Momen Sri Mulyani Bacakan Surat-surat RA Kartini dan Ajak Pegawai untuk Memaknainya
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. (Nurul Fitriana/JawaPos.com)
18:27
25 April 2024

Momen Sri Mulyani Bacakan Surat-surat RA Kartini dan Ajak Pegawai untuk Memaknainya

  - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati membacakan surat-surat yang ditulis oleh RA Kartini dalam acara yang dihelat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dengan tajuk "Kartini Menembus Batas, Menuju Ekonomi Inklusif" pada hari ini, Kamis (25/4).   Dalam momen ini, Sri Mulyani mengajak seluruh pegawainya, utamanya kepada para Eselon 1 Kemenkeu yang didominasi oleh bapak-bapak untuk memaknai cita-cita dan pemikiran RA Kartini yang telah dituangkan melalui surat-suratnya. Pasalnya, Menkeu mengaku selalu merinding tiap kali membaca gagasan-gagasan Kartini yang selalu mengagumkan.   "Saya haqul yakin, bapak-bapak (Eselon 1) sekarang ini baca itu saja masih merinding karena mereka mungkin juga belum siap untuk menerima Kartini sekarang. Apalagi 125 tahun yang lalu, kita yang perempuan baca itupun sangat kagum," kata Sri Mulyani dalam sambutannya.   "Kok bisa ada pemikiran yang begitu luar biasa, sangat tidak hanya cemerlang, passionate tapi juga bisa menemukan aspek-aspek apa yang disebut nilai-nilai prikemanusian yang adil dan beradab di dalam seorang Kartini. Saya ngomong ini aja sampai mau nangis," imbuhnya.   Salah satu surat yang sering dikutip yaitu 'Perempuan adalah sekolah pertama bagi anaknya'. Menurutnya, sekolah pertama bagi seorang anak adalah sejak dari kandungan ibu.   Di mana, kata Menkeu, seorang ibu perlu berinteraksi dengan kasih sayang guna membentuk pikiran karakter dan pandangan anak-anaknya. Oleh sebab itu, perempuan perlu diberi kesempatan, tidak boleh dihalangi untuk mendapatkan pengetahuan, pengalaman dan melihat dunia.   Menkeu berharap, seluruh pegawai yang hadir di acara Peringatan Hari Kartini ini bisa pulang dengan bisa memberi kesempatan yang sama mendorong dan membuka kesempatan bagi anak-anak perempuannya di rumah maupun pegawai perempuan di Kemenkeu.   "Itu Anda sudah ikut membangun kemajuan peradaban Indonesia. Namun, kita itu tidak hanya pikirin mengenai keluarga kita, dimana kita punya anak perempuan maupun pegawai kita di mana kita punya pegawai perempuan. Kemenkeu adalah institusi yang punya dampak bagi seleuruh bangsa dan rakyat Indonesia," ujarnya.   "Jadi,, tanggung jawab dari Kemenkeu sangat besar, melebihi dan di atas tanggung jawab pribadi sebagai seorang Ibu, seorang Bapak, sebagai orang tua, sebagai atasan, sebagai teman, sebagai bawahan. Beyond that. Di atas dan melebihi peran-peran pribadi kita dan peran kita di dalam kantor atau institusi ini, kewajiban dan tanggung jawab kita melebihi karena mempengaruhi seluruh kualitas dan harkat hidup rakyat dan bangsa Indonesia," lanjutnya.   Atas hal itu, Sri Mulyani meminta seluruh jajaran Kemenkeu untuk bertanggung jawab atas segala sikap dan tindakannya. Terlebih dua hal itu akan mempengaruhi kualitas rakyat dan bangsa Indonesia.   "Karena tanggung jawab dan pengaruh Anda itu sedemikian besarnya bagi bangsa ini. So, kita harus take it very seriuosly peringatan Hari Kartini," ujarnya.   Dalam sambutannya, Sri Mulyani juga tampak membacakan surat-surat lainnya dari RA Kartini. Salah satunya terkait pembatasan bagi kebebasan perempuan di masa silam yang kini sangat terasa bedanya.   ...Sejujurnya adat sopan santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adekku harus membungkuk bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adekku duduk di kursi, saat aku lalu haruslah ia segera turun duduk di tanah. Dengan menundukkan kepala sampai aku tidak terlihat lagi.   Adek-adekku tidak boleh berkamu dan berengkau-engkau. Mereka hanya boleh menegur saya dalam bahasa kromo inggil. Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah. Berdiri bulukuduk bila kita berada di lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat...   "Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya harus perlahan-lahan sehingga orang yang berada di dekatnya saja yang dapat mendengar. Nggak mungkin Kartini membayangkan seorang perempuan berbicara dengan microphone dan semuanya mendengar pada masa itu. It was unthinkable, impposible, dan prohibited," pungkasnya.  

Editor: Estu Suryowati

Tag:  #momen #mulyani #bacakan #surat #surat #kartini #ajak #pegawai #untuk #memaknainya

KOMENTAR