown pada Februari 2025 tanpa memberikan penjelasan resmi.
Sejumlah pejabat tinggi militer lainnya juga mengalami nasib serupa dalam periode tersebut.
Pimpinan Angkatan Laut dan Penjaga Pantai termasuk dalam daftar pejabat yang diberhentikan dalam restrukturisasi ini.
Jenderal yang memimpin Badan Keamanan Nasional pun tak luput dari gelombang pemecatan.
Wakil Kepala Staf Angkatan Udara serta seorang laksamana Angkatan Laut yang ditugaskan ke NATO juga termasuk di antara perwira yang diberhentikan, disusul tiga pengacara militer senior.
Di sisi lain, Kepala Staf Angkatan Udara memilih mengundurkan diri tanpa penjelasan, meskipun baru menjabat selama dua tahun dari masa jabatan empat tahun.
Kepala Komando Selatan Amerika Serikat juga memutuskan pensiun lebih awal, hanya satu tahun setelah menjabat.
Baca juga: Senjata Baru Iran Disebut Tembak Jatuh Jet Tempur F-35, Apa Kata AS?
Pemerintah AS melalui Menhan Hegseth menegaskan, langkah tersebut merupakan hak presiden dalam menentukan tim kepemimpinan militer yang dianggap sesuai.
Hegseth menyatakan, presiden memiliki kewenangan penuh untuk memilih para pemimpin yang diinginkannya dalam struktur militer.
Namun, kebijakan tersebut menuai kritik dari kalangan legislatif, khususnya anggota parlemen dari Partai Demokrat.
Sejumlah anggota parlemen menyuarakan kekhawatiran terkait potensi politisasi militer Amerika yang selama ini dikenal menjaga netralitas institusional.
Kekhawatiran tersebut muncul di tengah intensitas perubahan kepemimpinan yang dinilai tidak biasa dalam waktu relatif singkat.
Pada tahun sebelumnya, Pentagon juga mengeluarkan kebijakan pengurangan jumlah perwira tinggi di lingkungan militer.
Kebijakan tersebut mencakup pemangkasan setidaknya 20 persen jumlah jenderal dan laksamana bintang empat yang masih aktif bertugas.
Selain itu, Pentagon juga merencanakan pengurangan sekitar 10 persen jumlah jenderal dan perwira tinggi secara keseluruhan di seluruh cabang militer.
Baca juga: Serangan Udara Saja Tidak Cukup, Iran Buktikan Sulit Ditaklukkan
Tag: #misteri #pemecatan #kasad #tahun #loyal #pengalaman #irak #afghanistan