Harga Minyak Dunia Sepekan Melesat: Harapan Damai AS-Iran Memudar
- Harga minyak dunia mencatat kenaikan tajam sepanjang pekan ini di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta berlanjutnya blokade Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 7,84 persen secara mingguan dan ditutup di level 109,26 dollar AS per barrel pada perdagangan Jumat (15/5/2026) waktu setempat.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melonjak 10,48 persen dalam sepekan ke posisi 105,42 dollar AS per barrel.
Baca juga: Harga Minyak Naik Usai China Setuju Beli Minyak Mentah AS
Ilustrasi harga minyak
Pada perdagangan harian, Brent menguat 3,35 persen atau naik 3,54 dollar AS per barrel di Jumat, sedangkan WTI naik 4,2 persen atau bertambah 4,25 dollar AS per barrel.
Kenaikan harga minyak dipicu memudarnya harapan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran untuk mengakhiri serangan serta penyitaan kapal di sekitar Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting perdagangan energi global.
Analis Commerzbank menilai hubungan antara Washington dan Teheran kembali memanas meski gencatan senjata masih berlangsung.
"Harapan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu cepat mulai memudar," tulis analis Commerzbank.
Baca juga: China Disebut Akan Beli Minyak AS, Trump: Mereka Haus Energi
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Iran tidak memiliki kepercayaan terhadap AS dan hanya tertarik melanjutkan negosiasi jika Washington benar-benar serius.
Ia bilang, Iran siap kembali berperang, namun tetap membuka peluang penyelesaian diplomatik.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengaku mulai kehilangan kesabaran terhadap Iran.
Presiden China Xi Jinping menyambut kehadiran Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Beijing pada Kamis (14/5/2026).
Trump juga mengatakan dirinya dan Presiden China Xi Jinping sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan harus membuka kembali Selat Hormuz.
Baca juga: IEA: Cadangan Minyak Dunia Terus Menipis akibat Konflik Timur Tengah
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia dengan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global melewati kawasan tersebut, termasuk ekspor dari Arab Saudi, Irak, dan Qatar.
Pendiri lembaga analisis pasar minyak Vanda Insights, Vandana Hari, mengatakan pasar kini kembali fokus pada kebuntuan di Selat Hormuz dan risiko eskalasi konflik baru.
"Pasar kembali fokus pada kebuntuan dan blokade Selat Hormuz, dengan risiko tambahan berupa eskalasi militer lanjutan," ucapnya.
Sementara itu, analis PVM Tamas Varga menyebut jumlah kapal yang mulai melintasi Selat Hormuz memang meningkat, tetapi masih jauh di bawah kondisi normal sebelum perang.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik di Tengah Kekhawatiran Serangan Kapal di Selat Hormuz
Garda Revolusi Iran menyatakan sekitar 30 kapal melintasi Selat Hormuz pada Rabu (13/5/2026) malam hingga Kamis (14/5/2026).
Jumlah itu meningkat dibanding beberapa pekan terakhir, tetapi masih jauh dari rata-rata normal sekitar 140 kapal per hari sebelum konflik pecah.
Kekhawatiran pasar semakin besar karena cadangan minyak global dinilai mulai menipis.
Analis senior Price Futures Group Phil Flynn mengatakan penutupan Selat Hormuz dalam waktu lama berpotensi memperketat pasokan minyak dunia dan mendorong harga energi terus naik dalam beberapa pekan hingga bulan mendatang.
Tag: #harga #minyak #dunia #sepekan #melesat #harapan #damai #iran #memudar