Tumbuh 5,61 Persen, Ekonomi Indonesia Dinilai Masih Bergantung Stimulus
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.(PIXABAY)
15:16
6 Mei 2026

Tumbuh 5,61 Persen, Ekonomi Indonesia Dinilai Masih Bergantung Stimulus

Perekonomian Indonesia pada kuartal I-2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025 yang sebesar 5,39 persen dan menjadi capaian kuartal pertama tertinggi sejak 2013.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku pada kuartal I-2026 mencapai Rp 6.187,2 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 3.447,7 triliun.

Baca juga: Di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Rupiah Malah Loyo ke Rp 17.400

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026. PEXELS/TOM FISK Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada awal tahun ini salah satunya ditopang oleh konsumsi masyarakat yang tetap terjaga.

“Pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 salah satunya ditopang oleh konsumsi masyarakat yang tetap terjaga,” ujar Amalia dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi nasional. Komponen ini tumbuh 5,52 persen (yoy) dan memberikan sumber pertumbuhan terbesar sebesar 2,94 persen terhadap PDB.

BPS mencatat, konsumsi rumah tangga mencakup lebih dari separuh struktur PDB Indonesia, yakni sebesar 54,36 persen.

Baca juga: Membaca Ulang Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen

Menurut Amalia, momentum hari besar keagamaan dan libur nasional seperti Nyepi dan Idul Fitri menjadi salah satu faktor yang mendorong aktivitas konsumsi masyarakat.

Ia menjelaskan, peningkatan mobilitas masyarakat pada periode tersebut berdampak langsung pada sektor transportasi, perdagangan, serta akomodasi dan makan minum.

Selain itu, konsumsi rumah tangga juga didukung berbagai stimulus pemerintah, seperti pemberian THR atau gaji ke-14, diskon tiket transportasi, serta stabilitas suku bunga.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. SHUTTERSTOCK/NUMBER1411 Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Sejumlah indikator memperlihatkan peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara tumbuh 13,14 persen secara tahunan, sementara jumlah penumpang angkutan darat meningkat 20,20 persen.

Baca juga: Konsumsi Rumah Tangga Topang Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I 2026

Aktivitas ekonomi digital juga naik, tercermin dari pertumbuhan transaksi e-retail dan marketplace serta meningkatnya transaksi uang elektronik, kartu debit, dan kartu kredit.

Belanja pemerintah dan MBG jadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026

Selain konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah juga mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 21,81 persen (yoy).

BPS menyebutkan, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah menjadi yang tumbuh paling tinggi di antara seluruh komponen pengeluaran.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menyatakan, kenaikan konsumsi pemerintah didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai melalui pembayaran gaji ke-14 atau THR dan belanja program prioritas pemerintah, terutama program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Baca juga: MBG dan Kopdes Merah Putih Diklaim Topang Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026

“Konsumsi Pemerintah tumbuh tinggi 21,81 persen (yoy) didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai melalui gaji ke-14 atau Tunjangan Hari Raya (THR) dan belanja program prioritas Pemerintah, terutama Makan Bergizi Gratis (MBG),” tulis BI dalam keterangannya.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat, realisasi belanja negara hingga kuartal I-2026 mencapai Rp 815 triliun atau 21,2 persen dari APBN. Pelaksanaan program MBG hingga Maret 2026 juga telah mencapai Rp 51 triliun.

Pemerintah menyebut berbagai stimulus dan kebijakan yang dijalankan pada awal tahun mampu menjadi bantalan terhadap gejolak global. Salah satunya melalui program diskon tarif transportasi Idul Fitri 2026 yang mendorong peningkatan jumlah penumpang.

Ilustrasi kereta api di Stasiun Purwokerto, Jawa Tengah.KOMPAS.COM/DOK PT KAI DAOP 5 PURWOKERTO Ilustrasi kereta api di Stasiun Purwokerto, Jawa Tengah.

Kemenko Perekonomian mencatat, jumlah penumpang kereta api ekonomi tumbuh 7,6 persen secara tahunan, angkutan laut naik 2,56 persen, dan angkutan penyeberangan meningkat 13,7 persen. Program tersebut didukung realisasi subsidi APBN sebesar Rp 169 miliar.

Baca juga: Investasi Sumbang 32 Persen Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026

Selain itu, pemerintah mencatat penyaluran sejumlah kredit program juga meningkat hingga kuartal I-2026.

Kredit Usaha Rakyat (KUR) tercatat sebesar Rp 96,18 triliun atau 34,41 persen dari target, Kredit Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) sebesar Rp 55,92 miliar atau 23,19 persen, Kredit Industri Padat Karya (KIPK) Rp 82,93 miliar atau 15,09 persen, serta Kredit Program Perumahan mencapai Rp 14,92 triliun atau 42,89 persen dari target.

Pemerintah soroti ketahanan ekonomi dan perbaikan sosial

Pemerintah menilai pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang tetap kuat di tengah dinamika global.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebutkan, pertumbuhan 5,61 persen itu melampaui sebagian besar negara G20 seperti China dan Korea Selatan, serta berada di atas proyeksi berbagai lembaga internasional.

Baca juga: IHSG Menguat ke 7.030, Ditopang Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sejumlah indikator ekonomi terkini juga menunjukkan prospek positif.

“Kemudian indikator ekonomi terkini juga prospeknya positif, yaitu inflasi di bulan April ini sebesar 2,42 persen, kembali dalam bentangan 2,5 plus minus 1 persen. Kemudian Indeks Keyakinan Konsumen di angka 122,9, kemudian neraca dagang juga di angka 3,32 miliar dollar AS dan ini surplus 71 bulan berturut-turut. Dari posisi credit growth, ini dana pihak ketiga juga meningkat ke 13,55 persen secara yoy, dan pertumbuhan kredit sebesar 9,49 persen secara yoy juga,” ujar Airlangga.

Selain indikator ekonomi, pemerintah juga menyoroti perkembangan indikator sosial. Kemenko Perekonomian mencatat penambahan penyerapan tenaga kerja sebanyak 1,89 juta orang sepanjang Februari 2025 hingga Februari 2026, sehingga total penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang.

Pengunjung mencari informasi tentang lowongan kerja pada Jakarta Utara Job Festival 2025 di Gedung Serbaguna Gelora Sunter, Jakarta, Selasa (14/10/2025). Suku Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Sudin Nakertransgi) Jakarta Utara menggelar bursa kerja dengan menghadirkan 38 perusahaan dari beragam sektor industri untuk memperluas akses lapangan kerja dan menekan angka pengangguran. ANTARA FOTO/Ika Maryani Pengunjung mencari informasi tentang lowongan kerja pada Jakarta Utara Job Festival 2025 di Gedung Serbaguna Gelora Sunter, Jakarta, Selasa (14/10/2025). Suku Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Sudin Nakertransgi) Jakarta Utara menggelar bursa kerja dengan menghadirkan 38 perusahaan dari beragam sektor industri untuk memperluas akses lapangan kerja dan menekan angka pengangguran.

Pada periode yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka turun dari 4,76 persen menjadi 4,68 persen. Tingkat kemiskinan juga disebut turun menjadi 8,25 persen pada September 2025, sedangkan rasio gini menurun menjadi 0,363.

Baca juga: BPS Catat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,61 Persen di Kuartal I 2026

Investasi tumbuh, efek berganda dinilai masih terbatas

Di sisi investasi, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,96 persen secara tahunan. BPS menyebutkan, pertumbuhan investasi didorong oleh investasi pemerintah dan swasta.

Bank Indonesia menambahkan, investasi terutama didorong oleh pertumbuhan subkomponen kendaraan serta mesin dan perlengkapan.

Sementara itu, ekspor barang dan jasa tumbuh 0,90 persen secara tahunan, sedangkan impor tumbuh lebih tinggi sebesar 7,18 persen.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, pertumbuhan impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor menjadi salah satu faktor yang memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Baca juga: BPS Umumkan Hari Ini, Pertumbuhan Ekonomi RI Diprediksi 5,5 Persen

“Pertumbuhan impor yang mencapai 7,18 persen secara tahunan, jauh lebih tinggi dibanding ekspor yang hanya 0,90 persen secara tahunan, menunjukkan ekspansi ekonomi saat ini juga meningkatkan kebutuhan valuta asing dan memperbesar tekanan eksternal,” kata Liza.

Menurut dia, pasar melihat lebih dari sekadar angka pertumbuhan ekonomi secara headline. Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya growth without depth, yakni pertumbuhan yang terlihat kuat secara angka tetapi belum sepenuhnya berkualitas dan berkelanjutan.

“Validasi nyata dari jargon pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan harus tercermin pada indikator riil yang berkualitas seperti kenaikan upah riil, penurunan kemiskinan dan pengangguran, serta penguatan konsumsi non-subsidi dan tabungan masyarakat bawah,” ucap Liza.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Freepik Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

Ia juga menilai, angka pertumbuhan ekonomi 5,61 persen lebih banyak ditopang stimulus fiskal dan proyek tahap awal.

Baca juga: Purbaya Sebut Pertumbuhan Ekonomi ke 8 Persen Sudah Terlihat

“Tanpa perbaikan indikator-indikator tersebut, angka 5,61 persen lebih tepat dibaca sebagai pertumbuhan berbasis stimulus fiskal dan proyek tahap awal, bukan perbaikan kesejahteraan yang merata dan berkelanjutan,” kata dia.

Lonjakan MBG dan proyek hilirisasi angkat aktivitas ekonomi

Menurut Liza, komposisi pertumbuhan ekonomi saat ini menunjukkan ketergantungan kuat pada dorongan fiskal dan program pemerintah.

Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama, tetapi lonjakan konsumsi pemerintah sebesar 21,81 persen menjadi faktor pembeda utama dibandingkan tahun sebelumnya.

“Didorong oleh percepatan belanja negara, distribusi THR, serta implementasi program prioritas dalam skala besar,” imbuh dia.

Baca juga: ADB Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Asia, Imbas Krisis Timur Tengah

Liza mengatakan, salah satu pendorong paling agresif datang dari program MBG yang secara statistik menciptakan lonjakan aktivitas ekonomi signifikan.

Dalam kurun satu tahun, skala program disebut melonjak dari 900 dapur pada kuartal I-2025 menjadi 26.066 dapur pada kuartal I-2026. Volume produksi naik dari 2,5 juta menjadi 60 juta porsi per hari.

Jumlah tenaga kerja yang terlibat juga meningkat dari 45.000 menjadi 1,3 juta orang, sementara perputaran uang harian melonjak dari Rp 37,5 miliar menjadi sekitar Rp 900 miliar per hari.

“Hal ini mencerminkan ekspansi lebih dari 2.400 persen secara tahunan. Namun demikian, dampak ekonomi dari lonjakan ini masih sangat terkonsentrasi pada rantai pasok tertentu, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan peningkatan daya beli masyarakat secara luas,” ujar Liza.

Baca juga: Hashim Sebut Internet Rakyat dan Perumahan Jadi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.THINKSTOCKS Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

Di sisi investasi, Liza menilai pertumbuhan PMTB juga ditopang proyek hilirisasi dan investasi besar seperti Danantara.

Pada kuartal I-2026, tercatat 13 proyek hilirisasi memasuki tahap groundbreaking sejak 6 Februari 2026 dengan nilai investasi sekitar 7 miliar dollar AS atau hampir Rp 120 triliun.

Namun demikian, serapan tenaga kerja langsung masih berada di kisaran 6.000 orang.

“Hal ini menunjukkan kontribusi terhadap GDP sudah mulai tercatat secara akuntansi, namun efek multiplier terhadap ekonomi riil masih berada pada tahap awal dan belum sepenuhnya terasa,” ungkap Liza.

Baca juga: Luhut: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Solid di Tengah Gejolak Dunia

Industri manufaktur tumbuh, tapi tekanan belum mereda

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat, tetapi dampaknya belum sepenuhnya dirasakan oleh pelaku usaha di tingkat riil.

Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani mengatakan, pertumbuhan 5,61 persen merupakan capaian kuartal pertama tertinggi sejak 2013 dan menjadi capaian kuartalan tertinggi dalam 14 kuartal terakhir.

“Ini menunjukkan secara headline growth ekonomi Indonesia masih cukup resilien, terutama ditopang oleh permintaan domestik,” tutur Shinta.

Namun, ia menilai transmisi pertumbuhan ekonomi ke aktivitas bisnis belum merata.

Baca juga: Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026

“Dunia usaha menghadapi situasi asymmetric impact of growth, di mana pertumbuhan tetap terjadi tetapi manfaatnya belum terdistribusi merata, sementara tekanan biaya meningkat,” kata dia.

Ilustrasi pertumbuhan ekonomishutterstock.com Ilustrasi pertumbuhan ekonomi

Menurut Shinta, pelemahan nilai tukar rupiah dari kisaran Rp 16.800 per dollar AS di awal tahun hingga sekitar Rp 17.400 per dollar AS telah meningkatkan biaya produksi, terutama bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor.

Kondisi tersebut, kata dia, menekan margin usaha dan membatasi ekspansi dunia usaha.

Di sisi lain, sektor pertambangan justru mengalami kontraksi sebesar 2,14 persen secara tahunan. Liza menyebut kondisi itu mengindikasikan adanya tekanan dari sisi produksi akibat pembatasan RKAB dan transisi kebijakan hilirisasi serta bea keluar.

Baca juga: BPD Didorong Naik Kelas, Jadi Orkestrator Pertumbuhan Ekonomi Daerah

“Hal ini memperlihatkan bahwa sektor berbasis ekspor belum berkontribusi optimal dalam menopang pertumbuhan kali ini, bahkan di kala harga komoditas sudah mulai bullish,” ucap dia.

Rupiah tertekan di tengah gejolak global

Tekanan terhadap rupiah juga terlihat di pasar keuangan. Berdasarkan pantauan Kompas.com, hingga pukul 12.17 WIB, Rabu (6/5/2026), rupiah berada di level Rp 17.406 per dollar AS atau menguat 18 poin dibanding penutupan sebelumnya.

Sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 17.424 per dollar AS saat penutupan perdagangan Selasa (5/5/2026). Pada perdagangan pagi, mata uang Garuda sempat menguat 0,24 persen ke level Rp 17.383 per dollar AS.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah.

Baca juga: Proyeksi IMF: Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat ke 3,1 Persen pada 2026

Menurut Ibrahim, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat pada awal pekan. Situasi tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.

Ilustrasi rupiah. Shutterstock/Travis182 Ilustrasi rupiah.

“Militer AS mengatakan telah menghancurkan enam kapal serang kecil Iran selama pertempuran di selat tersebut. Ketegangan meningkat lebih lanjut setelah serangan Iran menargetkan infrastruktur di Uni Emirat Arab, termasuk terminal minyak di pelabuhan Fujairah,” tutur Ibrahim.

Di sisi lain, BI menilai rupiah masih relatif tahan dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya.

Baca juga: Mengapa Kuartal I 2026 jadi Napas Pertumbuhan Ekonomi RI 2026?

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea mengatakan, pergerakan rupiah masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market.

“Pergerakan rupiah masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya,” ujar Erwin.

Pemerintah siapkan paket lanjutan jaga pertumbuhan ekonomi Indonesia

Pemerintah menyatakan akan terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 melalui sejumlah kebijakan lanjutan.

Airlangga mengatakan, kebijakan fiskal akan dioptimalkan untuk menjaga target pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4 persen sekaligus menjadi bantalan terhadap gejolak ekonomi global.

Baca juga: Menjaga Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026

“Kebijakan fiskal akan dioptimalkan untuk menjaga dan melanjutkan momentum pencapaian target pertumbuhan sepanjang 2026 sebesar 5,4 persen dan menjadi buffer gejolak ekonomi global,” ujar Airlangga.

Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah lanjutan, antara lain penyaluran gaji ke-13 ASN dengan target sekitar Rp 55 triliun, akselerasi bantuan pangan April-Juni 2026 bagi 33,2 juta keluarga penerima manfaat, serta keberlanjutan subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2026 sebesar Rp 356,8 triliun.

Selain itu, pemerintah juga mendorong revitalisasi satuan pendidikan sebesar Rp 13,4 triliun, implementasi program tiga juta rumah melalui skema FLPP dengan alokasi Rp 37,1 triliun, dukungan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya sebesar Rp 8,9 triliun, serta Kredit Program Perumahan dengan plafon Rp 34,8 triliun.

Pemerintah juga akan menerapkan mandatori B50 mulai 1 Juli 2026 dan mengakselerasi program energi baru terbarukan (EBT).

Baca juga: Purbaya Pede Pertumbuhan Ekonomi Berpotensi Akselerasi, Kuartal I Jadi Penentu

Kemenko Perekonomian juga menyebut pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi (Satgas P3M-PPE) berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2026.

Pada pertemuan perdana satgas tersebut, pemerintah menyepakati sejumlah kebijakan strategis, antara lain penurunan bea masuk impor LPG menjadi nol persen melalui skema selektif, penurunan sementara bea masuk bahan baku plastik menjadi nol persen selama enam bulan, reformasi perizinan impor, hingga peninjauan kembali penerapan SNI dengan penetapan SLA yang lebih terukur. (Penulis: Agustinus Rangga Respati, Debrinata Rizky | Editor: Erlangga Djumena, Teuku Muhammad Valdy Arief)

Tag:  #tumbuh #persen #ekonomi #indonesia #dinilai #masih #bergantung #stimulus

KOMENTAR