Menimbang Ulang Sistem Ranking di Sekolah: Antara Relevan dan Tidak
- Sistem ranking di sekolah disebut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menilai perankingan berpotensi memicu perundungan. Apakah ranking masih relevan?
Di banyak sekolah, praktik ranking formal memang tidak lagi diumumkan secara terbuka seperti dulu.
Namun, sebagian sekolah masih menerapkannya secara terbatas, biasanya saat pembagian rapor atau evaluasi akademik tertentu.
Lantas, masih relevankah sistem ranking dipertahankan?
Di sisi lain, pendapat soal ranking masih terbelah. Sebagian menganggap sistem tersebut penting sebagai pemicu semangat belajar, sementara yang lain melihatnya sebagai sumber tekanan karena menyederhanakan kemampuan siswa hanya melalui angka.
Baca juga: Ranking di Sekolah Disebut Bisa Picu Bullying, Benarkah?
Tak adil karena menyamaratakan “start” siswa
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji termasuk pihak yang mempertanyakan relevansi ranking di sekolah saat ini.
Menurut dia, asumsi dasar sistem ranking telah terbukti tidak berpijak pada kondisi material di ruang kelas.
“Sistem ranking mengasumsikan semua anak punya titik start, minat, dan kecerdasan yang seragam. Ini adalah kemalasan akademis dalam menilai manusia,” kata Ubaid kepada Kompas.com, Rabu (27/5/2026).
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji
Ia menilai, mengukur siswa dengan satu alat ukur lalu mengurutkannya dalam daftar peringkat berpotensi mengabaikan keragaman kemampuan anak.
“Mengukur kecerdasan musisi, calon atlet, dan calon ilmuwan dengan satu alat ukur lalu merankingnya adalah bentuk ketidakadilan,” kata Ubaid.
Meski praktik ranking formal mulai berkurang, realitas pendidikan menunjukkan pemeringkatan belum benar-benar hilang.
Siswa masih menghadapi berbagai bentuk kompetisi akademik, mulai dari kelas unggulan, olimpiade, jalur prestasi, hingga seleksi masuk perguruan tinggi yang bertumpu pada capaian nilai.
Baca juga: Mendikdasmen: Sistem Ranking Picu Perilaku Perundungan di Sekolah
Bagi Ubaid, problem utama bukan sekadar daftar ranking di kelas, melainkan cara sistem pendidikan membangun persaingan antarsiswa.
Menurut dia, sekolah semestinya menggeser orientasi kompetisi dari mengalahkan orang lain menjadi pengembangan diri.
“Kompetisi jangan diarahkan untuk mengalahkan teman, tetapi mengalahkan keterbatasan diri sendiri,” kata dia. Ia juga mendorong metode pembelajaran lebih kolaboratif agar siswa tidak tumbuh dalam tekanan saling bersaing.
Apa kata siswa sekolah?
Ranking masih dianggap sebagai motivasi
Meski menuai kritik, tidak semua siswa melihat ranking sebagai sesuatu yang harus dihapus.
Siswa SMA di Depok, Arkan (17), mengatakan sekolahnya masih menerapkan sistem ranking yang diumumkan saat pembagian rapor.
Menurut dia, keberadaan ranking justru menjadi dorongan agar siswa lebih berprestasi.
“Bagi saya, sistem ranking di sekolah justru semakin memotivasi untuk semakin berprestasi,” ujar Arkan kepada Kompas.com, Rabu (27/6/2026).
Ilustrasi sekolah yang mengadaptasi kurikulum Cambridge.
Menurut dia, penghapusan ranking justru berisiko menurunkan daya saing akademik di sekolah.
“Kalau ranking dihapus atau enggak terlalu ditonjolkan malah bisa bikin siswa jadi lebih santai. Rasa persaingan akademik juga bisa menurun,” katanya.
Pandangan serupa kerap muncul dalam perdebatan soal pendidikan.
Ranking dianggap membantu siswa menetapkan target, mengevaluasi kemampuan, sekaligus memacu semangat belajar.
Selain itu, capaian akademik masih menjadi salah satu instrumen penting dalam berbagai sistem seleksi, mulai dari jalur prestasi hingga penerimaan di perguruan tinggi.
Ranking dinilai menjadi tekanan
Namun, pandangan berbeda disampaikan Leyta (17), siswa SMA lainnya di Depok. Menurut dia, sistem ranking lebih sering terasa sebagai tekanan dibanding motivasi.
Leyta mengatakan sekolahnya masih menerapkan ranking, tetapi hasilnya tidak diumumkan secara terbuka.
“Ada sih (informasi ranking), tapi diumuminnya pas ambil rapor dan itu enggak disebar. Cuma ke diri sendiri sama orang tua,” ujar dia.
Menurut Leyta, persoalan ranking terletak pada cara sekolah menyederhanakan capaian siswa ke dalam angka total.
“Sebenarnya lebih ngerasa tekanan sih karena ranking berasal dari total nilai yang dijumlah. Sedangkan kemampuan siswa itu beda-beda sesuai minat dan keterampilan di masing-masing pelajaran,” katanya.
Baca juga: Ujian Nasional Dihapus, Dana Pengadaan Komputer di Jabar Kok Tetap Cair?
Meski begitu, Leyta tidak sepakat jika ranking dihapus sepenuhnya. Menurut dia, sistem tersebut tetap dapat dipertahankan selama tidak dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan siswa.
“Menurut aku ranking sebaiknya tetap ada buat motivasi beberapa orang, tapi jangan dijadikan hal utama. Sekolah juga perlu menghargai proses belajar sama usaha siswa karena mereka punya keterampilan yang berbeda-beda,” ujarnya.
Pernyataan Mendikdasmen
Abdul Mu'ti sempat memaparkan sejumlah pemicu terjadinya perundungan di kalangan murid, salah satunya yakni pe-ranking-an dari capaian akademik.
Ia mengingatkan keberhasilan layanan pendidikan haruslah ditentukan oleh kondisi lingkungan fisik dan sosial yang aman dan nyaman sehingga setiap murid dapat belajar dengan sebaik-baiknya.
"Aman itu juga aman secara sosial dan aman secara psikologis, karena seringkali kita melihat sekolah-sekolah kita ini secara sosial juga belum cukup aman," kata Mendikdasmen Mu'ti dalam kegiatan bertajuk Seminar Budaya Sekolah Aman dan Nyaman di Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta Pusat pada Senin (25/5/2026).
Mendikdasmen Abdul Mu'ti menggelar nonton bareng film Children of Heaven ditemani pemain di Plaza Senayan, Jumat (22/5/2026).
Adapun keamanan secara intelektual, lanjutnya, menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aman, nyaman dan inklusif.
Berkenaan dengan hal tersebut, ia mengatakan perankingan capaian akademik dapat menimbulkan kondisi perbandingan di antara para murid yang tidak jarang berakhir menjadi penyebab terjadinya perundungan.
“Misalnya yang sudah besar tidak bisa mengerjakan soal yang kecil, yang gede kok enggak bisa, ini yang kecil aja bisa. Itu (contoh kondisi demikian) kan tidak sehat,” kata Mu'ti.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya peran guru dalam mengubah cara pandang murid terhadap proses belajar beserta hasilnya yang berupa angka maupun ranking. Perubahan cara pandang itu, lanjutnya, dituangkan Kemendikdasmen dalam kebijakan deep learning.
Kata kunci pertama dalam pelaksanaan deep learning ialah memuliakan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar.
“Sehingga menurut saya memang ada realitas dimana cara kita melakukan pendekatan kepada murid-murid itu harus berubah the way we deliver knowledge itu tidak bisa dilepaskan dari value, tidak bisa dilepaskan dari nilai dan penghormatan yang kita harus memuliakan semua mereka,” ujarnya.
Tag: #menimbang #ulang #sistem #ranking #sekolah #antara #relevan #tidak