3 Pemicu Hipertensi pada Pekerja Kantoran yang Sering Tak Disadari, Termasuk Mager
- Kehidupan masyarakat urban masa kini sangat lekat dengan tuntutan profesional yang tinggi, jadwal padat, dan pola kerja yang dominan dihabiskan dengan duduk di balik meja.
Budaya kerja yang serba cepat ini memaksa para pekerja kantoran untuk mengorbankan waktu istirahat, sekaligus mengabaikan asupan gizi seimbang harian mereka.
Akibatnya, kelompok usia produktif ini menjadi sangat rentan terhadap berbagai ancaman kardiovaskular, seperti tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Baca juga: Hipertensi Tak Terkontrol Jadi Pemicu Utama Stroke dan Gagal Jantung
Kondisi yang kerap dijuluki sebagai silent killer ini kerap tidak menunjukkan gejala fisik spesifik, melainkan terakumulasi secara perlahan dari kebiasaan buruk yang telah dianggap lumrah dalam rutinitas bekerja sehari-hari.
Ancaman penyakit di balik gaya hidup pekerja modern
1. Bahaya "mager" dan jebakan obesitas di balik meja kerja
Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSH), dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S(K), mengatakan bahwa tuntutan pekerjaan sering membuat para karyawan terpaku di depan layar monitor selama berjam-jam tanpa diselingi pergerakan fisik yang memadai.
Kurangnya aktivitas fisik berpotensi besar memperlambat sistem metabolisme tubuh, serta memicu penumpukan kalori berlebih pada lingkar perut.
"Kan anak muda ya sekarang ya malas gerak kan. Biasanya kalau malas gerak ngapain kerjanya? Ngemil. Terus apa yang terjadi? Obesitas," tutur dr. Eka dalam acara peluncuran tensimeter Omron SF Series di Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).
Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSH), dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S(K), dalam acara peluncuran tensimeter Omron SF Series di Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).
Penumpukan lemak yang tidak segera dikendalikan pada akhirnya akan memberikan beban ekstra pada kinerja organ pemompa darah. Terlebih, obesitas merupakan salah satu faktor risiko hipertensi.
Baca juga: Waspada Bahaya Komplikasi Hipertensi yang Jarang Dibahas
2. Dampak kopi susu berlebih dan buruknya kualitas tidur malam
Demi mempertahankan tingkat kefokusan saat harus menyelesaikan tumpukan pekerjaan hingga larut malam, asupan minuman berkafein tinggi kerap dijadikan sebagai amunisi instan andalan.
Sayangnya, rutinitas meminum racikan kopi kekinian dengan tambahan gula dalam jumlah berlebih justru memicu obesitas.
Bukan berarti mengonsumsi minuman berkafein seperti kopi tidak boleh. Kamu tetap bisa melakukannya untuk menunjang produktivitas, asalkan diseduh tanpa gula dan membatasinya menjadi dua cangkir per hari.
Selain ancaman dari asupan gula harian, kurangnya durasi tidur yang berkualitas akibat tuntutan kerja malam juga secara perlahan mengacaukan ritme alami fungsional organ dalam manusia.
"Makanya, orang-orang yang kerja malam, shifting itu, cenderung hipertensi, karena enggak sesuai dengan irama sirkadian," terang dr. Eka.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa pemenuhan waktu istirahat yang ideal tidak hanya sebatas pada durasi atau lamanya seseorang terlelap.
Kedalaman dan kualitas istirahat memegang peran yang tak kalah penting bagi pemulihan organ tubuh para pekerja.
Baca juga: Dokter Ungkap Pentingnya Kelola Stres untuk Cegah Hipertensi
Tanggal 13 Maret memperingati Hari Tidur Sedunia
"Tidur yang efektif itu bukan cuma durasinya, tapi kedalaman tidurnya juga penting," imbuh dr. Eka.
Menurut dia, tidur selama delapan jam akan menjadi tidak efektif dan membuat badan tetap lemas keesokan harinya jika seseorang sering gelisah, kaget saat tidur, atau mengalami sleep apnea.
3. Stres kronis
Tekanan ekspektasi dari atasan, maupun tenggat waktu yang sangat sempit, sering berujung pada kelelahan mental akut atau burnout.
Jika dibiarkan berlarut-larut tanpa ruang pelepasan, akumulasi stres kronis ini dapat memicu kelenjar tubuh menyempitkan pembuluh darah secara drastis hingga menimbulkan insiden pecah pembuluh otak.
Menurut dr. Eka, tumpukan beban pikiran harian bisa seketika menjadi pemicu hipertensi pada karyawan yang sudah memiliki riwayat keturunan darah tinggi dari keluarganya.
Baca juga: Pentingnya Minum Obat Hipertensi Rutin untuk Cegah Komplikasi
Untuk meredam gejolak emosi di tengah hiruk pikuk kesibukan yang menyita pikiran, meluangkan waktu sejenak dari layar komputer dan gawai demi menenangkan diri menjadi sebuah langkah penting yang tak boleh terlewatkan.
"Makanya kan relaksasi ya, paling enggak setengah jam, itu yang penting," saran dr. Eka.
Mengambil jeda untuk sekadar melatih pernapasan atau meditasi singkat, bisa membantu tubuh rileks sambil melemaskan saraf yang sebelumnya tegang.
Menghentikan kebiasaan memendam rasa tidak suka terhadap sesuatu juga menjadi metode pelepasan beban mental yang penting bagi kesehatan.
Tag: #pemicu #hipertensi #pada #pekerja #kantoran #yang #sering #disadari #termasuk #mager