Harga Minyak Dunia Naik, Pasar Ragukan Kesepakatan AS-Iran
Ilustrasi harga minyak(SHUTTERSTOCK/MASSIMO VERNICESOLE)
12:16
22 Mei 2026

Harga Minyak Dunia Naik, Pasar Ragukan Kesepakatan AS-Iran

Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Asia, Jumat (22/5/2026), setelah pasar mulai meragukan peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Negosiasi kedua negara dinilai belum menunjukkan terobosan berarti, sementara sejumlah persoalan utama masih belum terselesaikan.

Kenaikan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global, terutama terkait ketidakpastian di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi titik penting distribusi minyak dunia.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik 1,9 Persen Usai Iran Kukuh Pertahankan Pengayaan Uranium

Ilustrasi kilang minyak.FREEPIK/ARTPHOTO_STUDIO Ilustrasi kilang minyak.

Dikutip dari OilPrice, harga minyak mentah Brent tercatat berada di level 104,80 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1,85 juta per barrel, naik 2,13 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Sementara itu, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 1,70 persen menjadi 97,99 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1,73 juta per barrel.

Kenaikan tersebut terjadi hanya sehari setelah kedua acuan minyak itu sempat turun sekitar 2 persen ke level terendah dalam hampir dua pekan.

Penurunan sebelumnya dipicu optimisme pasar terhadap kemungkinan kemajuan diplomatik dalam pembicaraan AS-Iran.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun 2 Persen di Tengah Ketidakpastian Konflik AS-Iran

Namun, sentimen berubah cepat setelah muncul sinyal yang saling bertolak belakang dari para pihak yang terlibat dalam negosiasi.

Seorang sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters, belum ada kesepakatan yang tercapai, meskipun kedua pihak disebut berhasil mempersempit sejumlah perbedaan pandangan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut terdapat beberapa tanda positif dalam pembicaraan tersebut.

Ilustrasi harga minyak mentah. SHUTTERSTOCK/GAS-PHOTO Ilustrasi harga minyak mentah.

Meski demikian, Rubio juga menegaskan setiap upaya Iran untuk membatasi akses di Selat Hormuz tidak dapat diterima.

Baca juga: Wall Street Ditutup Menguat Saat Harga Minyak Turun dan Harapan AS-Iran Berdamai

Selama enam minggu gencatan senjata berlangsung, upaya mencapai kesepakatan permanen disebut belum menghasilkan kemajuan signifikan.

Pasar minyak pun terus bergerak fluktuatif, bereaksi terhadap berbagai klaim kemajuan diplomatik sebelum kembali terkoreksi ketika tidak ada hasil konkret yang tercapai.

Pasar fisik makin ketat

Kondisi pasar minyak fisik yang semakin ketat turut memperbesar kekhawatiran pelaku pasar global.

Lonjakan harga energi dinilai mulai memicu tekanan inflasi di berbagai negara, terutama karena biaya bahan bakar memengaruhi sektor transportasi dan manufaktur.

Baca juga: Harga Minyak Naik Imbas Konflik di Timur Tengah, EV Kian Laku

Laporan tersebut menyebutkan bahwa persediaan minyak global turun dalam laju tercepat dalam sejarah.

Di saat bersamaan, sejumlah negara mulai menerapkan langkah darurat untuk menahan dampak kenaikan harga energi.

Kondisi itu memperlihatkan gangguan pasokan minyak tidak lagi hanya menjadi isu geopolitik, tetapi juga mulai berdampak langsung terhadap ekonomi riil di berbagai kawasan.

Kekhawatiran pasar juga diperkuat oleh pernyataan Chief Executive Officer ADNOC Sultan Al Jaber yang disampaikan sehari sebelumnya.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Anjlok 6 Persen Usai Trump Sebut Negosiasi AS-Iran Masuk Tahap Akhir

Ia memperingatkan arus penuh pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kemungkinan baru dapat kembali normal pada kuartal I atau kuartal II 2027, bahkan jika konflik berhenti saat ini juga.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan jalur distribusi minyak global diperkirakan memerlukan waktu panjang.

Logo OPECwikimedia commons Logo OPEC

Uni Emirat Arab (UEA), yang telah keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan Sekutunya (OPEC+), kini disebut agresif meningkatkan kapasitas ekspor minyak di luar jalur Hormuz melalui pembangunan jaringan pipa baru.

Langkah itu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk.

Baca juga: Harga Minyak Turun 1 Persen usai Trump Klaim Perang Iran Segera Berakhir

Selat Hormuz jadi perhatian utama

Dalam jangka pendek, pasar menilai pembukaan kembali akses normal di Selat Hormuz menjadi satu-satunya solusi utama untuk meredakan tekanan di pasar minyak dunia.

Karena itu, investor dan pelaku pasar disebut akan terus memantau perkembangan diplomatik antara AS dan Iran, sambil mewaspadai potensi eskalasi militer yang dapat memperburuk situasi.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia. Gangguan kecil saja di kawasan tersebut dapat langsung memicu lonjakan harga minyak global karena besarnya volume distribusi yang melintasi jalur itu setiap hari.

Ketidakpastian yang terus berlangsung membuat pasar energi bergerak sangat sensitif terhadap setiap perkembangan politik maupun militer di Timur Tengah.

Baca juga: Prabowo Pasang Asumsi Harga Minyak Mentah 95 Dollar AS, Lifting Migas Ikut Digenjot di 2027

Kenaikan harga minyak dunia juga berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap negara-negara importir energi, termasuk Indonesia.

Harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan biaya impor energi sekaligus memperbesar tekanan terhadap inflasi domestik.

Di sisi lain, lonjakan harga energi global juga dapat memengaruhi sektor industri yang bergantung pada bahan bakar, mulai dari transportasi hingga manufaktur.

Pasar saat ini disebut masih menunggu dua kemungkinan utama, yakni tercapainya terobosan diplomatik atau justru meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Turun Usai AS Sebut Ada Kemajuan Perundingan dengan Iran

Selama ketidakpastian tersebut belum mereda, volatilitas harga minyak diperkirakan masih akan terus berlanjut.

Tag:  #harga #minyak #dunia #naik #pasar #ragukan #kesepakatan #iran

KOMENTAR