Piala Dunia 2026 Putar Rp 1.443 Triliun, tetapi Tak Otomatis Dongkrak Ekonomi
Trofi Piala Dunia dipajang bersama pesawat ulang-alik NASA di Houston, Texas, jelang Piala Dunia 2026. (FIFA via Getty Images/Tim Warner)
10:12
5 Juni 2026

Piala Dunia 2026 Putar Rp 1.443 Triliun, tetapi Tak Otomatis Dongkrak Ekonomi

Piala Dunia selama ini dikenal sebagai pesta sepak bola terbesar di dunia. Namun, di balik kemeriahan pertandingan, turnamen empat tahunan tersebut juga menjadi salah satu peristiwa ekonomi terbesar secara global.

Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko diperkirakan menciptakan dampak ekonomi bernilai ratusan hingga ribuan triliun rupiah.

Manfaatnya menjangkau berbagai sektor, mulai dari pariwisata, transportasi, perhotelan, perdagangan, hingga pasar tenaga kerja.

Baca juga: OECD Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 4,7 Persen pada 2026

Trofi Piala Dunia terpampang di Stadion Azteca yang akan menjadi venue pembuka Piala Dunia 2026.FIFA Trofi Piala Dunia terpampang di Stadion Azteca yang akan menjadi venue pembuka Piala Dunia 2026.

Turnamen kali ini juga menjadi yang terbesar dalam sejarah. Untuk pertama kalinya, Piala Dunia akan diikuti 48 negara dengan total 104 pertandingan yang digelar di 16 kota tuan rumah selama 39 hari.

Menurut laporan World Economic Forum (WEF), Piala Dunia 2026 berpotensi memberikan kontribusi lebih dari 40 miliar dollar AS atau sekitar Rp 720 triliun (asumsi kurs Rp 18.011 per dollar AS) terhadap produk domestik bruto (PDB) global.

Sementara studi yang dilakukan FIFA bersama Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memperkirakan dampak ekonomi yang tercipta dapat mencapai 80,1 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 1.443 triliun.

Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa Piala Dunia kini bukan sekadar ajang olahraga, melainkan bagian dari ekonomi global yang melibatkan berbagai sektor usaha dan jutaan pekerja.

Baca juga: Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Berapa Kurs Wajar untuk Ekonomi Indonesia?

Olahraga menjadi mesin pertumbuhan ekonomi

Piala Dunia menjadi salah satu contoh bagaimana olahraga berkembang menjadi aktivitas ekonomi bernilai besar.

WEF mencatat ekonomi olahraga global saat ini bernilai sekitar 2,3 triliun dollar AS atau setara Rp 41.425 triliun per tahun. Nilainya diperkirakan meningkat menjadi 8,8 triliun dollar AS atau sekitar Rp 158.497 triliun pada 2050.

Trofi Piala Dunia dipamerkan di dalam Stadion Mercedes Benz di Atlanta, Georgia, jelang pergelaran Piala Dunia 2026.FIFA via Getty Images/Stew Milne Trofi Piala Dunia dipamerkan di dalam Stadion Mercedes Benz di Atlanta, Georgia, jelang pergelaran Piala Dunia 2026.

WEF bahkan menempatkan olahraga sebagai salah satu dari 10 sektor yang diperkirakan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dunia hingga 2030.

Dalam laporan tersebut dijelaskan, ajang olahraga berskala besar tidak hanya menghasilkan pendapatan dari tiket pertandingan dan hak siar.

Baca juga: Di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Ada Tekanan pada Rupiah dan Daya Beli

Kegiatan tersebut juga menciptakan aktivitas ekonomi baru melalui perjalanan wisata, konsumsi masyarakat, investasi infrastruktur, dan penciptaan lapangan kerja.

Piala Dunia 2026 diperkirakan dapat menjangkau lebih dari 6 miliar orang atau sekitar tiga perempat populasi dunia. Besarnya audiens tersebut membuat turnamen menjadi salah satu platform ekonomi dan bisnis terbesar di dunia.

Potensi tambahan PDB dan ratusan ribu lapangan kerja

Besarnya dampak ekonomi Piala Dunia tercermin dari berbagai proyeksi yang dirilis lembaga internasional.

Dalam pertemuan WEF di Davos, Swiss pada Januari 2026, Presiden FIFA Gianni Infantino mengutip studi FIFA dan WTO yang memperkirakan Piala Dunia 2026 dapat menghasilkan dampak ekonomi hingga Rp 1.443 triliun.

Baca juga: Purbaya: Ekonomi Masih Kuat, Pelemahan IHSG Dipicu Sentimen dan Rumor Negatif

Sementara itu, Bank of America memperkirakan turnamen tersebut dapat menambah sekitar 41 miliar dollar AS atau sekitar Rp 738 triliun terhadap PDB global dan menciptakan sekitar 800.000 lapangan kerja di seluruh dunia.

Lapangan kerja tersebut muncul pada berbagai sektor, mulai dari konstruksi, transportasi, perhotelan, keamanan, hiburan, hingga berbagai layanan pendukung lainnya.

Untuk AS sebagai tuan rumah utama, dampak ekonomi diperkirakan mencapai 17,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 310 triliun terhadap PDB nasional. 

Ajang itu juga diproyeksikan menciptakan sekitar 185.000 pekerjaan penuh waktu dan menghasilkan tambahan penerimaan pemerintah sebesar 3,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 61 triliun.

Interior Stadion Mercedes Benz di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, yang akan menjadi salah satu venue Piala Dunia 2026.PSSI Interior Stadion Mercedes Benz di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, yang akan menjadi salah satu venue Piala Dunia 2026.

Baca juga: OECD Pangkas Proyeksi Ekonomi Dunia, Ancaman Resesi Global Kembali Mengintai

Meski demikian, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa dampak tersebut perlu dilihat dalam konteks ukuran ekonomi negara tuan rumah yang sangat besar.

Mengapa Piala Dunia tidak selalu mengubah ekonomi nasional?

Di tengah berbagai proyeksi optimistis, S&P Global Market Intelligence menilai manfaat ekonomi Piala Dunia kemungkinan tidak akan terlihat signifikan dalam data ekonomi nasional Amerika Serikat maupun Kanada.

"Penilaian kami adalah bahwa meskipun pertandingan akan menghasilkan lonjakan aktivitas lokal, hal itu kemungkinan tidak akan menghasilkan dampak yang terukur terhadap data ekonomi nasional maupun regional yang kami proyeksikan untuk Amerika Serikat maupun Kanada," ungkap S&P.

Menurut S&P, terdapat empat alasan utama.

Baca juga: OECD: Geopolitik Kini Jadi Penentu Utama Ekonomi Global

Pertama, substitution effect atau efek pengalihan belanja. Sebagian pengunjung tidak menciptakan pengeluaran baru, melainkan hanya mengalihkan anggaran yang sebelumnya digunakan untuk aktivitas lain.

Kedua, crowding out, yaitu ketika sebagian wisatawan atau pelaku bisnis justru menghindari kota tuan rumah karena khawatir terhadap kepadatan selama turnamen berlangsung.

Ketiga, economic leakage atau kebocoran ekonomi, ketika sebagian pengeluaran mengalir ke perusahaan atau pihak di luar wilayah penyelenggara.

Keempat, faktor skala. Tambahan aktivitas ekonomi dari Piala Dunia relatif kecil dibandingkan ukuran ekonomi nasional AS maupun Kanada.

Baca juga: Menguji Ketahanan Ekonomi RI

"Secara keseluruhan, faktor-faktor ini menunjukkan bahwa bagi Amerika Serikat, Piala Dunia lebih mungkin menjadi peristiwa budaya yang penting dibanding pengubah permainan bagi ekonomi nasional," tulis S&P di laman resminya.

Trofi Piala Dunia FIFA dipamerkan di Philadelphia, Pennsylvania, pada 2 Juli 2024.Tim Nwachukwu - FIFA Trofi Piala Dunia FIFA dipamerkan di Philadelphia, Pennsylvania, pada 2 Juli 2024.

Belajar dari Olimpiade Atlanta

S&P menggunakan Olimpiade Atlanta 1996 sebagai salah satu pembanding.

Ajang tersebut memberikan dampak ekonomi yang lebih terlihat karena didahului investasi infrastruktur dalam jumlah besar selama bertahun-tahun.

Laporan Government Accountability Office menemukan sekitar 4,1 miliar dollar AS atau setara Rp 73,8 triliun telah dikeluarkan untuk menyelenggarakan Olimpiade Atlanta. Sekitar separuhnya digunakan untuk proyek infrastruktur.

Baca juga: Rupiah Melemah, Apa Dampaknya bagi Harga Barang dan Ekonomi?

Kondisi itu berbeda dengan Piala Dunia 2026 karena sebagian besar stadion yang digunakan sudah tersedia.

Sebagai contoh, renovasi Stadion AT&T di Dallas diperkirakan menelan biaya sekitar 295 juta dollar AS atau sekitar Rp 5,3 triliun.

Sementara peningkatan fasilitas Levi's Stadium di kawasan Teluk San Francisco mencapai sekitar 200 juta dollar AS atau sekitar Rp 3,6 triliun.

Selain itu, pertandingan Piala Dunia 2026 tersebar di 11 kota tuan rumah di AS. Kota-kota tersebut menyumbang lebih dari 30 persen PDB AS sehingga peningkatan sementara pada sektor pariwisata, perhotelan, dan transportasi menjadi sulit dibedakan dari fluktuasi ekonomi normal.

Baca juga: Dimensi Ekonomi Kunjungan Berkali-kali Presiden ke Luar Negeri

Pariwisata diperkirakan menjadi penerima manfaat terbesar

Meski dampaknya terhadap ekonomi nasional diperkirakan terbatas, sektor pariwisata tetap menjadi penerima manfaat terbesar dari penyelenggaraan Piala Dunia.

Jutaan suporter diperkirakan melakukan perjalanan ke negara-negara tuan rumah selama turnamen berlangsung.

FIFA memperkirakan Piala Dunia 2026 dapat menghasilkan sekitar 40,9 miliar dollar AS atau setara Rp 737 triliun terhadap PDB kawasan Amerika Utara.

Di tingkat lokal, kota-kota penyelenggara diperkirakan memperoleh tambahan aktivitas ekonomi antara 160 juta dollar AS hingga 620 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,9 triliun hingga Rp 11,2 triliun per kota.

Foto yang diambil pada 28 Februari 2026 menunjukkan trofi Piala Dunia yang dipamerkan selama Tur Trofi Piala Dunia FIFA di Guadalajara, Jalisco, Meksiko, pada 28 Februari 2026.XINHUA/Miriam Jimenez Foto yang diambil pada 28 Februari 2026 menunjukkan trofi Piala Dunia yang dipamerkan selama Tur Trofi Piala Dunia FIFA di Guadalajara, Jalisco, Meksiko, pada 28 Februari 2026.

Baca juga: Purbaya: Kebijakan DHE SDA Dorong Ketahanan Ekonomi dan Perbankan

Peningkatan tersebut berasal dari belanja wisatawan untuk hotel, makanan dan minuman, transportasi, tiket pertandingan, hingga berbagai aktivitas hiburan lainnya.

Sektor perhotelan diperkirakan menjadi salah satu yang paling menikmati lonjakan permintaan karena harus melayani tim nasional, ofisial FIFA, sponsor, media internasional, dan wisatawan selama lebih dari satu bulan penyelenggaraan turnamen.

Selain hotel, penyedia layanan sewa rumah dan apartemen juga diperkirakan memperoleh manfaat dari meningkatnya jumlah wisatawan internasional.

Manfaat di Kanada terkonsentrasi di kota tuan rumah

Kesimpulan serupa juga berlaku di Kanada yang akan menjadi tuan rumah pertandingan di Toronto dan Vancouver.

Baca juga: Wamenkeu Ungkap Alasan Ekonomi Indonesia Masih Mampu Hadapi Tekanan Global

S&P memperkirakan total investasi terkait Piala Dunia di Kanada mencapai sekitar 1,1 miliar dollar Kanada atau sekitar Rp 14,27 triliun (asumsi kurs Rp 12.975 per dollar Kanada).

Nilai tersebut mencakup hampir 500 juta dollar Kanada atau sekitar Rp 6,49 triliun dari pemerintah federal serta sekitar 600 juta dollar Kanada atau sekitar Rp 7,79 triliun dari pemerintah provinsi dan pemerintah kota untuk peningkatan stadion maupun transportasi.

Namun angka tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan biaya penyelenggaraan berbagai ajang olahraga besar yang pernah digelar Kanada.

Jika disesuaikan dengan nilai saat ini, biaya Olimpiade Musim Dingin Vancouver 2010 mencapai sekitar Rp 129,75 triliun.

Baca juga: Presiden Prabowo dan Macron Dorong Kemitraan Ekonomi Indonesia-Uni Eropa

Menurut S&P, manfaat ekonomi Piala Dunia di Kanada kemungkinan akan terkonsentrasi pada sektor akomodasi, makanan dan minuman, perjalanan, serta transportasi.

Papan hitung mundur Piala Dunia 2026 dipasang di depan Gereja Katedral Guadalajara, Negara Bagian Jalisco, Senin (23/2/2026). Gelaran Piala Dunia tinggal menghitung bulan, tetapi kondisi Meksiko ricuh dilanda pertempuran kartel melawan aparat.AFP/ULISES RUIZ Papan hitung mundur Piala Dunia 2026 dipasang di depan Gereja Katedral Guadalajara, Negara Bagian Jalisco, Senin (23/2/2026). Gelaran Piala Dunia tinggal menghitung bulan, tetapi kondisi Meksiko ricuh dilanda pertempuran kartel melawan aparat.

Meski demikian, sinyal awal belum menunjukkan lonjakan wisatawan yang besar. Destination Toronto melaporkan tingkat okupansi hotel pada Juni dan Juli berada di kisaran 80 persen atau relatif sama dengan tahun-tahun sebelumnya.

Sementara Destination Vancouver melaporkan pemesanan hotel pada Juni 2026 turun sekitar 20 persen dibandingkan Juni 2025.

Pelajaran dari Qatar

S&P juga menyoroti pengalaman Qatar saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Baca juga: Rupiah Terus Melemah, Stimulus Ekonomi Dinilai Tak Cukup

Menurut data awal Planning and Statistics Authority Qatar, PDB riil negara tersebut tumbuh 8 persen secara tahunan pada kuartal IV-2022 dan 2,7 persen dibanding kuartal sebelumnya. Pertumbuhan tersebut didorong peningkatan aktivitas nonpertambangan selama penyelenggaraan turnamen.

Namun pengalaman Qatar dinilai tidak dapat dibandingkan langsung dengan AS maupun Kanada.

Qatar merupakan negara dengan ukuran ekonomi yang jauh lebih kecil dan seluruh pertandingan berlangsung di wilayah yang relatif terpusat.

Sebaliknya, aktivitas Piala Dunia 2026 akan tersebar di banyak kota besar dan berada dalam dua ekonomi yang jauh lebih besar sehingga dampaknya terhadap data nasional menjadi lebih sulit terdeteksi.

Baca juga: Saat Penduduk Indonesia Menua, Apa yang Terjadi pada Ekonomi?

Selain manfaat ekonomi, terdapat pula potensi biaya yang muncul selama turnamen berlangsung. Survei UKG memperkirakan gangguan produktivitas akibat pekerja menonton pertandingan Piala Dunia dapat menimbulkan kerugian hingga sekitar 17 miliar dollar AS atau setara Rp 306 triliun bagi perusahaan-perusahaan secara global.

Berbagai proyeksi dan pengalaman penyelenggaraan ajang olahraga besar menunjukkan bahwa Piala Dunia dapat menghasilkan peningkatan yang nyata pada sektor pariwisata, jasa, dan lapangan kerja lokal.

Namun, manfaat tersebut umumnya lebih terkonsentrasi di kota-kota tuan rumah dibandingkan pada perekonomian nasional secara keseluruhan.

Tag:  #piala #dunia #2026 #putar #1443 #triliun #tetapi #otomatis #dongkrak #ekonomi

KOMENTAR