Skenario Terburuk Rupiah Rp 18.300, Ekonom Soroti Peran Minyak dan Arus Modal
Nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga Rp 18.300 per dollar AS tahun ini. Tekanan datang dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat risiko pelemahan dalam jangka pendek. Pada perdagangan Senin (4/5/2026), rupiah sudah menembus level psikologis baru di kisaran Rp 17.400 per dollar AS.
Josua memperkirakan, pada kuartal II 2026 rupiah bergerak di rentang Rp 17.200 hingga Rp 17.600 per dollar AS. Pergerakan ini dipengaruhi harga minyak dunia yang tinggi dan konflik Iran yang belum mereda.
"Jika Brent bertahan di atas 110 dollr AS per barrel dan arus modal asing belum pulih, rupiah bisa menguji Rp 17.800," ujar Josua kepada Kompas.com, Selasa (5/5/2026).
Baca juga: Di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Rupiah Malah Loyo ke Rp 17.400
Skenario lebih berat membuka ruang pelemahan ke Rp 18.000 hingga Rp 18.300 per dollar AS. Tekanan muncul jika harga minyak Brent yang kini di kisaran 109,87 dollar AS per barrel naik menembus 120 dollar AS per barrel.
Risiko lain berasal dari pelebaran defisit transaksi berjalan dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal.
"Namun, saya belum menjadikan level tersebut sebagai skenario dasar. Level itu baru relevan sebagai skenario tekanan ekstrem jika konflik Timur Tengah berkepanjangan, harga minyak melonjak jauh lebih tinggi, dan investor asing keluar lebih agresif," ucapnya.
Jika skenario terburuk terjadi, dampaknya meluas ke ekonomi domestik. Pelemahan rupiah dan lonjakan harga minyak berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi, inflasi, hingga menekan pertumbuhan ekonomi di bawah 5 persen.
Tekanan juga bisa memicu kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia.
Sebaliknya, jika ketegangan geopolitik mereda pada semester II 2026 dan harga minyak turun, rupiah berpeluang menguat. Nilai tukar diperkirakan kembali ke kisaran Rp 16.900 hingga Rp 17.300 per dollar AS pada akhir tahun.
"Tetapi jika perang dan tekanan minyak berlanjut, akhir tahun lebih realistis berada di sekitar Rp 17.300 sampai Rp 17.700," tambahnya.
Baca juga: Rupiah Melemah dan Gas Mahal, Industri Keramik: Ibarat Sudah Jatuh Tertimpa Tangga...
Pandangan serupa disampaikan Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong. Ia menilai ruang pelemahan rupiah masih terbuka.
Menurut Lukman, gangguan di Selat Hormuz menjadi faktor kunci. Jalur ini merupakan titik penting distribusi energi global.
"Apabila Selat Hormuz masih ditutup dah minyak mentah masih di atas 100 dollar AS, rupiah bisa mencapai Rp 18.000," ucap Lukman.
Pergerakan terbaru menunjukkan volatilitas tinggi. Pada Rabu (6/5/2026), rupiah sempat dibuka menguat ke Rp 17.383 per dollar AS atau naik 0,24 persen. Penguatan ini tidak bertahan lama dan kembali melemah ke atas Rp 17.400 per dollar AS.
Level tersebut kini menjadi batas psikologis baru yang terus diuji pasar.
Tag: #skenario #terburuk #rupiah #18300 #ekonom #soroti #peran #minyak #arus #modal