Rupiah Ditutup Menguat Sore ini, Sentuh Rp 17.475 per Dollar AS
- Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat pada perdagangan Rabu (13/5/2026).
Rupiah naik 53 poin atau 0,30 persen ke level Rp 17.475 per dollar Amerika Serikat (AS).
Meski rupiah menguat, tekanan global dinilai masih tinggi akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar global masih rapuh setelah Presiden AS Donald Trump menyebut negosiasi dengan Iran berada dalam kondisi kritis.
Pernyataan itu muncul setelah Iran menolak proposal yang didukung AS untuk mengakhiri konflik sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.
“Konflik yang berkepanjangan telah mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur transit minyak global utama, yang memicu kekhawatiran akan inflasi yang berkelanjutan akibat kenaikan harga energi dan mempersulit prospek suku bunga,” ujar Ibrahim kepada wartawan.
Baca juga: BI Rilis Daftar Uang Rupiah yang Tak Berlaku, Ada Pecahan Rp 1.000 Hingga Rp 5.000
Selat Hormuz menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia. Gangguan distribusi di kawasan tersebut memicu kekhawatiran kenaikan harga energi global dan inflasi berkepanjangan.
Pasar kini juga menyoroti agenda pertemuan Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14 hingga 15 Mei 2026.
Pertemuan itu diperkirakan membahas sejumlah isu strategis, mulai dari perang dagang, konflik Iran, Taiwan, hingga rantai pasok global.
Menurut Ibrahim, peluang tercapainya kesepakatan damai masih tipis. Iran juga disebut semakin memperketat penguasaan di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut mulai berdampak ke ekonomi AS. Harga minyak yang naik ikut mendorong kenaikan harga bahan bakar dan tekanan inflasi.
Data inflasi AS menunjukkan harga konsumen naik 0,6 persen pada April 2026. Inflasi tahunan atau consumer price index (CPI) mencapai 3,8 persen, tertinggi sejak pertengahan 2023.
Inflasi inti juga tercatat berada di atas ekspektasi pasar.
“Pasar kini menantikan data indeks harga produsen AS yang akan dirilis Rabu nanti untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai tekanan inflasi dan arah kebijakan Federal Reserve,” kata Ibrahim.
Baca juga: Dampak Rupiah Rp 17.500, Kelas Menengah-Bawah Mulai Terjepit Harga Pangan dan BBM
Pelaku pasar kini mulai mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga AS tahun ini akibat tekanan inflasi yang masih tinggi.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti posisi utang pemerintah Indonesia yang mendekati Rp 10.000 triliun.
Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah mencapai Rp 9.920,42 triliun hingga akhir Maret 2026. Angka itu naik Rp 282,52 triliun dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp 9.637,90 triliun.
Meski meningkat, rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di level 40,75 persen. Angka itu masih di bawah batas aman 60 persen sesuai Undang-Undang Keuangan Negara.
Pemerintah juga menilai rasio utang Indonesia masih lebih rendah dibandingkan sejumlah negara lain.
“Utang Singapura berada di kisaran 180 persen terhadap PDB, sementara Malaysia di atas 60 persen terhadap PDB,” ujar Ibrahim mengutip pernyataan pemerintah.
Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menunjukkan mayoritas utang pemerintah berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).
Nilainya mencapai Rp 8.652,89 triliun atau sekitar 87,22 persen dari total utang pemerintah.
Bank Indonesia (BI) juga terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.
BI tetap aktif melakukan intervensi di pasar off shore melalui instrumen Non Deliverable Forward (NDF) selama periode cuti bersama.
Intervensi dilakukan di pasar New York, Asia, dan Eropa secara berkelanjutan.
Selain itu, BI juga akan melakukan intervensi agresif di pasar domestik mulai 18 Mei 2026 melalui pasar valuta asing spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder.