Ilmuwan Temukan Gula Baru yang Tetap Manis tapi Tidak Picu Lonjakan Insulin
Ilustrasi gula pasir. Peneliti menemukan tagatose, gula alami yang rasanya hampir semanis gula meja tetapi lebih rendah kalori dan tidak memicu lonjakan insulin.(SHUTTERSTOCK/AFRICA STUDIO)
18:06
22 Januari 2026

Ilmuwan Temukan Gula Baru yang Tetap Manis tapi Tidak Picu Lonjakan Insulin

Para ilmuwan mengidentifikasi jenis gula alami bernama tagatose yang rasanya hampir semanis gula meja, tetapi kalorinya lebih rendah dan tidak menyebabkan lonjakan insulin. 

Temuan tersebut memberi harapan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap konsumsi gula dan pemanis buatan.

Penemuan ini berdasarkan penelitian peneliti dari Tufts University, Amerika Serikat yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Reports Physical Science.

Apa itu tagatose?

Tagatose merupakan gula alami langka yang masih satu kelompok dengan fruktosa. Tingkat kemanisannya mencapai sekitar 92 persen dari gula meja.

Meski hampir sama manisnya, tagatose hanya mengandung sekitar sepertiga kalori sukrosa. Inilah yang membuatnya menarik sebagai alternatif gula.

Keunggulan lainnya, tagatose tidak menyebabkan lonjakan insulin yang besar. Respons gula darah setelah konsumsi cenderung lebih stabil.

Cara kerja tagatose di dalam tubuh

Ilustrasi gula. Peneliti menemukan tagatose, gula alami yang rasanya hampir semanis gula meja tetapi lebih rendah kalori dan tidak memicu lonjakan insulin.Freepik/jcomp Ilustrasi gula. Peneliti menemukan tagatose, gula alami yang rasanya hampir semanis gula meja tetapi lebih rendah kalori dan tidak memicu lonjakan insulin.

Melansir ScienceAlert, sebagian besar tagatose tidak diserap di usus halus. Gula ini justru difermentasi di usus besar sehingga membuat kenaikan gula darah menjadi lebih lambat.

Hal ini berbeda dengan sukrosa dan beberapa pemanis buatan yang dapat memicu lonjakan insulin yang lebih tajam.

Karena mekanisme tersebut, tagatose dinilai berpotensi lebih aman bagi penderita diabetes atau orang dengan gangguan gula darah.

Tantangan produksi yang akhirnya terjawab

Tagatose sebenarnya sudah lama dikenal. Namun, produksinya sulit dilakukan secara massal karena proses yang ada selama ini mahal dan tidak efisien.

Insinyur biologi Tufts University, Nikhil U. Nair, mengatakan masalah utama tagatose ada pada metode produksinya.

“Proses untuk membuat tagatose sebenarnya sudah ada. Namun, hasilnya rendah dan biayanya tinggi,” ujar Nair, dikutip dari ScienceAlert.

Dalam riset terbaru, tim peneliti menemukan solusi baru. Mereka menggunakan enzim dari jamur lendir (slime mold) dan merekayasa bakteri Escherichia coli yang berfungsi sebagai pabrik mikro penghasil tagatose.

Dengan metode baru tersebut, tingkat keberhasilan produksi mencapai hingga 95 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding metode lama.

Dampak bagi kesehatan gigi dan pencernaan

Selain lebih ramah bagi gula darah, tagatose juga dinilai lebih baik untuk kesehatan gigi. Tidak seperti gula meja, tagatose tidak mendukung pertumbuhan bakteri penyebab gigi berlubang.

Beberapa penelitian awal juga menunjukkan potensi manfaat bagi mikrobioma mulut. Namun, temuan ini masih perlu diteliti lebih lanjut.

Tagatose telah dinyatakan aman untuk dikonsumsi. Food and Drug Administration (FDA) dan World Health Organization (WHO) memasukkannya dalam kategori bahan pangan yang aman.

Meski begitu, orang dengan intoleransi fruktosa tetap disarankan berhati-hati karena cara metabolisme tagatose mirip dengan fruktosa.

Bukan solusi tunggal masalah gula

Para peneliti menegaskan bahwa tagatose bukan solusi instan dan bukan alasan untuk mengonsumsi makanan manis secara berlebihan.

Namun, temuan ini membuka peluang baru. Tagatose dapat menjadi alternatif gula yang lebih masuk akal di tengah meningkatnya kasus diabetes dan gangguan metabolik.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan ilmiah dapat membantu mencari keseimbangan. Rasa manis masih bisa dinikmati, tanpa memberi dampak besar bagi kesehatan.

Tag:  #ilmuwan #temukan #gula #baru #yang #tetap #manis #tapi #tidak #picu #lonjakan #insulin

KOMENTAR