IHSG Bisa ke Level 5.700 Jika Terus Melemah Hari Ini
IHSG Bisa menuju level 5.750 Hari ini. [Suara.com/Alfian Winanto]
12:24
3 Juni 2026

IHSG Bisa ke Level 5.700 Jika Terus Melemah Hari Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara tiba-tiba merosot tajam pada perdagangan sesi I, Rabu, 3 Juni 2026. IHSG ditutup anjlok 4,94 persen ke level 5.889 pada sesi I ini.

Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis dalam riset teknikalnya melihat IHSG, tengah dalam masuk ke psikologis 6.000. Dalam artian, IHSG telah menuju batas harga wajarnya.

Sehingga, hal ini mengingdikasikan adanya bearish continuation atau bisa melanjutkan pelemahannya hingga perdagangan berakhir.

"Breaklow support psikologis 6000 menjadi indikasi Bearish continuation," ujar Alrich dalam risetnya yang dikutip, Rabu (3/6/2026).

Ia melanjutkan, jika IHSG ditutup pada sesi I ini merosot hingga di bawa level 6.000, maka bisa ke level terendah hingga 5.750.

Pengunjung melintas dibawah layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (18/3/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]IHSG Bisa menuju level 5.750 Hari ini. [Suara.com/Alfian Winanto]

"Jika ditutup di bawah 6.000, waspadai pelemahan lanjutan ke suppport area berikutnya 5.900 dan 5.750," kata Alrich.

Penyebab IHSG Ambruk

Phintraco Sekuritas menilai terdapat sejumlah faktor yang memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham domestik, mulai dari sentimen terkait Danantara, pelemahan rupiah, lonjakan harga minyak dunia hingga kekhawatiran terhadap hasil evaluasi pasar modal Indonesia oleh MSCI.

Salah satu sentimen yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah keputusan Moody's Ratings yang menetapkan peringkat Baa2 dengan outlook negatif untuk Danantara Investment Management.

"Selain itu, nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Mata uang Garuda melemah hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS)," tulis Phintraco Sekuritas seperti dikutip, Rabu (3/6/2026).

Harga Minyak Kembali Naik

Menurut Phintraco Sekuritas, pelemahan rupiah tidak lepas dari kembali menguatnya harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta meningkatnya tekanan inflasi.

Belum tercapainya kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran menjadi salah satu faktor yang mendorong harga minyak kembali naik setelah sebelumnya sempat terkoreksi.

Kondisi tersebut menimbulkan kecemasan baru di pasar mengingat inflasi Indonesia pada Mei 2026 telah meningkat menjadi 3,08 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Meski inflasi masih berada dalam target Bank Indonesia sebesar 1,5 persen hingga 3,5 persen, pelaku pasar khawatir tekanan harga akan semakin besar apabila harga minyak bertahan tinggi dalam waktu yang lama.

"Jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama, dikhawatirkan inflasi akan kembali meningkat. Sehingga potensi kenaikan BI Rate masih terbuka di tengah potensi kenaikan inflasi dan berlanjutnya depresiasi Rupiah. Tren kenaikan suku bunga berpotensi menjadi sentimen negatif bagi bursa saham," tulis Phintraco.

Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.

Editor: Achmad Fauzi

Tag:  #ihsg #bisa #level #5700 #jika #terus #melemah #hari

KOMENTAR