Harga Minyak Dunia Melonjak saat Rupiah Cetak Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah
IIustrasi Kilang Minyak [Pexels].
11:53
3 Juni 2026

Harga Minyak Dunia Melonjak saat Rupiah Cetak Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah

Harga minyak mentah dunia kembali melesat tajam dengan kenaikan lebih dari 1 persen pada pembukaan sesi perdagangan Rabu (3/6/2026).

Lonjakan harga energi ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah setelah militer Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Kuwait dan Bahrain, di tengah kebuntuan pembicaraan diplomatik antara pihak Teheran dan Amerika Serikat (AS).

Melansir data dari Reuters, kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent merangkak naik sebesar USD 1,05 atau setara 1,09 persen hingga menyentuh level USD 97,05 per barel.

Selaras dengan tren tersebut, harga minyak mentah poin West Texas Intermediate (WTI) khusus pasar AS meningkat USD 1,01 atau naik 1,08 persen ke posisi USD 94,77 per barel.

Harga minyak yang stabil di level tinggi, sementara kurs Rupiah hari ini tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan rupiah yang terus mencetak rekor terburuk berkali-kali ini terjadi hanya dalam 1 tahun 7 bulan pemerintahan Prabowo Subianto.

Terpisah, di penutupan sesi perdagangan sebelumnya, kedua instrumen acuan minyak internasional ini bahkan sempat nangkring di posisi tertinggi mereka dalam kurun waktu sepekan terakhir.

Berdasarkan laporan resmi dari pihak militer Amerika Serikat, Iran terdeteksi melepaskan sejumlah rudal balistik yang diarahkan langsung ke dua negara tetangganya, yakni Kuwait dan Bahrain, meskipun rangkaian serangan udara tersebut dikabarkan gagal mengenai sasaran utama.

Merespons agresivitas tersebut, komando pasukan AS di kawasan itu langsung mengambil tindakan tegas dengan melancarkan serangan balasan yang menyasar fasilitas militer di Pulau Qeshm milik Iran.

Para pelaku pasar komoditas global saat ini tengah memantau ketat dinamika konflik tersebut dari dekat. Situasi dinilai semakin abu-abu lantaran Teheran sebenarnya sedang berada dalam fase meninjau draf proposal kesepakatan damai dengan AS guna menghentikan perang yang telah berkecamuk.

Namun, media lokal di Iran melaporkan bahwa pemerintah Teheran mengklaim belum menjalin komunikasi diplomatik lagi dengan Washington selama beberapa hari terakhir.

Pernyataan tersebut kontras dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang menyatakan di hadapan publik bahwa proses negosiasi antar kedua belah pihak masih terus berjalan.

Di sisi lain, tantangan logistik distribusi energi kian pelik. Senior Commodity Strategist dari ANZ Bank, Daniel Hynes, mengungkapkan bahwa upaya internasional untuk membuka kembali akses pelayaran aman di Selat Hormuz menemui jalan buntu.

Hal ini dikarenakan militer Iran telah menyebar ranjau laut di sebagian besar jalur perairan vital yang menjadi urat nadi pengiriman minyak dunia tersebut.

"Memang ada sedikit peningkatan jumlah kapal yang mencoba melintas, namun total transit secara keseluruhan masih jauh di bawah level sebelum konflik terjadi," papar Daniel Hynes dalam analisis pasarnya.

Meskipun operasi militer bersama yang diluncurkan oleh AS dan Israel ke wilayah Iran sudah berjalan selama lebih dari tiga bulan, konfrontasi bersenjata ini dinilai mulai memasuki fase buntu (deadlock) di tengah skema gencatan senjata yang sangat rapuh.

Selain dipicu oleh faktor geopolitik yang memanas, tren kenaikan harga minyak dunia kali ini juga disokong kuat oleh indikator ketatnya pasokan dari negara produsen. Persediaan minyak mentah domestik di Amerika Serikat dilaporkan mengalami penyusutan selama tujuh pekan berturut-turut.

Berdasarkan rilis data berkala dari American Petroleum Institute (API), volume stok minyak mentah milik Negeri Paman Sam tersebut menyusut drastis hingga 6,8 juta barel untuk periode pekanan yang berakhir pada tanggal 29 Mei lalu.

Para investor kini tengah menanti rilis data statistik resmi terkait jumlah cadangan energi terupdate dari pemerintah AS melalui Badan Informasi Energi (EIA), yang dijadwalkan keluar pada Rabu pekan ini pukul 10.30 waktu setempat atau pukul 14.30 GMT.

Disclaimer: Segala bentuk informasi mengenai pergerakan harga komoditas, analisis pasar minyak dunia, dan proyeksi ekonomi dalam artikel ini bersifat edukasi dan referensi berita umum. Pasar komoditas energi memiliki tingkat risiko dan volatilitas yang sangat tinggi, sehingga keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.

Editor: M Nurhadi

Tag:  #harga #minyak #dunia #melonjak #saat #rupiah #cetak #rekor #terburuk #sepanjang #sejarah

KOMENTAR