Bursa Asia Reli ke Rekor Tertinggi, Harga Minyak Mulai Melandai
Ilustrasi saham, IHSG.(UNSPLASH/TOTOS ADAM)
09:24
7 Mei 2026

Bursa Asia Reli ke Rekor Tertinggi, Harga Minyak Mulai Melandai

– Bursa saham Asia melonjak ke level tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Kamis (7/5/2026), didorong optimisme pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah.

Sentimen positif tersebut juga membuat dollar AS melemah, sementara harga minyak dunia stabil setelah mengalami penurunan tajam pada perdagangan sebelumnya.

Mengutip Reuters, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 1 persen dan kembali mencetak rekor tertinggi baru. Dalam sepekan terakhir, indeks tersebut telah menguat sekitar 7 persen.

Baca juga: IHSG Diperkirakan Bergerak Terbatas, Ritel Bisa Cermati Saham BIPI, BKSL, Hingga BNBR

Pasar saham Jepang turut mencatat penguatan signifikan. Indeks Nikkei melonjak setelah kembali dibuka usai libur panjang dan untuk pertama kalinya menembus level 62.000.

Kenaikan pasar Asia didorong reli saham sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), seiring laporan kinerja keuangan emiten teknologi yang lebih kuat dari perkiraan.

Penguatan juga terjadi di pasar saham Korea Selatan dan Taiwan yang sama-sama mencetak rekor tertinggi baru.

Analis Senior Capital.com Kyle Rodda mengatakan, pergerakan pasar saat ini mencerminkan optimisme investor terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah.

Baca juga: Saham GoTo Diborong Danantara, Kepemilikan Masih di Bawah 1 Persen

“Namun, pasar juga pernah menghadapi situasi serupa sebelumnya dan sentimen bisa berubah sangat cepat. Jika negosiasi terus menunjukkan kemajuan, pasar Asia berpotensi melanjutkan reli,” ujar Rodda.

Iran dikabarkan tengah meninjau proposal perdamaian yang disebut dapat mengakhiri perang yang berlangsung sejak akhir Februari lalu.

Meski demikian, sejumlah isu penting masih belum terselesaikan, termasuk tuntutan AS agar Iran menghentikan program nuklirnya serta membuka kembali Selat Hormuz.

Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar karena merupakan jalur penting distribusi minyak dunia. Kekhawatiran terhadap penutupan jalur tersebut sebelumnya sempat memicu lonjakan harga energi global.

Baca juga: IHSG Sesi I Ditutup Menguat, Ditopang Saham TPIA, BRPT, dan UNVR

Harapan tercapainya kesepakatan damai membuat harga minyak turun hampir 8 persen pada perdagangan Rabu (6/5/2026). Pada perdagangan Kamis pagi waktu Asia, harga minyak Brent bergerak tipis menguat ke level 102,11 dollar AS per barel.

Meski begitu, harga minyak masih berada sekitar 40 persen lebih tinggi dibandingkan saat konflik dimulai. Kenaikan harga energi tersebut dinilai tetap menjadi tantangan besar bagi perekonomian global karena berpotensi mendorong inflasi.

Analis OCBC dalam risetnya menilai harga minyak kemungkinan masih akan bertahan tinggi meski Selat Hormuz kembali dibuka dalam beberapa pekan mendatang.

Menurut mereka, kerusakan infrastruktur energi dan langkah antisipatif berupa penimbunan stok minyak dapat membuat penurunan harga berlangsung lebih lambat.

Di pasar mata uang, euro bertahan menguat dan diperdagangkan di level 1,1747 dollar AS. Sementara poundsterling berada di posisi 1,3591 dollar AS.

Baca juga: Saham GOTO Kembali ARB, Antrean Jual Tembus 111 Juta Lot, Perpres Ojol Jadi Biang Kerok

Adapun indeks dollar AS tercatat di level 98,032.

Yen Jepang juga masih menjadi perhatian pasar setelah sempat melonjak tajam dalam beberapa sesi terakhir. Kondisi itu memicu spekulasi bahwa otoritas Jepang melakukan intervensi untuk menopang mata uangnya.

Yen terakhir diperdagangkan di level 156,29 per dollar AS, relatif stabil dibandingkan sehari sebelumnya. Pada sesi sebelumnya, yen sempat menyentuh level tertinggi dalam 10 pekan di posisi 155 per dollar AS.

OCBC menilai intervensi pemerintah Jepang saja kemungkinan belum cukup untuk mengubah tren pelemahan yen dalam jangka panjang tanpa dukungan kebijakan moneter yang lebih agresif dari Bank of Japan (BOJ).

Sementara itu, investor global juga menantikan rilis data tenaga kerja Amerika Serikat pada Jumat (8/5/2026).

Berdasarkan survei Reuters, penambahan tenaga kerja non-pertanian AS diperkirakan mencapai 62.000 pada April 2026, turun dibandingkan kenaikan 178.000 pada Maret lalu.

Tag:  #bursa #asia #reli #rekor #tertinggi #harga #minyak #mulai #melandai

KOMENTAR