Senggol Spanyol, Menlu AS Pertanyakan Keanggotan NATO saat Perang Iran
Presiden AS Donald Trump berbicara dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di samping Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, Menteri Keuangan AS Scott Bessent, dan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick selama pertemuan bilateral di sela-sela pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos pada 21 Januari 2026. (MANDEL NGAN)
11:42
22 Mei 2026

Senggol Spanyol, Menlu AS Pertanyakan Keanggotan NATO saat Perang Iran

- Hubungan Amerika Serikat (AS) dengan NATO kembali diliputi ketegangan. 

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio secara terbuka mempertanyakan komitmen sejumlah negara anggota aliansi, khususnya Spanyol.

Pasalnya, negara-negara tersebut menolak memberikan izin penggunaan pangkalan militer mereka untuk keperluan perang Iran.

Baca juga: NATO Anggap Enteng Penarikan 5.000 Tentara AS, Cuma Pasukan Rotasi

Pernyataan ini disampaikan menjelang pertemuan di Helsingborg, Swedia. 

Rubio mengungkapkan bahwa Presiden AS Donald Trump sangat kecewa terhadap sikap beberapa sekutu tersebut.

"Ada negara-negara seperti Spanyol yang menolak kami menggunakan pangkalan-pangkalan tersebut. Jika demikian, mengapa Anda berada di NATO? Itu adalah pertanyaan yang sangat wajar," ujar Rubio di Miami. 

Namun, dia menambahkan bahwa negara aliansi lainnya tetap sangat membantu, sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (22/5/2026).

Di satu sisi, pertemuan di Helsingborg tersebut menjadi momen pertama Rubio bertemu sekutu NATO sejak Trump mempertanyakan masa depan aliansi akibat perpecahan seputar perang Iran.

Selain itu, pertemuan itu juga digelar di tengah rencana Washington menarik 5.000 tentaranya dari Eropa.

Baca juga: Trump Bakal Kurangi Kekuatan Militer AS di NATO, Ingin Tekan Eropa?

Ancaman Trump dan kegelisahan Eropa

Trump gencar mengkritik anggota NATO karena dinilai kurang mendukung kampanye militer AS-Israel. 

Dia bahkan mempertimbangkan untuk menarik AS keluar dari aliansi dan meragukan komitmen pakta pertahanan bersama. 

Kekhawatiran Eropa kian diperparah oleh ambisi Trump mengakuisisi Greenland dari Denmark, sesama anggota NATO.

Di sisi lain, pejabat NATO menegaskan AS tidak meminta aliansi secara resmi terlibat dalam perang Iran. 

Meski begitu, banyak anggota tetap menghormati komitmen dengan mengizinkan penggunaan ruang udara dan pangkalan mereka.

Baca juga: Drone Ukraina Nyasar hingga Ditembak Jatuh F-16 NATO, Ada Campur Tangan Rusia?

Untuk meredakan situasi, para menteri Eropa berencana menegaskan kesiapan mereka menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz yang sempat dibatasi Iran, serta mengambil tanggung jawab lebih besar atas keamanan kawasan.

Di satu sisi, kecemasan Eropa tetap tinggi akibat rencana penarikan 5.000 tentara AS.

Penarikan tersebut dikaitkan dengan kritik Kanselir Jerman Friedrich Merz terhadap strategi perang Trump. 

Baca juga: Perang Iran Kuras Stok Senjata, NATO Gelar Rapat Darurat

Selain itu, pembatalan pengerahan rudal Tomahawk ke Jerman, penundaan pasukan ke Polandia, dan rencana AS memperkecil kapasitas militer bagi aliansi saat krisis.

Merespons gejolak ini, Panglima Tertinggi NATO asal AS, Jenderal Alexus Grynkewich, berusaha menenangkan sekutu. 

Dia menyatakan pengurangan pasukan akan berlangsung bertahap selama bertahun-tahun agar Eropa bisa membangun kemampuan pengganti.

"Seiring dengan semakin kuatnya pilar aliansi di Eropa, hal ini memungkinkan AS untuk mengurangi kehadirannya di Eropa dan membatasi diri hanya untuk menyediakan kemampuan kritis yang belum dapat disediakan oleh para sekutu," jelas Grynkewich.

Baca juga: Zelensky Tuding Rusia Pertimbangkan Rencana Serang NATO

Tag:  #senggol #spanyol #menlu #pertanyakan #keanggotan #nato #saat #perang #iran

KOMENTAR