Bukan Sekadar Rasa Malu, Kenali Avoidant Personality Disorder, Gangguan Kepribadian Rasa Takut Berinteraksi dengan Orang lain
Ilustrasi seseorang yang pemalu. (Freepik/EyeEm)
08:41
4 April 2024

Bukan Sekadar Rasa Malu, Kenali Avoidant Personality Disorder, Gangguan Kepribadian Rasa Takut Berinteraksi dengan Orang lain

– Saat masih anak-anak pasti pernah merasa malu atau canggung berhadapan dengan orang lain. Pada anak normal, perasaan seperti ini hanya muncul sesekali. Namun, Bagaimana jika saat beranjak dewasa hal ini masih berlanjut dan menjadi sebuah gangguan.

Saat dewasa merasa malu dan canggung karena bertemu orang lain, apalagi muncul kecemasan dan rasa takut untuk berinteraksi dengan orang lain. Sesekali menghindari interaksi dengan orang lain adalah hal wajar. Namun, jika hal itu dilakukan terlalu sering, bisa jadi mungkin mengalami avoidant personality disorder.

Avoidant personality disorder istilah gangguan kepribadian yang membuat mereka sengaja menghindari interaksi dengan orang lain. Gangguan ini sering muncul saat masa kanak-kanak dan gejalanya akan semakin terlihat ketika penderitanya sudah beranjak dewasa.

Namun, dalam beberapa kasus gangguan ini berlangsung hingga dewasa, dilansir dari Alodokter, berikut informasi tentang avoidant personality disorder alias gangguan kepribadian menghindar.

Avoidant personality disorder adalah gangguan kepribadian yang membuat pengidapnya menghindari interaksi sosial karena merasa lebih rendah dari orang lain. gangguan kepribadian menghindar ini tentunya berbeda dari sekadar rasa malu.

Berbeda dengan sifat pemalu pada umumnya, avoidant personality disorder membuat penderitanya sulit untuk menjalin hubungan yang dekat dengan orang lain. Seseorang yang memiliki gangguan kepribadian ini sering merasa malu, cemas, dan takut berlebihan terhadap penolakan dari orang lain.

Pengidap gangguan kepribadian cenderung menghindar dan memilih untuk menyendiri atau merasa kesepian dibandingkan untuk mencoba menjalin hubungan dengan orang lain.

Pengidap avoidant personality disorder juga kerap khawatir mengecewakan orang lain dan takut terhadap kritik yang ditujukan kepada dirinya. Mereka juga memiliki ketakutan terhadap penolakan yang amat besar sehingga cenderung menghindari berbagai aktivitas sosial.

Sebenarnya, penyebab dari gangguan kepribadian menghindar tidak diketahui secara pasti. Namun, kemungkinan ada faktor genetik, temperamen bawaan, karakter tiap individu, gaya yang sudah melekat dan lingkungan yang berperan dalam terbentuknya gangguan kepribadian menghindar.

Avoidant personality disorder juga dapat dipicu karena rasa trauma di masa kecil, Mereka yang mengalaminya dulu sering menerima penolakan dari teman atau orang tua sehingga rasa rendah diri pada mereka.

Selain itu, avoidant personality disorder juga bisa terjadi karena penderitanya pernah mengalami peristiwa traumatis, seperti pelecehan fisik atau emosional, dikhianati oleh orang yang disayangi, pola asuh yang tidak baik, atau kurang mendapat kasih sayang dari orang tua.

Sama seperti gangguan kepribadian lainnya, avoidant personality disorder bukanlah kondisi yang mudah untuk ditangani. Perilaku menghindar ini menjadi mekanisme pertahanan yang membantu para pengidapnya mencegah stres dan melindungi diri dari perasaan sakit hati.

Hal ini karena penderita gangguan avoidant personality disorder memiliki pola pikir dan perilaku yang telah tertanam selama bertahun-tahun. Tidak sedikit juga penderita avoidant personality disorder yang merasa bahwa dirinya tidak membutuhkan penanganan.

Jika tidak ditangani dengan baik, Seorang penderita avoidant personality disorder akan bisa lebih berisiko untuk mengalami berbagai masalah psikologis lainnya, seperti depresi, serangan panik, agorafobia, atau keinginan untuk bunuh diri.

Untuk mengatasi gangguan ini, Para penderita gangguan kepribadian ini perlu penanganan dengan berkonsultasi ke psikolog atau psikiater agar bisa melakukan psikoterapi termasuk terapi perilaku kognitif.

Dengan menjalani terapi, pasien akan dibimbing untuk mengubah pola pikir dan perilakunya menjadi lebih positif, serta belajar untuk berinteraksi dan menerima orang lain.

Di samping psikoterapi, pasien avoidant personality disorder juga mungkin perlu mendapatkan obat-obatan, seperti antidepresan dan obat pereda kecemasan (antiansietas). Obat ini diberikan jika pasien sudah mengalami gangguan mental lain, seperti depresi dan gangguan cemas. Obat tersebut juga diberikan untuk mengatasi anhedonia, insomnia, dan gangguan mood.

Kenali gejala yang mengarah kepada avoidant personality disorder dan mulai jalani pemeriksaan ke psikolog atau psikiater untuk memastikannya dan mengetahui penyebabnya. Dengan begitu, gangguan kepribadian ini bisa segera dapat ditangani sebelum menimbulkan dampak lebih jauh pada kehidupan sehari-hari dan hubungan dengan orang lain.

Editor: Edy Pramana

Tag:  #bukan #sekadar #rasa #malu #kenali #avoidant #personality #disorder #gangguan #kepribadian #rasa #takut #berinteraksi #dengan #orang #lain

KOMENTAR