EBITDA Non-Batu Bara Naik Signifikan, Bagaimana Prospek Saham BUMI?
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mempercepat langkah diversifikasi bisnis di luar batu bara.
Perusahaan yang selama ini dikenal sebagai produsen batu bara tersebut mulai aktif memperluas portofolio ke sektor mineral lain, termasuk tembaga, emas, dan bauksit.
Langkah ekspansi ini mendapat respons positif dari pelaku pasar, seiring meningkatnya aktivitas akuisisi yang dilakukan perseroan sepanjang 2025 hingga awal 2026.
Baca juga: Bumi Resources (BUMI) Catat Laba Bersih Naik 36,6 Persen per Kuartal I-2026
Ilustrasi tambang.
Ekspansi BUMI ke sektor non-batu bara menjadi sorotan terutama setelah perusahaan mengakuisisi 100 persen perusahaan tambang konsentrat tembaga Wolfram pada November 2025, serta tambang emas Jubilee pada Desember 2025.
Analis Sinarmas Sekuritas, Kenny Shan, dalam laporan risetnya menilai langkah tersebut berpotensi memberikan kontribusi langsung terhadap kinerja keuangan perseroan dalam jangka pendek.
Kenny memandang aset Wolfram memiliki nilai ekonomi proyek yang kuat, didukung oleh kesiapan operasional dan prospek harga komoditas yang lebih tinggi.
“Wolfram akan menjadi kontributor laba jangka pendek dengan nilai ekonomi proyek yang jauh lebih baik, didorong oleh aset yang siap untuk diaktifkan kembali dan harga komoditas yang lebih kuat,” tulis Kenny, Selasa (5/5/2026).
Baca juga: Laba Bersih BUMI Tembus Rp 1,35 Triliun di 2025, Ditopang Efisiensi Biaya
Tambang Wolfram yang beroperasi di Australia tidak hanya menghasilkan konsentrat tembaga, tetapi juga memiliki produk sampingan berupa emas dan perak.
Tambang tersebut diproyeksikan mulai beroperasi secara komersial pada Agustus 2026 dengan target produksi konsentrat tembaga mencapai 20.000 ton per tahun.
Selain Wolfram, BUMI juga mengakuisisi Jubilee Metals pada akhir 2025. Melalui aksi korporasi ini, BUMI menguasai 65 persen saham Jubilee Metals.
Ilustrasi tambang.
Tambang emas tersebut diperkirakan mulai berproduksi secara komersial pada Agustus 2026 dengan target produksi sebesar 30.000 ons emas per tahun.
Baca juga: BUMI Targetkan Tambang Tembaga dan Emas Wolfram Beroperasi Tahun Ini
Kenny menilai Jubilee juga akan menjadi sumber kontribusi kinerja keuangan dalam jangka pendek, dengan potensi margin yang dinilai kuat.
“Jubilee juga merupakan kontributor kinerja keuangan untuk jangka pendek dengan potensi margin yang kuat, didukung oleh sumber daya bermutu tinggi dan peningkatan produksi yang jelas,” lanjutnya.
Menurut Kenny, mulai semester II 2026 akan terjadi perubahan signifikan dalam struktur laba perseroan, seiring mulai beroperasinya aset-aset mineral tersebut.
“Kami memproyeksikan adanya perubahan besar pada laba dari aset mineral mulai semester kedua tahun 2026. Hal ini didorong oleh operasional Wolfram dan Jubilee yang mulai memasuki fase produksi, sehingga menggeser bauran laba secara signifikan,” ungkapnya.
Baca juga: Harga Komoditas Naik, Bumi Resources Belum Rasakan Dampak Konflik Timur Tengah
Di luar tembaga dan emas, BUMI juga mulai masuk ke sektor logam industri melalui akuisisi 45 persen saham Laman Mining yang bergerak di tambang bauksit.
Tambang ini memiliki cadangan bauksit hingga 30 juta ton, dengan target produksi mencapai 3 juta hingga 6 juta ton per tahun. Langkah ini memperluas eksposur BUMI terhadap komoditas yang banyak digunakan dalam industri hilir, termasuk aluminium.
Ekspansi BUMI tidak berhenti di situ. Perseroan juga berencana mengakuisisi perusahaan tambang asal Australia, Loyal Metals (LLM), dengan nilai transaksi setara Rp 977 miliar.
Melalui perjanjian Scheme Implementation Deed (SID), BUMI berpeluang mengakses aset tambang tembaga dan emas milik Loyal Metals. Namun, realisasi akuisisi tersebut masih bergantung pada pemenuhan sejumlah kriteria yang telah disepakati kedua belah pihak.
Baca juga: Bumi Resources Luncurkan Logo Baru, Tandai Transformasi ke Bisnis Mineral
Ilustrasi tambang emas.
Langkah-langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi yang mulai dijalankan secara lebih terarah oleh manajemen.
Kenny menyebut, BUMI kini tidak lagi hanya berfokus sebagai penghasil batu bara, melainkan mulai bertransformasi menjadi platform pertambangan yang lebih terdiversifikasi.
“Kami yakin BUMI berada pada titik balik yang jelas, bertransisi dari perusahaan penghasil arus kas dari batubara menjadi platform pertambangan yang terdiversifikasi dengan kualitas pendapatan yang meningkat,” jelas Kenny.
Seiring dengan transformasi tersebut, kontribusi pendapatan dari sektor non-batu bara diproyeksikan meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Baca juga: Ada Aksi Jual Masif Saham Bumi Resources (BUMI), Asing Lepas Miliaran Lembar dalam 2 Pekan
Kenny memperkirakan kontribusi EBITDA non-batu bara yang sebelumnya hanya berada pada kisaran satu digit rendah akan meningkat menjadi 20 persen pada 2026, dan mencapai 40 persen pada 2027.
Bahkan, BUMI diperkirakan dapat mencapai keseimbangan kontribusi EBITDA antara kedua segmen tersebut pada 2031.
Dengan perkembangan ini, analis menilai saham BUMI memiliki potensi untuk mengalami re-rating di pasar.
Kenny Shan memberikan rekomendasi beli terhadap saham BUMI dengan target harga Rp 290 per saham.
Tag: #ebitda #batu #bara #naik #signifikan #bagaimana #prospek #saham #bumi