Rupiah Masih Tertekan, Pengamat Anggap Dua Jurus BI-Kemenkeu Kurang Jitu
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (19/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
13:46
7 Juni 2026

Rupiah Masih Tertekan, Pengamat Anggap Dua Jurus BI-Kemenkeu Kurang Jitu

Pengamat mata uang Ariston Tjendra menilai dua langkah  yang disepakati Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam memperkuat rupiah masih memiliki dampak positif dan negatif

Adapun, kerja sama dua Gubernur BI Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bisa meyakinkan investor dan pasar keuangan.

"Iya koordinasi fiskal dan moneter pastinya akan mengeluarkan kebijakan dan tindakan yang lebih komprehensif," ujarnya saat dihubungi Suara.com, Minggu (7/6/2026).

Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (19/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (19/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Namun, dua strategi itu memiliki kekurangan. Pasalnya, pelemahan rupiah yang sudah menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) juga dipengaruhi oleh tekanan global. Salah satunya, tensi perang yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran.

Kata dia, penguatan dolar AS juga dibackup oleh data ekonomi AS yang masih solid. Apalagi, di tengah kenaikan harga minyak mentah masih membuat rupiah tertekan dalam waktu lama.

"Tapi isu perdamaian AS Iran yang menggantung ini harus selesai dulu untuk mendorong pelepasan dolar AS dan mendorong pasar masuk kembali ke aset-aset berisiko termasuk Indonesia," katanya

Sementara itu, Kepala Center of Macroeconomics and Finance INDEF, M Rizal Taufikurahman menilai dua langkah yang ditempuh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan tersebut dapat membantu meredam tekanan terhadap rupiah.  Namun, belum tentu langsung menguatkan nilai tukarnya.

"Peningkatan imbal hasil memang dapat menarik kembali arus modal asing ke pasar keuangan domestik, sementara kecukupan likuiditas akan menjaga stabilitas pasar dan perbankan," katanya.

Dia menilai, tekanan eksternal seperti tingginya suku bunga global, penguatan dolar AS masih terjadi. Kondisi ini masih membuat rupiah terus tertekan.  

"Selama tekanan eksternal seperti tingginya suku bunga global, penguatan dolar AS, dan ketidakpastian geopolitik masih berlangsung, kebijakan tersebut lebih berfungsi sebagai instrumen stabilisasi daripada menjadi faktor yang mendorong apresiasi rupiah secara berkelanjutan," bebernya.

Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyepakati dua langkah untuk menjaga stabilitas rupiah.  

Dua langkah itu, pertama meningkatkan daya tarik imbal hasil untuk menarik arus dana asing yang dianggap mampu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Lalu kedua yaitu menjaga moneter dan fiskal menyepakati untuk menjaga kecukupan likuiditas pasar keuangan dan perbankan.

Editor: Achmad Fauzi

Tag:  #rupiah #masih #tertekan #pengamat #anggap #jurus #kemenkeu #kurang #jitu

KOMENTAR