Asing Jual Rp 67 Triliun, IHSG Berpeluang Bangkit dari Zona Jenuh Jual Ekstrem
Ilustrasi saham. (PIXABAY/SERGEI TOKMAKOV)
07:13
5 Juni 2026

Asing Jual Rp 67 Triliun, IHSG Berpeluang Bangkit dari Zona Jenuh Jual Ekstrem

- Di tengah tekanan yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 32,46 persen sepanjang tahun berjalan (year to date/YTD), sejumlah indikator teknikal mulai menunjukkan indeks mulai bangkit, meski secara terbatas.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal IHSG mulai menunjukkan sinyal perbaikan setelah membentuk pola hammer candle pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Hal itu mengindikasikan peluang terjadinya limited downside atau ruang penurunan yang semakin terbatas.

Menurutnya, indikator Relative Strength Index (RSI) telah berada pada kondisi extremely oversold meskipun tren penurunan masih berlangsung. Di sisi lain, indikator Stochastics K-D mulai menunjukkan sinyal positif meskipun aktivitas volume perdagangan masih cenderung menurun.

“Secara teknikal, setelah membentuk pola hammer candle, IHSG berpeluang mengalami limited downside. Hal tersebut mengingat bahwa RSI mengindikasikan kondisi extremely oversold meskipun fase downtrend masih terjadi. Sementara itu, Stochastics K_D menunjukkan sinyal positif meskupun volume menurun,” ujar Nafan dalam risetnya dipublikasi Jumat (5/6/2026).

Baca juga: Asing Terus Angkat Kaki, IHSG dan Rupiah Kompak Tersungkur

Secara teknikal, level support IHSG pada perdagangan Jumat diperkirakan berada pada area 5.733 dan 5.602, sedangkan area resistance di kisaran 5.944-6.075.

Meski demikian, sentimen domestik masih menjadi tantangan utama bagi pasar saham. Pelaku pasar masih mencermati dampak lanjutan dari memburuknya persepsi risiko terhadap aset keuangan Indonesia yang memicu meningkatnya kehati-hatian investor asing.

“Para pelaku pasar masih mencerna efek lanjutan dari memburuknya persepsi risiko domestik setelah muncul tekanan terhadap instrumen investasi nasional dan meningkatnya kehati-hatian investor asing,” paparnya.

Per Kamis kemarin, investor asing telah membukukan penjualan bersih atau net foreign sell sebesar Rp 1,43 triliun. Secara akumulatif sepanjang tahun ini, nilai jual bersih asing menyentuh Rp 67,06 triliun.

Tekanan juga datang dari nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menembus level psikologis baru di kisaran Rp 18.049 per dollar Amerika Serikat (AS) saat penutupan pasar Kamis. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terkait stabilitas pasar keuangan domestik dan mendorong sebagian investor mengalihkan dana ke instrumen yang dinilai lebih defensif.

Kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah, stabilitas kebijakan, serta perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman masih menjadi faktor yang membuat investor belum agresif kembali masuk ke pasar saham.

Selain itu, perhatian investor saat ini juga tertuju pada pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan pada 18 Juni 2026. Pengumuman tersebut akan menentukan apakah Indonesia tetap berada dalam kategori emerging market atau mengalami penurunan status menjadi frontier market.

Pelaku pasar juga menunggu dampak rebalancing indeks global FTSE Russell yang akan efektif pada 22 Juni 2026. Penyesuaian komposisi indeks tersebut berpotensi mempengaruhi arus dana pasif asing yang mengikuti perubahan portofolio indeks global.

Dari eksternal, sentimen pasar relatif mendapat dukungan setelah Israel dan Lebanon menyepakati pembaruan gencatan senjata. Kesepakatan tersebut meningkatkan harapan terhadap terciptanya perdamaian yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran sehingga berpotensi meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Selain itu, investor global juga menantikan data ketenagakerjaan Amerika Serikat melalui laporan Nonfarm Payrolls (NFP) periode Mei 2026 yang akan dirilis pada akhir pekan ini.

Berdasarkan konsensus Trading Economics, jumlah lapangan kerja baru diperkirakan bertambah sekitar 85.000 pekerjaan, lebih rendah dibandingkan realisasi April yang mencapai 115.000 pekerjaan.

Apabila hasil data ketenagakerjaan tersebut sesuai atau sedikit di bawah ekspektasi pasar, bersamaan dengan melandainya inflasi berdasarkan indikator Personal Consumption Expenditures (PCE), maka peluang Bank Sentral AS atau The Fed untuk mempertahankan suku bunga di level 3,75 persen akan semakin besar.

Baca juga: Ekuitas Berbentuk Token Kian Dilirik, Jembatani Kripto dan Pasar Saham

Rekomendasi Saham Hari Ini Mirae Sekuritas

Bahkan, kondisi tersebut dapat membuka peluang pemangkasan suku bunga pada akhir tahun.

Di tengah berbagai sentimen tersebut, Nafan merekomendasikan investor untuk tetap selektif dengan fokus pada saham-saham berfundamental solid, memiliki valuasi murah, serta menunjukkan indikasi pembalikan tren. Di saat volatilitas pasar masih tinggi, disiplin dalam menerapkan manajemen risiko menjadi faktor penting dalam menjaga portofolio investasi.

Adapun, ia merekomendasikan sejumlah saham yang dapat dicermati investor ritel untuk perdagangan Jumat ini.

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)

Saham AMRT menunjukkan adanya positive divergence, yang mengindikasikan tekanan jual mulai mereda dan berpotensi diikuti pembalikan arah pergerakan harga. Investor dapat mempertimbangkan strategi accumulative buy, terutama pada area harga Rp 1.300-Rp 1.400 per saham.

AMRT memiliki target harga pertama di Rp 1.415 atau berpotensi naik sekitar 5,99 persen dari area akumulasi. Selanjutnya, target harga kedua berada di Rp 1.490 dengan potensi kenaikan 11,61 persen, sementara target harga ketiga di Rp 1.595 atau berpotensi menguat hingga 19,48 persen. Adapun level support berada pada area Rp 1.300 dan Rp 1.150.

PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK)

Saham CBDK dinilai telah memasuki kondisi extremely oversold setelah mengalami tekanan cukup dalam dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya technical rebound apabila sentimen pasar mulai membaik.

Untuk saham CBDK, investor dapat menerapkan strategi buy on weakness pada area harga Rp 3.310-Rp 3.710. Target penguatan pertama di Rp 3.760 dengan potensi kenaikan sekitar 5,03 persen. Selanjutnya, target harga kedua di Rp 4.240 atau berpotensi naik hingga 18,44 persen. Adapun area support berada di level Rp 3.310 dan Rp 2.800.

PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS)

Saham MBSS mulai menunjukkan potensi melanjutkan tren kenaikan (uptrend potential). Investor dapat melakukan akumulasi bertahap pada area harga Rp 2.070- Rp 2.470.

Secara teknikal, saham MBSS memiliki target harga pertama di Rp 2.540 atau berpotensi menguat sekitar 8,09 persen. Jika tren positif berlanjut, saham ini berpeluang mencapai target harga kedua di Rp 3.010 dengan potensi kenaikan mencapai 28,14 persen. Sementara itu, level support di area Rp 2.070 dan Rp 2.030.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

Tag:  #asing #jual #triliun #ihsg #berpeluang #bangkit #dari #zona #jenuh #jual #ekstrem

KOMENTAR