Cemas dan Pasrah Pedagang Kecil saat Rupiah Melemah
Pengrajin tempe asal Kebayoran, Jakarta Selatan, Maghfiroh (43) saat menjaga lapaknya di Pasal Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (13/5/2026).(KOMPAS.com/Syakirun Ni’am)
10:08
13 Mei 2026

Cemas dan Pasrah Pedagang Kecil saat Rupiah Melemah

- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) membuat pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) cemas sekaligus hanya bisa pasrah.

Pengrajin tempe asal Kebayoran, Jakarta Selatan, Maghfiroh (43) khawatir pelemahan rupiah mendorong harga kedelai semakin tinggi.

Kedelai yang menjadi bahan baku utama tempe diketahui merupakan salah satu komoditas impor.

Sementara, pelemahan rupiah pada umumnya membuat harga komoditas impor naik.

Baca juga: Rupiah Tembus 17.500, Purbaya Siap Intervensi Pasar Obligasi

“Kan sudah pernah sampai empat belas ribu juga. Sudah pernah sampai berapa bulan itu kita enggak ada untung sama sekali buat makan doang, enggak ada sisa,” kata Maghfiroh saat ditemui di Pasar Palmerah,” Jakarta Barat, Rabu (13/5/2026).

Maghfiroh setiap harinya memproduksi 70 sampai 75 kilogram tempe dan menjualnya di Pasar Palmerah.

Untuk kebutuhan produksi, Maghfiroh membeli 1 ton kedelai.

Menurutnya, setiap kali ia berbelanja harga kedelai mengalami kenaikan senilai Rp 5.000 per kuintal atau Rp 500 per kilogram.

“Jadi kalau kita belanjanya kan per ton, per tonnya berarti naiknya lima puluh ribu,” ujar Maghfiroh.

Meski bahan baku melambung, Maghfiroh mengaku tidak bisa menaikkan harga jual maupun memperkecil ukuran tempe.

Kenaikan harga tempe meskipun hanya Rp 500 per potong atau ukurannya berkurang bakal diprotes pembeli.

Di sisi lain, Maghfiroh juga dihadapkan pada kenaikan harga plastik yang tajam karena gangguan pasokan bahan baku nafta dari Asia Barat (Timur Tengah) imbas perang.

“Pelanggan kalau dikecilin enggak mau, ditipisin juga dia enggak mau. Jadi kita kualitas tetap sama, harga tetap sama, jadi untungnya yang berkurang,” tutur Maghfiroh.

Kegelisahan yang sama juga dirasakan pemilik warung makan, Nurhayati (63). Ia mengaku mendengar kabar rupiah melemah saat jatuh ke Rp 17.400 per dollar AS kemarin, Selasa (13/5/2026).

Momentum tersebut lalu digunakan untuk menukar valuta asing (Valas) yang ia dapatkan dari anaknya ke rupiah.

Nurhayati khawatir, pelemahan rupiah akan mendorong kenaikan bahan pokok, terutama komoditas impor seperti bawang putih.

Menurut Nurhayati, sejumlah bumbu dapur seperti bawang putih, bawang merah, hingga cabai mengalami kenaikan.

“Tapi kami butuh, mau enggak mau kita harus perlu, kita juga mencari nafkah untuk menjual lagi, jualan apa gitu kan membutuhkan barang-barang ini,” ujar Nurhayati di Pasar Palmerah.

Ia pun mempertanyakan bagaimana upaya pemerintah menjaga komoditas bahan pangan sehingga tetap terkendali.

“Masih dalam kondisi agak-agak khawatir memang. Terus gimana ke depannya apakah bisa turun apa mau bagaimananya saya enggak tahu,” kata Nurhayati.

Pedagang tahu Karsito (70) saat menjaga lapaknya di Pasar Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (13/5/2026).KOMPAS.com/Syakirun Ni’am Pedagang tahu Karsito (70) saat menjaga lapaknya di Pasar Palmerah, Jakarta Barat, Rabu (13/5/2026).

Sementara itu, pedagang tahu di Pasar Palmerah Karsito (70) mengaku hanya bisa pasrah.

Berbeda dengan Maghfiroh yang memproduksi tempe sendiri, Karsito membeli tahu dari pabrik dan menjualnya ke pasar.

Sejak mulai berdagang pada 2025 sampai sekarang ia mengaku belum menaikkan harga tahu.

“Jualnya dari tahun ini, tahun 2025 juga masih sama, Rp 5.000,” ujar Karsito.

Menurut pria asal Pekalongan itu, jika pelemahan rupiah memicu kenaikan bahan pangan para pedagang akan mundur.

Meski demikian, ia memilih pasrah dan tidak memusingkan dampak pelemahan rupiah terhadap kenaikan harga barang.

“Ya terserah saja lah. Harga mahal ya tentunya ikut mahal, harga murah ya ikut murah,” kata Karsito.

Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Sebagai informasi, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di merosot ke Rp 17.529 pada penutupan perdagangan di pasar spot, Selasa (12/5/2026) sore. Posisi ini menjadi yang terendah sepanjang sejarah (all time low/ATL).

Pelemahan rupiah diduga dipicu perang di Asia Barat (Timur Tengah) yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.

Negosiasi Amerika Serikat (AS) dinilai rapuh sehingga tensi geopolitik masih panas.

Baca juga: Rupiah Melemah, Ini Dampaknya ke Pasar Modal Indonesia

Tag:  #cemas #pasrah #pedagang #kecil #saat #rupiah #melemah

KOMENTAR