Rupiah Tembus 17.500, Kementerian ESDM Kaji Dampaknya ke Subsidi BBM
- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih mengkaji dampak pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp 17.500 per dollar AS terhadap skema subsidi energi.
Rupiah di pasar spot tercatat berada di level Rp 17.515 per dollar AS pada awal perdagangan Rabu (13/5/2026).
Sehari sebelumnya, Selasa (12/5/2026), rupiah ditutup di posisi Rp 17.529 per dollar AS. Level itu menjadi pelemahan terdalam sepanjang sejarah.
Baca juga: Cerita Purbaya soal Alasan Prabowo Instruksikan Tahan Harga Subsidi BBM
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, pelemahan rupiah kini menjadi perhatian khusus jajaran menteri ekonomi Kabinet Merah Putih.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga tengah menggelar rapat untuk membahas dampak pelemahan kurs terhadap sektor energi, terutama terkait subsidi.
“Itu kebetulan Pak Menteri (ESDM) sama jajaran menteri-menteri sedang merapatkan hal tersebut ya. Jadi kita tunggu aja,” ujar Laode saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu.
Belum ada keputusan soal BBM subsidi
Laode menegaskan belum ada keputusan terkait kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi bulan depan akibat pelemahan rupiah.
Menurut dia, kebijakan harga BBM subsidi masih mengacu pada aturan yang berlaku saat ini.
“Kan belum ada info-info lain lagi selain yang ada sekarang. Jadi kita lihat perkembangan berikutnya aja nanti,” kata dia.
Baca juga: DEN Ungkap Bocoran Skema Baru Pembatasan BBM Subsidi
Pernyataan itu muncul di tengah tekanan kurs rupiah dan kenaikan biaya energi global yang berpotensi membebani anggaran subsidi pemerintah.
Pemerintah sebelumnya memastikan harga BBM subsidi tidak akan naik hingga akhir 2026, meski harga energi dunia berfluktuasi akibat konflik geopolitik.
Komitmen tahan harga BBM
Komitmen tersebut disampaikan setelah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada Kamis (16/4/2026).
Saat itu, kurs rupiah masih berada di kisaran Rp 17.100 per dollar AS.
Bahlil mengatakan keputusan mempertahankan harga BBM subsidi mengikuti arahan Presiden Prabowo.
Ia menilai kondisi pasokan energi nasional masih aman sehingga pemerintah belum melihat kebutuhan menaikkan harga BBM subsidi.
“Insya Allah stok kita di atas standar minimum, baik itu solar, baik itu bensin, maupun LPG. Insyaallah aman, dan sekali lagi saya katakan bahwa kami sudah bersepakat atas arahan Bapak Presiden, bahwa harga BBM untuk subsidi tidak akan dinaikkan sampai dengan akhir tahun,” ucap Bahlil, dikutip dari keterangan resmi, Jumat (17/4/2026).
Tag: #rupiah #tembus #17500 #kementerian #esdm #kaji #dampaknya #subsidi