AS Bongkar Jalur Pendanaan Rahasia IRGC, Bursa Kripto Raksasa Binance Terseret
Ilustrasi Garda Revolusi Iran (IRGC).(KANTOR KEPRESIDENAN IRAN via AFP)
11:36
22 Mei 2026

AS Bongkar Jalur Pendanaan Rahasia IRGC, Bursa Kripto Raksasa Binance Terseret

Sebuah investigasi mengungkap dugaan bahwa bursa kripto terbesar dunia, Binance, menjadi jalur aliran dana yang berkaitan dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

Laporan itu, sebagaimana dilansir The Wall Street Journal, Kamis (21/5/2026), menyebut seorang pengusaha Iran yang dijuluki operator “anti-sanksi”, Babak Zanjani, membangun jaringan pembayaran rahasia untuk menjaga aliran dana ke IRGC tetap berjalan di tengah sanksi Amerika Serikat.

Dokumen kepatuhan internal Binance menunjukkan jaringan Zanjani melakukan transaksi sekitar 850 juta dollar AS (sekitar Rp 15 triliun) dalam dua tahun terakhir, sebagian besar melalui satu akun perdagangan di Binance. Aktivitas itu disebut masih berlangsung hingga Desember lalu.

Baca juga: Bantu IRGC, Pasukan Iran Ini Makin Kuat Pukul AS-Israel

Jaringan diduga hindari sanksi AS

Laporan internal Binance menyebut sejumlah sekutu Zanjani, termasuk saudara perempuan, pasangan, dan direktur perusahaannya, mengoperasikan akun tambahan yang diakses dari perangkat yang sama.

Penyelidik internal Binance menilai pola tersebut sebagai indikasi upaya menghindari sanksi AS terhadap Iran.

Meski beberapa kali muncul tanda peringatan internal, akun utama itu disebut tetap aktif selama sedikitnya 15 bulan dan masih terbuka hingga Januari.

Menurut pejabat penegak hukum asing dan peneliti kripto, miliaran dolar transaksi kripto telah mengalir melalui Binance menuju jaringan yang mendanai IRGC dalam dua tahun sebelum pecahnya perang AS-Iran saat ini.

IRGC merupakan kekuatan militer, politik, dan ekonomi besar di Iran yang juga mendukung kelompok proksi di Timur Tengah, termasuk Hamas, Hizbullah, dan Houthi di Yaman.

Binance bantah tuduhan

Juru bicara Binance membantah laporan tersebut dan mengatakan, informasi yang beredar tidak akurat.

Perusahaan menegaskan, pihaknya tidak mengizinkan transaksi dengan individu atau dompet digital yang sedang dikenai sanksi.

“Binance memiliki toleransi nol terhadap aktivitas ilegal di platform kami, dan sejak 2024 Binance telah bertransformasi serta membangun program kepatuhan kelas dunia,” kata juru bicara perusahaan.

Binance juga menyatakan telah bekerja sama dengan aparat penegak hukum global untuk “mendeteksi, mencegah, dan memerangi kejahatan finansial.”

Namun, perusahaan menolak menjawab pertanyaan rinci mengenai jumlah dana yang dipindahkan maupun detail transaksi yang dipersoalkan.

Baca juga: IRGC Sergap 2 Kapal Kargo Terkait Israel di Selat Hormuz, Tensi Memanas

AS selidiki dugaan pelanggaran baru

Departemen Kehakiman AS kini menyelidiki penggunaan Binance oleh Iran untuk menghindari sanksi setelah Binance mengaku bersalah pada 2023 atas pelanggaran anti pencucian uang dan sanksi federal.

Pada 2023, Binance dikenai denda 4,3 miliar dollar AS (sekitar Rp 76 triliun). Pendirinya, Changpeng Zhao, juga mengaku bersalah atas pelanggaran anti pencucian uang dan menjalani hukuman penjara selama empat bulan sebelum mendapat pengampunan dari Presiden Donald Trump pada Oktober.

Meski setelah kasus itu Binance berjanji memperketat pengawasan kejahatan finansial, laporan internal dan data blockchain menunjukkan aliran dana terkait Iran disebut kembali meningkat.

Pejabat Departemen Keuangan AS pekan lalu juga memperingatkan bahwa IRGC memanfaatkan celah pengawasan di bursa kripto untuk mendukung pendanaan kelompok-kelompok yang mereka dukung.

Peran Babak Zanjani

Sebuah foto yang dirilis pada 6 Maret 2016 menunjukkan taipan miliarder Iran Babak Zanjani (C) di pengadilan, di Teheran. Pria itu dinyatakan bersalah atas penipuan dan kejahatan ekonomi.AFP Sebuah foto yang dirilis pada 6 Maret 2016 menunjukkan taipan miliarder Iran Babak Zanjani (C) di pengadilan, di Teheran. Pria itu dinyatakan bersalah atas penipuan dan kejahatan ekonomi.

Nama Babak Zanjani bukan sosok baru dalam kasus penghindaran sanksi Iran. AS pertama kali menjatuhkan sanksi terhadapnya pada 2013 karena membantu pemerintah Iran memindahkan miliaran dolar melalui bank di Malaysia.

Dalam pernyataannya kepada media Iran kala itu, Zanjani menyebut pekerjaannya sebagai “operasi anti-sanksi” dan menggambarkan dirinya sebagai “prajurit ekonomi Basij”, merujuk pada milisi sukarelawan yang terkait IRGC.

Perusahaan kriptonya, Zedcex, disebut menjadi salah satu saluran utama aliran dana tersebut.

Menurut pejabat penegak hukum asing, dana hasil penjualan minyak Iran masuk ke Zedcex melalui bank-bank di Turkiye sebelum diteruskan ke dompet digital yang terkait IRGC.

Laporan kepatuhan Binance menyebut akun korporat Zedcex yang terdaftar di Dubai melakukan transaksi sekitar 830 juta dollar AS (sekitar Rp 14 triliun) sepanjang 2024 hingga 2025.

Adapun kripto telah menjadi alat penting bagi Iran untuk bertahan dari tekanan sanksi internasional.

Penyedia data blockchain TRM Labs memperkirakan warga Iran melakukan transaksi kripto lebih dari 10 miliar dollar AS (sekitar Rp 177 triliun) tahun lalu.

Binance disebut telah lama menjadi pintu utama transaksi kripto Iran sejak platform itu diluncurkan pada 2017.

Bahkan, bursa kripto terbesar Iran, Nobitex, pernah menyebut Binance sebagai “pilihan terbaik” bagi warga Iran untuk membeli kripto karena “menimbulkan lebih sedikit masalah bagi pengguna Iran.”

Namun Binance membantah masih menjadi jalur utama dana kripto Iran dan menyatakan telah mengambil langkah proaktif untuk membatasi eksposur terhadap pasar Iran.

Baca juga: AS Sebut Tidak Larang Iran Main di Piala Dunia 2026, tapi Tolak Pemain yang Terkait IRGC

Tag:  #bongkar #jalur #pendanaan #rahasia #irgc #bursa #kripto #raksasa #binance #terseret

KOMENTAR