Ekonom: Pelemahan Rupiah Bebani Ekspor Akibat Kenaikan Biaya
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira menilai anggapan bahwa pelemahan rupiah otomatis menguntungkan sektor ekspor merupakan persepsi yang keliru.
Menurut dia, kondisi saat ini justru menunjukkan depresiasi rupiah ikut mendorong kenaikan biaya produksi dan membebani pelaku usaha.
“Jadi itu salah persepsinya soal rupiah melemah menguntungkan ekspor,” ujar Bhima kepada Kompas.com, Rabu (27/5/2026).
Baca juga: Industri Berbasis SDA Diuntungkan Saat Rupiah Melemah
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira Adhinegara dalam diskusi Polemik Harga Beras dan Kebijakan Pangan di Tengah Krisis Iklim, Selasa (16/9/2025).
Ia menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini diikuti kenaikan berbagai komponen biaya produksi, mulai dari bahan baku, logistik, hingga kebutuhan penunjang industri yang sebagian masih bergantung pada impor.
“Karena yang terjadi saat ini rupiah melemah itu diikuti oleh kenaikan dari sisi biaya bahan baku, biaya produksi, biaya logistik. Semuanya mengalami penyesuaian,” ujarnya.
Bhima mencontohkan sektor pertanian yang turut terdampak akibat kenaikan harga pupuk nonsubsidi, plastik, alat pertanian, pestisida, hingga obat-obatan pertanian.
Menurut dia, lonjakan biaya input produksi di sejumlah sektor bahkan mencapai 30 persen akibat pelemahan kurs.
Baca juga: HIMKI: Industri Mebel Tak Bisa Selamanya Bergantung pada Pelemahan Rupiah
“Ada yang bervariasi, kenaikan input produksinya bahkan sampai 30 persen karena pelemahan nilai tukar,” ujar Bhima.
Dia menilai kondisi tersebut membuat Indonesia tidak memperoleh windfall atau keuntungan besar dari sektor komoditas ekspor meskipun rupiah melemah.
Bhima mencontohkan harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani yang justru terus mengalami penurunan meski sawit merupakan salah satu komoditas ekspor utama Indonesia.
Ilustrasi nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 per dollar AS. Jika rupiah terus melemah hingga Rp 20.000 per dollar AS, ekonom menilai tekanan terhadap ekonomi domestik bisa semakin berat.
“Ini membuktikan bahwa petani justru dibebani oleh biaya-biaya yang naik cukup signifikan sehingga tidak bisa terkompensasi dari meningkatnya permintaan ekspor,” katanya.
Baca juga: Kurs Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.800, Purbaya: Ya Saya Stres
Selain itu, Bhima mencatat volume ekspor Indonesia juga mengalami perlambatan sejak tren pelemahan rupiah terjadi pada kuartal I 2026.
Ia menyebut pertumbuhan ekspor Indonesia pada kuartal I 2026 hanya mencapai 0,7 persen secara tahunan atau year on year (yoy), sementara impor justru meningkat lebih dari 7 persen.
“Ini menunjukkan bahwa memang kondisi saat ini pelemahan kurs merugikan ekonomi, bahkan merugikan pengusaha ekspor,” ujar Bhima.
Menurut dia, penilaian terhadap dampak pelemahan rupiah tidak bisa hanya melihat sisi nilai tukar semata tanpa memperhitungkan struktur biaya produksi yang ditanggung industri.
Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.796 Per Dollar AS, Risiko PHK Industri Meningkat
“Jadi tidak benar ya (pelemahan rupiah menguntungkan ekspor). Jika (persepsi seperti itu) artinya tidak memahami teori ekonomi yang paling dasar. Yang harus dicek adalah input biaya produksinya,” jelas Bhima.
“Bukan semata-mata karena pelemahan rupiah, otomatis ada daya saing yang menguat,” lanjutnya.
Bhima juga menilai daya saing produk ekspor Indonesia saat ini masih tertinggal dibanding sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia.
“Sebagian produk ekspor Indonesia daya saingnya kalah dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia,” ujar Bhima.
Tag: #ekonom #pelemahan #rupiah #bebani #ekspor #akibat #kenaikan #biaya