RDP DPR Soroti Tidak Ada Standar Galon Guna Ulang, DPR: Kita Jadi Kayak Minum Kimia
Bahaya kesehatan yang mengintai di balik penggunaan galon guna ulang menjadi sorotan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panitia Kerja (Panja) Industri Air Minum Komisi VII DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) bersama Kementerian Perindustrian di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Anggota Komisi VII DPR Novita Hardini memaparkan, berdasarkan temuan investigasi Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) yang dipublikasikan pada Oktober 2025, 57 persen galon guna ulang yang beredar di wilayah Jabodetabek telah melampaui batas usia pakai.
Kondisi itu memicu kekhawatiran serius terkait risiko paparan bahan kimia berbahaya ketika masyarakat mengonsumsi air minum dari galon yang sudah tua.
“Saya jadi takut minum air putih ini. Kita jadi kayak minum kimia,” kata Novita.
Baca juga: Masih Beredar Luas, Galon Guna Ulang Tua Bisa Lepaskan Zat Kimia yang Berbahaya bagi Kesehatan
Temuan tersebut merupakan hasil investigasi KKI terhadap 60 toko kelontong di Jabodetabek.
Selain melebihi batas usia pakai, investigasi juga menemukan bahwa sebanyak 8 dari 10 galon guna ulang yang beredar sudah tampak buram dan kusam. Kondisi ini menjadi indikasi penurunan kualitas galon.
Kekhawatiran anggota Panja DPR tersebut bukan tanpa alasan. Ahli polimer dari Universitas Indonesia Profesor Mochamad Chalid sebelumnya menjelaskan bahwa galon guna ulang berbahan plastik polikarbonat memiliki batas usia pakai yang harus diperhatikan.
Menurut dia, galon guna ulang sebaiknya hanya digunakan maksimal 40 kali pengisian ulang atau setara satu tahun.
“Lebih dari itu, risiko migrasi bisfenol A (BPA) akan makin tinggi,” jelasnya.
Baca juga: Lindungi Kesehatan Masyarakat, Penarikan Galon Tua dan Pelabelan BPA Didukung Ahli
Sebagai informasi, BPA merupakan bahan kimia pembuat plastik polikarbonat. Karena mampu meniru hormon, paparan BPA dalam jangka panjang berpotensi mengganggu sistem hormon manusia.
Berbagai riset ilmiah mengaitkan paparan BPA dalam jangka panjang dengan sejumlah risiko kesehatan serius, mulai dari gangguan kesuburan dan reproduksi, diabetes tipe 2, obesitas, hingga peningkatan risiko kanker payudara, prostat, dan usus besar.
Menurut Novita, persoalan galon guna ulang diperparah oleh pengawasan yang lemah pada tahap distribusi. Kualitas air yang semula telah memenuhi standar di pabrik sering kali menurun ketika sampai di tingkat agen, penjual eceran, dan konsumen.
Baca juga: Jadi Galon Terfavorit Para Ibu, Le Minerale Raih Penghargaan HaiBunda Pilihan Bunda Award 2025
Novita juga menyoroti praktik di lapangan dengan banyak galon dijemur terlalu lama di bawah terik sinar matahari.
Paparan panas tersebut, menurut dia, dapat memicu perpindahan BPA dari galon ke dalam air sehingga produk yang seharusnya menyehatkan justru berubah menjadi ancaman bagi konsumen.
“Penurunan kualitas air itu sering terjadi bukan di pabriknya, melainkan di agen-agen karena galon dijemur terlalu lama di bawah matahari. Di situlah terjadi migrasi kimia dari plastik ke air,” ucap Novita.
Tag: #soroti #tidak #standar #galon #guna #ulang #kita #jadi #kayak #minum #kimia