Data Tenaga Kerja AS Lebih Kuat dari Perkiraan, Rupiah Berpotensi Makin Terkapar
- Nilai tukar rupiah dinilai masih berada dalam tekanan setelah data pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan kondisi ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap peluang Federal Reserve atau The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS atau Bureau of Labor Statistics (BLS) melaporkan payroll nonfarm atau penyerapan tenaga kerja di luar sektor pertanian bertambah 115.000 pekerjaan pada April 2026 secara musiman.
Baca juga: Rupiah Melemah, Beban Operasional Industri Pindar Berpotensi Naik
Jumlah tersebut memang lebih rendah dibanding tambahan 185.000 pekerjaan pada Maret.
Meski begitu, angka April tetap melampaui proyeksi konsensus Dow Jones yang memperkirakan penambahan hanya 55.000 pekerjaan.
Data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih cukup solid di tengah ekspektasi perlambatan ekonomi global dan harapan pemangkasan suku bunga acuan tahun ini.
Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra mengatakan, data tenaga kerja AS yang lebih baik dari perkiraan membuat peluang pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat semakin kecil.
Menurut dia, pasar melihat The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama jika data ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan, terutama dari sektor tenaga kerja.
“Ini bisa menahan peluang pemangkasan suku bunga acuan AS ke depan sehingga data ini mendukung nilai dollar AS. Ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan AS yang mengecil peluangnya, masih menjaga nilai tukar dollar AS tetap kuat terhadap nilai tukar lainnya, termasuk rupiah,” ujar Ariston saat dihubungi Kompas.com, Jumat (8/5/2026) malam.
Baca juga: Pengangguran AS Tetap Rendah, Harapan Pemangkasan Suku Bunga Makin Tipis
Data tenaga kerja AS yang kuat dan inflasi yang belum melandai menjadi faktor utama yang menopang penguatan dollar AS.
Kondisi tersebut membuat investor global tetap memilih aset berbasis dollar AS yang dinilai lebih aman dan menawarkan imbal hasil tinggi.
Akibatnya, tekanan terhadap rupiah dinilai masih cukup besar.
“Apalagi bila data-data penting AS seperti data tenaga kerja dan inflasi masih menunjukan penguatan. Oleh karena itu, rupiah masih belum aman, masih ada potensi melemah,” paparnya.
Rupiah di pasar spot ditutup melemah pada perdagangan Jumat (8/5/2026).
Mata uang Garuda terdepresiasi 49 poin atau 0,28 persen ke level Rp 17.382 per dollar AS.
Ariston menilai, pasar saat ini masih merespons positif kemungkinan perdamaian antara AS dan Iran yang sempat disuarakan Presiden Donald Trump.
Sentimen tersebut membuat indeks dollar AS bergerak terkoreksi sehingga rupiah sempat mendapat ruang penguatan terbatas.
Selain faktor eksternal, Ariston juga menyoroti laporan mengenai rasio utang pemerintah Indonesia yang kini berada di atas 40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Menurut dia, rasio utang tersebut terus meningkat dibanding periode sebelumnya yang berada di kisaran 30 persen.
Meski masih lebih rendah dibanding sejumlah negara lain, data tersebut dinilai tetap menjadi tekanan tambahan bagi rupiah.
“Hari ini keluar berita soal rasio utang negara yang di atas 40 persen dari PDB. Rasio ini makin naik ya dari sebelumnya yang di kisaran 30 persen. Namun memang kalau dibandingkan dengan negara-negara lain, rasio utang ini masih di bawah. Tapi tetap bisa menjadi faktor penekan rupiah,” tukas dia.
Tag: #data #tenaga #kerja #lebih #kuat #dari #perkiraan #rupiah #berpotensi #makin #terkapar