Wall Street Ditutup Menguat Saat Harga Minyak Turun dan Harapan AS-Iran Berdamai
- Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis setelah sempat fluktuatif di awal perdagangan Kamis (21/5/2026), seiring melemahnya harga minyak dunia dan meningkatnya harapan pasar terhadap kemajuan pembicaraan damai antara AS dan Iran.
Meski demikian, ketegangan geopolitik masih membayangi pasar karena kedua negara tetap memiliki perbedaan sikap terkait stok uranium Iran, serta pengawasan Selat Hormuz yang merupakan jalur penting distribusi minyak global.
Setelah sempat bergerak di zona merah sepanjang sesi pagi, indeks-indeks utama Wall Street berhasil berbalik menguat pada perdagangan sore hari. Pergerakan tersebut terjadi bersamaan dengan perubahan arah harga minyak yang sebelumnya reli namun kemudian turun.
Mengutip Reuters pada Jumat (22/5/2026), indeks Dow Jones Industrial Average naik 276,31 poin atau 0,55 persen ke level 50.285,66 dan mencetak rekor penutupan tertinggi baru.
Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 12,75 poin atau 0,17 persen ke level 7.445,72 dan Nasdaq Composite naik 22,74 poin atau 0,09 persen menjadi 26.293,10.
Baca juga: AS-Iran di Ambang Perang Lagi, Pakistan Gercep Bermanuver Diplomatik
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan terdapat “sejumlah sinyal positif” dalam pembicaraan dengan Iran. Namun, Rubio juga menegaskan bahwa kesepakatan diplomatik akan sulit tercapai apabila Teheran menerapkan sistem pungutan atau tolling di Selat Hormuz.
Di sisi lain, sumber senior Iran kepada Reuters menyebutkan bahwa hingga kini belum ada kesepakatan final dengan AS.
Meski begitu, jarak perbedaan pandangan kedua negara disebut mulai menyempit, meskipun isu pengayaan uranium Iran dan kontrol atas Selat Hormuz masih menjadi hambatan utama negosiasi.
Baca juga: Ahmadinejad, Trump, dan Ujian Politik Iran
Chief Investment Strategy and Research Glenmede, Jason Pride, menilai volatilitas pasar pada perdagangan Kamis lebih banyak dipicu respons investor terhadap spekulasi geopolitik.
“Kita saat ini berada pada level valuasi pasar yang tinggi yang sebagian didorong oleh kinerja laba perusahaan. Selama musim laporan keuangan, perhatian pasar lebih banyak tertuju pada earnings sehingga kekhawatiran soal Iran sempat tertutupi,” ujar Pride.
Namun, menurut dia, karena musim laporan keuangan mulai berakhir, perhatian investor kini kembali tertuju pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
“Kita tidak akan lagi mendapatkan banyak kejutan positif dari laba perusahaan. Karena itu, perhatian pasar sekarang kembali ke Iran. Dalam jangka pendek, pasar akan bergerak berdasarkan rumor atau pengumuman terkait kesepakatan Iran,” lanjutnya.
Chief Investment Officer Huntington Wealth Management, Marc Dizard, mengatakan pasar saat ini masih melihat adanya sisi positif dari kondisi geopolitik yang ada.
“Hal positifnya adalah dari perspektif pasar, gencatan senjata yang rapuh masih bertahan. Ini juga positif karena menurut laporan berita masih ada peluang penyelesaian konflik,” kata Dizard.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pasar dan harga minyak saat ini sangat sensitif terhadap setiap perkembangan berita terkait Iran.
“Tidak ada yang benar-benar tahu, kecuali lingkaran dalam Iran dan AS, seberapa besar kemajuan yang sebenarnya telah dicapai,” lanjutnya.
Investor juga merespons laporan kinerja terbaru sejumlah perusahaan besar AS.
Saham Walmart anjlok 7,3 persen setelah perusahaan ritel terbesar dunia itu memproyeksikan laba kuartal kedua di bawah ekspektasi pasar meski tetap mempertahankan target tahunan.
Baca juga: Kinerja Nvidia Lampaui Ekspektasi Wall Street, tapi Sahamnya Justru Anjlok
Chief Financial Officer Walmart, John David Rainey, mengatakan konsumen mulai merasakan tekanan akibat tingginya harga bahan bakar.
Menurut dia, apabila biaya tetap tinggi, maka inflasi harga ritel diperkirakan akan meningkat pada kuartal kedua dan paruh kedua tahun ini.
Tekanan Walmart turut menyeret sektor consumer staples di indeks S&P 500 yang turun 1,6 persen.
Sejumlah saham ritel lain juga ikut melemah, termasuk Casey’s General Stores yang turun 3,3 persen dan Costco Wholesale yang melemah 2,2 persen.
Di sektor teknologi, saham NVIDIA turun 1,8 persen akibat aksi ambil untung investor setelah sebelumnya perusahaan merilis proyeksi pendapatan kuartal kedua yang kuat dan program pembelian kembali saham senilai 80 miliar dollar AS.
Saham Nvidia memang sudah melonjak tajam sepanjang tahun ini. Namun, laju kenaikannya mulai melambat karena investor mulai memperhitungkan meningkatnya persaingan dari rival chip seperti Intel dan Advanced Micro Devices atau AMD.
Meski demikian, Philadelphia Semiconductor Index justru ditutup naik 1,3 persen karena pasar menilai hasil kinerja Nvidia tetap menjadi sinyal positif bagi industri semikonduktor secara keseluruhan.
Dari sisi ekonomi, klaim pengangguran di AS tercatat turun pada pekan lalu yang menunjukkan pasar tenaga kerja masih cukup kuat. Kondisi tersebut memberi ruang bagi Federal Reserve untuk tetap fokus terhadap risiko inflasi.
Aktivitas manufaktur AS juga naik ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir pada Mei 2026. Kenaikan tersebut dipicu langkah perusahaan membangun persediaan untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan dan kenaikan harga akibat konflik Iran.
Di luar itu, saham IBM melonjak 12,4 persen setelah muncul kabar bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump akan mendanai sejumlah perusahaan komputasi kuantum, termasuk proyek baru IBM, dengan imbalan kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan tersebut.
Baca juga: IMF Ingatkan Risiko Subsidi Energi dan Pangan Berlebihan
Saham GlobalFoundries juga naik 14,9 persen, sementara D-Wave Quantum melesat 33,4 persen.
Selain itu, saham Rigetti Computing melonjak 30,6 persen dan Infleqtion menguat 31,5 persen.
Di sisi lain, saham Intuit anjlok 20 persen setelah perusahaan perangkat lunak pemilik TurboTax itu memangkas proyeksi pendapatan tahunan dan mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja terhadap 17 persen karyawan tetapnya.
Saham perusahaan jasa perpajakan H&R Block juga ditutup melemah 4,8 persen.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik masih lebih banyak dibandingkan saham yang turun dengan rasio 1,51 banding 1 di Bursa New York atau NYSE.
Di Nasdaq, sebanyak 2.985 saham menguat dan 1.798 saham melemah dengan rasio penguatan mencapai 1,66 banding 1.
Indeks S&P 500 mencatatkan 11 saham baru yang menyentuh level tertinggi 52 minggu dan empat saham mencetak level terendah baru. Sementara Nasdaq Composite mencatat 96 saham mencapai level tertinggi baru dan 108 saham menyentuh level terendah baru.
Volume perdagangan di bursa AS tercatat mencapai 17,67 miliar saham atau sedikit di bawah rata-rata 20 sesi terakhir sebesar 18,57 miliar saham.
Tag: #wall #street #ditutup #menguat #saat #harga #minyak #turun #harapan #iran #berdamai